daftar ulama nu garis lurus
TagArchives: daftar ulama nu garis lurus. Imam al-Maturidi; Perancang Konstruksi Akidah Aswaja. Redaksi 14 November 2020 Tokoh & Referensi 726 Views. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud, yang makruf dengan sebutan Abu Mansur al-Maturidi. Dalam manuskrip kitab at-Tauhîd tertulis bahwa Abu Manshur merupakan keturunan dari
Sebagianulama besar yang sezaman dengan beliau adalah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari (w. 256 H) dan Muslim bin Hajjaj an-Naisabur (w. 261 H). Dari lain sisi, Imam Abu Zahrah berkata bahwa kelahiranya pada pertengahan abad ke-3 Hijriah, tepat setelah tragedi Mihnah. Al-Maturidi lahir pada desa Matrid, termasuk bagian dari kota Samarqand
Beredar narasi yang menyebutkan Nahdlatul Ulama ( NU) telah berganti logo. Logo terbaru NU ditambahkan simbol salib. Narasi tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama Tanue Brewok pada Senin (7/9/2020). Pada bagian bawah logo NU diberi keterangan ' NU Protestan Rahmatan Lil Alamin'. " Alhamdulillah saya masih di NU garis lurus
Dalamtubuh NU, banyak Kiai yang sering bercandaria, ada juga yang sangat serius. Sehingga ahirnya muncul kelompok-kelompok anekdot yang sangat ngemesin, seperti NU Garis Lurus, NU Garis Lucu, NU Garis Diagonal, Liberal. Namun, mereka bukanlah bagian dari organiasi NU, melainkan serpihan-serpihah masyarakat NU yang tetap ingin diakui menjadi NU.
Berikutnama-nama tokoh dibalik NU GL yang selama ini selalu memprovokasi aswaja, khususnya warga NU. KH. Luthfi Bashori. Buya Yahya. Muhammad Idrus Ramli. Jakfar Shodiq. Muhammad Lutfi Rochman Toha Luqoni. Habib Ali Hinduan. Habib Hisyam Al Habsy. Habib Habibi Haddad. Muhammad Kanzul Firdaus. Adam Bin Ridlwan. Faiz Al Amri. Toha Luqoni.
Urlaub Buchen Single Mit 2 Kindern. Nahdlatul Ulama NU adalah organisasi islam terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1926. Kontribusi NU untuk Islam dan Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, setiap tokoh yang memimpin organisasi NU dapat dipastikan masuk dalam deretan nama tokoh muslim paling berpengaruh di dunia versi Royal Islamic Strategic Studies Centre RISSC Yordania karena besarnya pengaruh NU untuk peradaban islam. Di antara bidang yang menjadi fokus organisasi NU adalah dalam dunia pendidikan. NU berperan aktif membantu negara mewujudkan masyarakat yang cerdas dan berilmu pengetahuan. Kontribusi nyata NU dalam bidang pendidikan dibuktikan dengan banyaknya pesantren, lembaga sekolah dan perguruan tinggi, baik yang berada dalam naungan organisasi NU secara penuh maupun yang memiliki irisan kedekatan dengan organisasi NU. Di antara perguruan tinggi yang berafiliasi dengan NU sebagiannya adalah berikut ini, daftar perguruan tinggi, universitas, kampus NU Universitas NU GorontaloUniversitas NU Sulawesi TenggaranUniversitas NU Samarinda KaltimUniversitas NU KalselUniversitas NU KalbarUniversitas NU SumutUniversitas NU LampungUniversitas NU SumbarUniversitas NU NTB Universitas NU MalutUniversitas NU JakartaUniversitas NU CirebonUniversitas NU PurwokertoUniversitas NU CilacapUniversitas Maarif NU KebumenUniversitas NU JogjakartaUniversitas NU SurakartaUniversitas NU JeparaUniversitas NU Sunan Giri UNUGIRI BojonegoroUniversitas NU SurabayaUniversitas NU BlitarUniversitas NU SidoarjoUniversitas Islam Nusantara BandungUnira MalangUnisma MalangUIJ JemberUnsuri SurabayaITSNU PasuruanSTAI Salahuddin PasuruanUnwahas SemarangUnsiq WonosoboSTIKES NU TubanAkbid Muslimat KudusSTKIP NU TegalSTKIP NU IndramayuITS NU PekalonganPoliteknik Posmanu PekalonganPoliteknik Maarif BanyumasIAINU KebumenSTAI NU PacitanSTAI NU PurworejoSTAI NU PurwakartaSTAI NU MalangIAI Maarif NU Metro LampungSTISNU AcehSTIESNU BengkuluSTAINU MadiunUmaha SidoarjoSTAI Almuhammad CepuSTAINU BloraUniversitas Islam Makassar STAINU TasikmalayaUNUSIA JakartaUNISDA LamonganSTAINU Al-AzharUiversitas Islam Nahdlatul Ulama UNISNU JeparaUniversitas Islam Kadiri UNISKA UNU Sumatera UtaraIAINU KebumenIAI An-Nawawi PurworejoUNUGHA CilacapSTAIQOD JemberUNHASY Tebuireng JombangSTIKAP PekalonganUNIB Situbondo STAI Darul Falah Bandung BaratUNDARIS UngaranIAI Tribakti KediriUniversitas Yudharta PasuruanSTID Sirnarasa PanjaluUNISLA LamonganSTAI Salahudin Al-AyyubiUNIPDU JombangUNWAHA JombangUNDAR