daftar satelit c band 2018
Home» Satelit » Daftar Satelit Yang Menyiarkan Piala Dunia 2018 Minggu, 01 Juli 2018 Daftar Satelit Yang Menyiarkan Piala Dunia 2018 Diposting oleh Andri Riyanto di 00.29 (C Band) Mpeg4/Sd/Biss Sid: 0101/0065 untuk Fiji TV 01 Sid: 0102/0066 untuk Sat 02
SatelitINTELSAT 19 berada pada posisi 166.0°E, kalau dari Indonesia arah satelit INTELSAT 19 berada di timur, satelit INTELSAT 19 sangat mudah sekalidi lock, bahkan dengan menggunakan dish mini, namun dish mini yang digunakan harus minimal berukuran 100 cm, untuk para tracker satelit menyarankan menggunakan dish mini bekas PAY TV Telkomvision yang berukuran 100cm, dan LNB yang digunakan
DaftarSatelit C Band FTA - Salah satu proses penting dalam pemasangan parabola untuk mendapatkan channel sesuai keinginan yaitu tracking satelit. Tracking satelit sendiri adalah proses pencarian sinyal dengan cara mengarahkan dish parabola ke arah orbit dari satelit yang dituju. Jika arah dish parabola sudah tepat mengarah ke satelit yang dituju, barulah saluran televisi yang []
Tuesday November 13, 2018 Daftar tracking Ku Band Satelit Beam Indonesia dengan Parabola mini. Siaran satelit
Transvision(sebelumnya dikenal sebagai TelkomVision dan YesTV) adalah perusahaan Trans Corp yang bergerak di bidang layanan televisi berlangganan dengan kantor pusat yang berada di Jakarta, Indonesia. Transvision menyiarkan siarannya lewat satelit MEASAT 3B (C-Band) dan (KU-Band). Mulai 2016 Transvision sepenuhnya bersiaran menggunakan satelit baru Measat 3B.
Urlaub Buchen Single Mit 2 Kindern. Beam Coverage Satellite Telkom 4 Footprint Satellite Telkom 4 C Band Satelit Telkom 4 atau satelit Merah Putih merupakan satelit pengganti sebelumnya yaitu satelit Telkom 1 yang telah habis masa operasinya, Satelit Telkom 4 adalah satelit komunikasi geostasioner milik Indonesia yang dioperasikan oleh PT. Telekomunikasi/Telkom Indonesia dan dibangun oleh Space Systems Loral SSL didasarkan pada bus satelit SSL-1300, proyek peluncuran satelit Telkom 4 ini hanya menghabiskan US$ 165 juta dibandingkan dengan peluncuran satelit Telkom 3s sebelumnya yang menghabiskan anggaran dana sebesar US$ 215 juta. Satelit Telkom 4 berhasil diluncurkan ke ruang angkasa dengan titik orbit derajat bujur timur pada tanggal 7 Agustus 2018 dari pusat peluncuran satelit di Cape Canaveral Air Force Station, Orlando, Florida, Amerika Serikat, sekaligus menjadi satelit pertama yang menggunakan roket pembawa Falcon 9 milik SpaceX membawa sekitar 60 transponder C band guna memenuhi kebutuhan layanan telekomunikasi satelit untuk wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan yang terdiri dari 36 transponder untuk penggunaan layanan telekomunikasi domestik di Indonesia sedangkan 24 transponder lainnya untuk disewakan dan dipasarkan ke India, berikut daftar frekuensi channel yang berada di satelit Telkom 4 dengan jangkauan sinyal beam sesuai gambar footprint diatas. Telkom 4 Telkom 4 C Band Frequency SR - FEC Provider Name Channel Name Encryption SID-VPID APID 3850 H 6000 3/4 Indonesia ANTV DVB-S MPEG-2/SD 1 - 259 ?-? 258 Ind 3855 H 6000 3/4 Indonesia Trans 7 feeds DVB-S2 3875 H 6000 3/4 Indonesia Trans 7 DVB-S MPEG-2/SD 1 - 512 ?-? 256 Ind 3880 H 2250 3/4 - 8PSK Indonesia CNN Indonesia DVB-S2 MPEG-4/HD 1 - 35 ?-? 