JombangUniversitas Islam Madura PamekasanINAIFAS JemberUIJ JemberIAIDA BanyuwangiSTIT Sunan Giri TrenggalekSTAI Miftahul Ula Nglawak Kertosono NganjukSTAI Badrus Sholeh Purwoasri KediriSTIADA Krempyang NganjukIAI P Diponegoro NganjukSTAI NU TemanggungUnsuri PonorogoSTAI Hasanuddin PareSTAIFA Sumbersari PareInstitut Pesantren KH Abdul Chalim IKHACSTAI Hasan Jufri BaweanSTIT NU Al Hikmah MojokertoSTIS Miftahul Ulum LumajangSTIT Daru Ulum KotabaruSTIDKI NU IndramayuSTKIP Padhaku IndramayuSTAIS Dharma IndramayuSTIT Al-Amin IndramayuSTKIP Al-Amin Indramayu KAMPUS TERBAIK PASURUANKAMPUS FAVORIT PASURUANKAMPUS UNGGUL PASURUANKAMPUS TERKEREN PASURUAN Post navigation
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Untuk mengantisipasi konferensi NU ke-33 di Jombang pada tahun 2015, berbagai jenis fenomena islam radikal muncul. Yaitu, suatu kelompok yang bertindak atas nama NU Garis Lurus NUGL, yang secara radikal menentang semua kelompok yang berbeda dari diri mereka sendiri. Grup ini dipimpin oleh Lutfi Bashori Malang, Yahya al-Bahjah Cirebon, dan Idrus Ramli Jember.Dengan gaya radikal, NU Garis Lurus menjelma menjadi gerakan neo-khawarij, menuduh siapa saja yang menyimpang dari versi tafsir religiusnya, termasuk Gus Dur, M. Quraish Shihab dan Kiai Said Aqil Siradj NU moderat. Pengejekan terhadap figur NU yang moderat persis sama dengan ejekan mereka kepada sekelompok jaringan Islam liberal Ulil Abshar Abdalla, dkk.. Gaya radikalisme ini tentunya membingungkan para warga Nahdliyyin. Keberhasilan NU Garis Lurus, yang mampu memobilisasi jemaahnya, baru-baru ini terlihat jelas dalam pemilihan presiden 2019. Kelompok kecil ini mendukung pasangan Prabowo-Sandi ketika mayoritas warga Nahdliyyin mendukung Jokowi-Amin. Visi-misi NU Garis Lurus memang untuk menentang mayoritas muslimin. Untuk menyerang NU Moderat, NU Garis Lurus mengangkat isu-isu lama seperti permusuhan terhadap kaum Syiah dan Ahmadiyah. Ironisnya, NU garis lurus malah tertipu oleh Wahhabi yang secara kaku mengubah teks kitab Ar-Risalah yang dikarang Hadratus Sheikh Hasyim Asy'ari. Mbah Hasyim tidak memusuhi kelompok Syiah secara umum, tetapi secara khusus adalah Syiah Rafidha, mereka yang memusuhi para sahabat Syiah Rafidhah tidak ada di Indonesia. Namun, karena ditangkap oleh versi Wahhabi, NU Garis Lurus malah membandingkan semua Syiah tanpa bisa membedakan mana yang Rafidha dan mana syiah secara umum. Di sinilah potensi destruktif dari aliran NUGL menjadi sangat jelas. Sehingga ia tidak berbeda dengan kelompok islam radikal destruktif dari aliran NUGL sangat jelas. Dalam setiap dakwahnya, tuduhan terhadap kelompok di luar dirinya terdistorsi, dianggap salah tempat, selalu tidak benar. Tidak hanya terhadap kelompok Syiah, Ahmadiyah, bahkan tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Quraish Shihab dan Kiai Said Aqil Siradj tidak pernah bebas dari tuduhan bahwa mereka telah menyimpang. Arti konsep Aqidah Ahlus Sunah wal Jamaah dan teks-teks buku yang ditulis oleh Hadratus Sheikh Hasyim Asy'ari ditafsirkan sesuai dengan perspektif kelompok mereka NUGL tidak dapat dilihat secara terpisah dari peran yang dimainkannya, yaitu anti-tesis sekolah liberal yang diprakarsai oleh anak-anak muda NU moderat. Namun, gerakan yang terlalu kanan malah akan membuat masalah nasional dan masalah agama menjadi lebih rumit. Pada dasarnya NUGL hanya ada untuk mengacaukan dialektika internal NU. ******Puritanisme adalah gerakan konsep agama yang berjuang untuk keaslian. Pada akhir abad ke-16, Puritan ingin menyucikan doktrin Katolik Roma dari doktrin yang tidak dianggap Katolik. Di Timur Tengah terjadi pada abad ke-18, ketika Wahhabisme dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Wahhabisme ingin membebaskan Islam dari ajaran yang tidak dianggap Islam. 