36 Ind 3890 H 6000 3/4 Indonesia Trans TV DVB-S MPEG-2/SD 1 - 33 ?-? 36 Ind Telkom 4 C Band Telkom 4 C Band Frequency SR - FEC Provider Name Channel Name Encryption SID-VPID APID 3897 H 3000 3/4 Indonesia MTA TV DVB-S MPEG-2/SD 1 - 512 ?-? 4112 Ind MTA FM 2 4114 Ind 3933 H 3000 3/4 Indonesia DVB-S Jek TV MPEG-2/SD 2 54 55 Ind TVRI Jambi MPEG-2/SD 3 34 33 Ind 3967 H 3906 3/4 Indonesia TVRI Papua DVB-S MPEG-2/SD 1 - 33 ?-? 34 Ind 3971 H 3000 3/4 Indonesia Temanggung TV DVB-S MPEG-2/SD 2 - 512 ?-? 34 Ind 3975 H 1700 3/4 Indonesia Hope Channel Indonesia DVB-S MPEG-2/SD 1 - 308 ?-? 256 Ind Telkom 4 C Band About Admin Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore et dolore magna aliquyam erat.
Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PROtek Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Volume 7. No 1, Mei 2020 16 Analisis perbandingan komunikasi satelit Frekuensi C-Band Dan KA-Band Di Indonesia Tanridio Silviati Delfina Abdurrahman Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMI Makassar, Indonesia tanridio Salmiah Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMI Makassar, Indonesia mia_elektro Saidah Suyuti Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMI Makassar, Indonesia saidah Abstract - This paper analyzes the comparison of data communications using GEO satellites between C-band and Ka-band frequencies in Indonesia which has a tropical rain climate. The data communication uses QPSK modulation on the path of four earth stations by paying attention to six variations of observation time. Parameters, C/ N, Eb/No and link margins, are applied to indicate the communication performance. This study shows that C-band satellite communication can be implemented for all conditions, whereas in Ka-band the success of communication transfer cannot be accessed by all observation times. Keywords frequency, satellite, earth station, margin, availability, modulation. I. PENDAHULUAN Komunikasi di era milenial menuntut pertukaran informasi real time dengan kecepatan akses yang tinggi termasuk di Indonesia. Indonesia adalah negara tropis dengan tingkat curah hujan tinggi yang juga merupakan negara maritim membutuhkan satelit untuk pertukaran informasi secara cepat. Satelit komersil yang bekerja dipita frekuensi C-band sudah sejak awal melayani jalur komunikasi di Indonesia. Saat ini, banyak negara-negara asing berlomba-lomba meluncurkan satelit Ka-band. Sayangnya, curah hujan yang tinggi menjadi kendala penerapan satelit Ka-band tersebut sehingga diperlukan berbagai persyaratan dalam merancang komunikasi data menggunakan satelit Ka-band [1]. Pelayanan dan performansi komunikasi satelit sangat tergantung erat dengan faktor-faktor jumlah redaman-redaman yang muncul sepanjang jalur komunikasi lintasan stasiun bumi–satelit–stasiun bumi, besar daya pancar dan penguatan antena, serta pemilihan teknik modulasi. Oleh karena itu paper ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan komunikasi satelit berfrekuensi C-band dan Ka-band di empat wilayah Indonesia dengan mengetahui nilai-nilai C/N, Eb/No, margin dan availability jalur komunikasi menggunakan modulasi [2]. Penelitian ini menempatkan satelit GEO berfrekuensi C-band dan Ka-band dengan satu stasiun bumi Hub Jakarta dan tiga stasiun bumi