1 2 Lihat Hukum Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Fenomena soal ormas Islam Nahdlatul Ulama NU yang mengklaim memiliki jumlah anggota puluhan juta orang dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, ternyata tidaklah homogen. Bisa jadi ketika ada seseorang mengaku sebagai "orang NU" mesti ditanyakan terlebih dahulu, NU yang mana? NU garis lurus, garis lucu atau garis keras? Fenomena ke-NU-an di era milenial jika dipandang dari sisi kulturnya memang beragam, entah apakah masing-masing pendukungnya khidmat kepada pemimpinnya sendiri-sendiri, ataukah mereka sekadar ikut-ikutan karena memang sudah ditakdirkan memiliki garis kultur NU yang dibawa secara turun-temurun oleh orang tua mereka. Melihat berbagai fenomena "ke-NU-an" belakangan seakan menunjukkan bahwa ormas ini terus diseret-seret oleh beragam kepentingan, sehingga hampir dipastikan bahwa ormas ini justru telah kehilangan pijakannya karena memang tak ada sosok kharismatik yang mampu menjadi wujud ormas Islam tradisional, NU memang membutuhkan sosok pemersatu yang dapat diterima oleh semua pihak, karena kekuatan sebuah kelompok tradisional adalah keyakinannya yang kuat terhadap tokoh kharismatis, entah itu kiai, ulama atau habib. Menarik melihat perkembangan ormas tertua di Indonesia ini, karena memang NU sebenarnya bukanlah organisasi struktural, tetapi lebih pada nuansa solidaritas kekulturan yang terbangun sekian lama, tanpa harus mengikatkan diri atau taat pada "struktural" garis kebijakan organisasinya. Maka sangat wajar, ketika para tokoh masyarakat, semisal kiai, habib atau ustadz bisa saja merupakan tokoh sentral dalam tubuh NU, yang diikuti oleh masyarakatnya, tanpa harus menjadi bagian dari struktur NU. Itulah kenapa, kemunculan klaim atas NU yang mengidentifikasikan kelompoknya-garis lurus, garis lucu, atau garis keras-menjadi sulit terbantahkan secara kultural. Sulit untuk tidak mengatakan, bahwa ormas ini pada tataran sosio-kultural, memang tak pernah sepi dari konflik. Anehnya, masing-masing kelompok yang berkonflik tak mau melepaskan diri dari identitas ke-NU-annya, karena NU bagi mereka merupakan sebuah "kultur" yang asli lahir dari rahim Nusantara, bukanlah sebuah "ideologi impor" yang diserap dari kultur lain. Untuk menggambarkan fenomena "NU Garis Lurus" saja, tampak sekali kelompok ini merasa harus menjadi pahlawan untuk "meluruskan" NU yang sejauh ini mereka anggap "bengkok". Bagi kelompok ini, NU kultural jelas tak pernah mengimpor berbagai ideologi asing yang disebut mereka sebagai "SEPILIS" Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme yang belakangan malah menggejala di kalangan anak muda NU. Mungkin kelompok ini bagi saya, kesulitan menyandingkan idealitas Islam dan modernitas, sehingga dari pada bercampur aduk, lebih baik NU "diluruskan" lagi fenomena "NU Garis Lucu" yang mungkin merasa "gerah" dengan berbagai unggahan di ranah media sosial medsos yang selalu memojokkan NU. Kelompok ini kerap menguasai lini medsos dan mengunggah meme-meme lucu yang melakukan counter atau kritik terhadap mereka yang mengaku NU tetapi justru "menyerang" identitas ke-NU-annya sendiri. Sebuah tagline yang muncul di akun twitter-nya menyebut, "sampaikanlah kebenaran walaupun itu lucu" seakan kelompok ini enggan mendebat secara berapi-api karena hanya akan menghabiskan energi. Membalas dengan fenomena santai dan kelucuan, barangkali menjadi "simbol" para kiai NU yang kemudian "disorogkan" kepada publik. Bisa jadi kelompok ini memang selaras dengan slogan Pegadaian, "menyelesaikan masalah tanpa masalah" yang setiap unggahannya dikemas dalam nuansa simpatik, tanpa harus menunjukkan sikap penolakan atau kebencian. Barangkali yang lebih berwajah "galak" ada juga dalam tubuh NU. Kelompok ini secara kultur, memang menganut tradisi peribadatan selaras dengan NU, walaupun dalam hal pergerakan kurang mengangkat soal tema moderasi Islam. Fenomena kelompok NU "Garis Keras" saya rasa takdirnya jatuh kepada sosok Front Pembela Islam FPI yang memang sejauh ini para pemimpin dan pengikutnya terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran tradisi ke-NU-an. Sulit dipungkiri, bahwa FPI juga sejatinya disokong oleh mereka yang mengklaim sebagai "NU kultural", bahkan tempat pendeklarasian pertamanya, Pesantren Al-Umm, dipimpin oleh seorang ulama NU, KH Misbahul Anam, salah satu pengikut Tarikat Tijaniyah di kalangan NU sebagai sebuah ormas yang mewarisi tradisi keislaman Nusantara dengan ciri khasnya yang moderat-sebagaimana praktik keagamaan para wali-nampaknya sulit disematkan belakangan ini. Begitu banyaknya kelompok yang melakukan klaim atas ke-NU-annya sendiri disertai dengan beragam kepentingannya masing-masing, memperlihatkan NU semakin kehilangan arah. Banyak pihak yang menginginkan NU benar-benar menunjukkan wajah moderatismenya seperti pada masa-masa awal, disaat beberapa kiai kharismatis benar-benar mempertontonkan ketulusan, kejujuran dan khidmatnya yang sangat besar terhadap umat. Hadratussyekh Hasyim Asy'ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Ridwan memang menjadi tokoh sentral yang senantiasa memberikan kesejukan yang benar-benar menjadi panutan umat. Tentu saja, ditengah nuansa "konflik sektarianisme" belakangan, sosok-sosok ini sungguh sangat dirindukan. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
Oleh M. Alim Khoiri -Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU. Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka. Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU. Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal; Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina. Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat. Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham. Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam. M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri
Synopsis Two years after it was first introduced, the Islam Nusantara theology of Nahdlatul Ulama NU, the largest Indonesian Islamic organisation, continues to face opposition from more conservative factions. This is casting a shadow over NU’s effort to promote the middle ground and toleration in Indonesia. Commentary TWO YEARS after the idea of Islam Nusantara was first introduced as a reinterpretation of the Nahdhlatul Ulama’s basic theological tenets, it continues to face opposition from conservative factions. Backing the resistance are theological critiques from younger clerics who seek to eradicate liberal influences from the organisation, the largest in Indonesia. The rift between the factions of NU current chairman Said Aqil Siradj and former general chairman Hasyim Muzadi can be seen in the East Java strongholds of NU. The opposition by NU Garis Lurus NU True Path, consisting of influential young clerics, constitutes a serious challenge to NU’s theological frame that had been instituted by former President Abdurrahman Wahid and his followers over three decades. These popular young clerics argue that Islam Nusantara is an invention of “liberal” thinkers while there is only one universal Islam for all Muslims that does not require “localised” intepretations such as Islam Nusantara. Reinterpretation of NU theology Introduced during NU’s national congress in Jombang, East Java two years ago, Chairman Said Aqil Siradj, said Islam Nusantara is the reinterpretation of NU’s basic theological tenets, which combines classical Islamic theology aqidah, jurisprudence fiqh and localised practices, such as offering prayers to the deceased tahlilan. It emphasises the understanding that Indonesian Muslims do not necessarily have to forgo their national and local identities. Instead, these values can coexist with their Islamic identities and together, they can lead one to be a devout Muslim and an Indonesian nationalist at the same time. This reinvention of NU theology has two purposes. Firstly, it is to respond to radical interpretation of Islam such as those expressed by the self-proclaimed Islamic State IS, which has gained attraction among some young Muslims worldwide, including those living in Indonesia. Secondly, it is to distinguish NU theology from more conservative organisations such as Hizbut Tahrir Indonesia HTI and other similar groups. NU leaders believe these groups are actively seeking new supporters from the ranks of NU followers, mainly those under 30. Critiques of Islam Nusantara Idea NU has held multiple seminars and conferences promoting Islam Nusantara for Indonesian as well as international audiences. It held two international conferences of Islamic scholars in November 2015 and May 2016. Its Research and Human Resources Development Institute Lakpesdam, and affiliated NU faculty at the State Islamic Universities UIN system, have regularly sponsored workshops on Islam Nusantara in numerous localities throughout Indonesia. However, despite these numerous activities, opposition against Islam Nusantara remains strong, not just from outside of the organisation, but also from numerous clerics and activists among NU’s