lainnya Medan, Surabaya dan Makassar dengan menggunakan teknik modulasi digital QPSK. Orbit satelit terletak di 108°BT dengan pita frekuensi C dan Ka. Satelit tersebut untuk frekuensi C mempunyai EIRP 55,6 dBW dan figure of merit 22,7 dBK, sedangkan frekuensi yang lainnya menggunakan EIRP 73,1 dBw dan G/T 19,7 dB/K. Sementara itu, stasiun-stasiun bumi yang ada masing-masing berspesifikasi sesuai tabel di bawah ini Tabel 1. EIRP dan G/T stasiun bumi Spesifikasi teknis satelit dan stasiun bumi merujuk pada satelit INTELSAT dan proyek WINDS. Jalur komunikasi C-band dan Ka-band secara berturut-turut bekerja pada frekuensi uplink 6 GHz dan 28 GHz serta frekuensi downlink 4 GHz dan 18GHz [3]. II. REDAMAN JALUR KOMUNIKASI Redaman-redaman yang muncul pada lintasan komunikasi satelit terdiri atas free space loss FSL, redaman hujan, redaman awan, redaman gas-gas atmosfir dan scintillation dilapisan troposfer[3]. a. Redaman Ruang Bebas FSL Redaman ruang bebas merupakan redaman yang dipengaruhi oleh frekuensi kerja dan jarak antara stasiun bumi – satelit. Besar redaman FSL dinyatakan dengan menggunakan persamaan [4] Frekuensi menyumbang redaman terbesar pada FSL ini. Komunikasi satelit yang menggunakan pita frekuensi Ka mengalami redaman lebih besar 13 dB dibandingkan frekuensi C-band [2]. Redaman FSL komunikasi satelit C-band dan Ka-band untuk komunikasi keempat stasiun bumi ke satelit terlihat seperti pada tabel 2. Analisis perbandingan komunikasi satelit Frekuensi C-Band Dan KA-Band Di Indonesia 17 Tabel 2. Redaman ruang bebas b. Redaman Hujan Redaman hujan juga menjadi perhatian dalam komunikasi satelit ini karena terjadi pelemahan sinyal yang signifikan. Para peneliti terdahulu telah melakukan banyak kajian tentang redaman hujan yang memberikan beberapa metode untuk memprediksinya [5] [6]. Rekomendasi ITU-R dijadikan landasan perhitungan redaman hujan pada penelitian ini. Redaman-redaman hujan untuk kedua komunikasi satelit berbeda frekuensi dapat dilihat pada tabel 3 dan tabel 4 berikut ini. Tabel 3. Redaman hujan komunikasi satelit C-band Tabel 4. Redaman hujan komunikasi satelit Ka-band c. Redaman Lainnya Redaman-redaman lainnya berupa redaman yang timbul karena faktor pekatnya awan, gas-gas yang ada dilapisan atmosfer dan scintillation yang terdapat di troposfer. Redaman awan diperoleh dengan mengikuti rekomendasi ITU-R P. 860-6. Sementara itu, besaran redaman atmosfer sebagian besar timbul karena redaman gas oksigen dan uap air yang diperoleh dengan mengikuti rekomendasi-rekomendasi ITU-R P. 835-5 dan ITU-R P. 676-7. Gabungan rekomendasi-rekomendasi ITU-R P. 835-5, ITU-R 453 dan ITU R P. 618-12 menjadi rujukan untuk mengetahui redaman scintillation. Redaman-redaman ini dapat dilihat pada kedua tabel berikut ini. Tabel 5 Gabungan redaman awan, atmosfer dan scintillation untuk komunikasi satelit C-band Tabel 6 Gabungan redaman awan, atmosfer dan scintillation untuk komunikasi satelit Ka-band III. LINK BUDGET Parameter-parameter EIRP, frekuensi kerja, redaman-redaman, figure of merit dan konstanta Boltzman dibutuhkan untuk menilai link budget C/No jalur komunikasi dari stasiun bumi ke satelit dan dari satelit ke stasiun bumi. Serangkaian publikasi unutk menganalisis performansi link budget pada komunikasi satelit telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu [7], [8] [9]. Persamaan-persamaan berikut ini digunakan untuk mengetahui besarnya link budget pada komunikasi satelit. 