followers. Some of this opposition can be attributed to factional rivalries within NU, especially between current chairman Said Aqil and the previous chairman Hasyim Muzadi. The previous chairman unsuccessfully challenged Said Aqil’s re-election bid as NU chairman during the 2015 muktamar. The failed attempt created a feud between the two factions that has not been fully resolved to this day. The rift can be seen clearly in East Java province, which historically is one of NU’s most important strongholds. As Hasyim Muzadi was the head of the organisation’s East Java branch before he was elected NU chairman in 2000, he commands significant following from senior clerics kyai and activists from the province. These clerics in turn order their boarding schools pesantren and students santri to oppose Islam Nusantara to reject Said Aqil’s legitimacy as NU chairman. Influential NU pesantrens such as Lirboyo in Jombang district and Sidogiri in Pasuruan district have announced their rejection of Islam Nusantara, causing a blow to Said Aqil’s effort to promote the theology among NU followers living in East Java. Rise of NU Garis Lurus Critiques of the idea of Islam Nusantara also come from the theological ground. A group of young NU kyai have formed a new organisation called the True Path NU’ NU Garis Lurus in 2015. Kyai Muhammad Idrus Ramli, the organisation’s founder and chairman, states that it wishes to eradicate liberal’ theological influence from the NU, as he argues that they have corrupted the organisation’s original aim as an Islamic organisation adhering to Sunni principles Ahlus Sunnah wal Jamaah. These liberal’ influences are not just limited to the ideas articulated by progressive NU activists such as Ulil Abshar Abdalla, but also those articulated by the late Abdurrahman Wahid, NU’s long-time chairman 1984-1999 and Indonesia’s fourth president 1999-2001. Wahid successfully led NU to embrace values such as democracy and religious tolerance; NU Garis Lurus serves as the most serious challenge towards NU’s theological frame that Wahid and his successors have instituted within the organisation over the past three decades. A number of young NU clerics with significant popular following have affiliated themselves with NU Garis Lurus. This includes Buya Yahya, a charismatic preacher who is widely considered to be a future leader of the NU. He has become a strong critic of Islam Nusantara, arguing that it is invented by liberal’ thinkers such as Ulil Abshar Abdalla and Azyumardi Azra. Buya Yahya believes that there is only one universal Islam for all Muslims and thus, there is no need for localised’ Islamic interpretations, whether they are Islam Nusantara, Middle Eastern Islam, or others. NU Garis Lurus activists are also known for their close alliance with activists from conservative Islamist groups, including Islamic Defenders Front FPI and Indonesian Mujahidin Council MMI, bypassing the theological divide that sharply distinguishes NU from these groups. Its activists participated in the 4 November and 2 December 2016 rallies in Jakarta, calling for the trial of the city’s governor Basuki Tjahaja Purnama for allegedly committing a blasphemous act against Islam. NU Garis Lurus Not To Be Ignored The NU leadership tends to dismiss NU Garis Lurus as a fringe group that does not represent the organisation and does not attract many followers. However, it would be a mistake for them to continue dismissing it, given its prominent role during the Jakarta rallies and given that propagation dakwah seminars organised by its affiliated ulama have attracted tens of thousands followers throughout Indonesia. NU already faces criticisms for losing its moral authority in the aftermath of the 4 November and 2 December rallies. It should pay more attention to the challenge from NU Garis Lurus and its activists, as the group could one day change its outlook and worldview. If this happens, NU would be a completely different organisation from the one that is widely-known today. About the Author Alexander R Arifianto PhD is a Research Fellow with the Indonesia Programme, S. Rajaratnam School of International Studies RSIS, Nanyang Technological University, Singapore. This is part of a series.
daftar ulama nu garis lurus