111douototoNCNCNCdan BWNCNColog10Tabel-tabel 7, 8, 9 dan 10 menampilkan nilai link budget untuk arah uplink dan downlink dan total dari komunikasi satelit berpita frekuensi C dan Ka. 0kTGredamanFSLEIRPNCSatuSBu0kTGredamanFSLEIRPNCSBdSatd Analisis perbandingan komunikasi satelit Frekuensi C-Band Dan KA-Band Di Indonesia 18 Tabel 7. Link budget untuk uplink dan downlink komunikasi C-band Tabel 8. Link budget untuk uplink dan downlink komunikasi Ka-band Tabel 9. C/No total untuk komunikasi C-band Tabel 10. C/No total untuk komunikasi Ka-band IV. HASIL ANALISIS Analisis performansi lintasan komunikasi satelit bergantung pada beberapa parameter antara lain Eb/No dan margin rute komunikasi. Variabel-variabel tersebut sangat erat kaitannya dengan teknik modulasi yang dipergunakan. Untuk mengetahui nilai Eb/No diperoleh dengan menggunakan persamaan-persamaan di bawah ini dan Jumlah bit n untuk modulasi-modulasi QPSK adalah 2. Nilai Eb/No berdasarkan modulasi QPSK untuk kedua sistem komunikasi satelit berfrekuensi C dan Ka diperlihatkan oleh tabel-tabel berikut ini. Tabel 11. Eb/No QPSK untuk C-band Besaran nilai Eb/No bermodulasi QPSK pada komunikasi satelit berfrekuensi C-band memperlihatkan semua lintasan availability di atas Eb/No yang diinginkan yaitu 12 dB. Sedangkan komunikasi bersatelit Ka-band tidak demikian. Tabel 12. Eb/No QPSK untuk Ka-band Selanjutnya, nilai margin pada jalur komunikasi dapat diketahui dengan menggunakan persamaan-persamaan berikut ini requiredotalMargin NCNCtdengan 5835,73total0otalNCNCtsedangkan C/Nrequierd diklasifikasikan berdasarkan teknik modulasi digitalnya. Tabel 13. Margin lintasan QPSK frekuensi C-band Analisis perbandingan komunikasi satelit Frekuensi C-Band Dan KA-Band Di Indonesia 19 Lintasan margin untuk sistem komunikasi satelit yang bekerja pada frekuensi C-band dengan mengimplementasikan QPSK, 8PSK, dan 16QAM dapat diterapkan pada keenam availability 99,1%, 99,2%, 99,3%, 99,4%, 99,5%, dan 99,99%. Terlihat bahwa semua kemungkinan komunikasi menggunakan frekuensi ini memberikan margin yang sangat baik di atas 26 dB. Sementara itu, komunikasi satelit menggunakan pita frekuensi Ka tidak semua jalur komunikasinya memiliki margin. Margin untuk lintasan yang aman berkomunikasi pada sistem komunikasi ini adalah informasi yang melalui stasiun Hub Jakarta. Margin tersebut berada di atas 16 dB untuk pengamatan selain dari 0,01%. Tabel 14. Margin lintasan QPSK frekuensi Ka-band IV. KESIMPULAN Komunikasi satelit C-band untuk ketiga teknik modulasi terbukti handal dalam melayani komunikasi di keempat wilayah Indonesia yaitu Jakarta, Medan, Surabaya dan Makassar untuk semua waktu pengamatan. Sementara itu, komunikasi satelit Ka-band tetap aman diterapkan di wilayah-wiayah tersebut untuk komunikasi yang melalui stasiun Hub Jakarta pada availability 99,1% - 99,5%. Pengembangan penelitian ini dapat dilakukan dengan meninjau penempatan satelit di orbit tertentu dan persen waktu pengamatan yang lainnya serta memperhatikan diversitas stasiun bumi berjarak tertentu pada suatu wilayah untuk mengantisipasi curah hujan tinggi. DAFTAR PUSTAKA [1] A. A. Atayero, “Satellite link design A tutorial,” Int. J. Electr. Comput. Sci. IJECS-IJENS, vol. 11, no. 4, 2011. [2] Z. B. Hasanuddin, “Design of Ka-band Satellite Links in Indonesia,” J. Electr. Comput. Energ. Electron. Commun. Eng., vol. 8, no. 8, 2014. [3] M. M. J. L. van de Kamp, J. K. Tervonen, E. T. Salonen, and J. P. V. P. Baptista, “Improved models for long-term prediction of tropospheric scintillation on slant paths,” IEEE Trans. Antennas Propag., vol. 47, no. 2, pp. 249–260, 1999. [4] R. L. Freeman, Radio system design for telecommunications, vol. 98. John Wiley & Sons, 2006. [5] J. S. Ojo, M. O. Ajewole, and S. K. Sarkar, “Rain rate and rain attenuation prediction for satellite communication in Ku and Ka bands over Nigeria.,” Prog. Electromagn. Res., vol. 5, pp. 207–223, 2008. [6] J. Christensen, “Itu regulations for ka-band satellite networks,” in 30th AIAA International Communications Satellite System Conference ICSSC, 2012, p. 15179. [7] A. K. Kundu, M. T. H. Khan, W. Sharmin, M. O. Goni, and K. A. Barket, “Designing a mobile satellite communication Antenna and Link Budget Optimization,” in 2013 International Conference on Electrical Information and Communication Technology EICT, 2014, pp. 1–6. [8] Y. Tepetam, “Analysis of Turkish communications sector and determination of critical success factors,” NAVAL POSTGRADUATE SCHOOL MONTEREY CA, 2014. [9] P. Series, “Propagation data and prediction methods required for the design of Earth-space telecommunication systems,” Recomm. ITU-R, pp. 612–618, 2015. Copyright 2016 PROtek Jurnal Ilmiah Teknik Elektro lisensi Creative Commons Attribution International License ... Sedangkan pada frekuensi tinggi di atas 24 GHz contoh mmWave akan menyediakan kapastias sangat besar dengan latency sangat rendah, tetapi cakupan areanya sempit, sehingga sangat cocok untuk wilayah dengan trafik yang sangat padat, menuntut kapasitas yang sangat tinggi atau area khusus [28]. Spektrum-spektrum yang berbeda tersebut akan memberikan layanan berkecepatan yang tinggi dan berkapasitas yang besar menggunakan jaringan heterogen beserta konektivitas beragam pula dengan tetap menjamin QoS di sisi pengguna [4], [30]. Jaringan heterogen tersebut akan memacu evolusi infrastruktur dimana teknologi 5G akan mengandalkan small cells karena spektrum yang dipergunakan mmWave dan koneksi D2D [18]. ...... Letak geografis Indonesia termasuk Sulawesi Selatan berada di wilayah tropis dengan curah hujan memang sangat handal jika menggunakan frekuensi C-band untuk jalur komunikasi satelit. Tetapi komunikasi satelit masih tetap bisa dipergunakan menggunakan frekuensi komersial lainnya, frekuensi Ku-band [29] dan Ka-band [30]. Oleh karena itu, komunikasi satelit dapat mendukung 5G dengan pemilihan frekuensi yang tepat. ...Muhammad Anas MasaTanridio Silviati Delfina Abdurrahman Abdullah BasalamahAhmad AfdhalTeknologi jaringan Generasi ke-5 5G menjadi fenomena yang baru di Sulawesi Selatan dimana akan terjadinya migrasi teknologi jaringan Generasi ke-4 4G ke 5G. Menyusul semakin meningkatnya penetrasi pengguna internet, maka wajar jika teknologi 5G perlu segera diterapkan. Penelitian ini menggunakan metode observasi berupa studi literature dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode Strength-Weakness-Opportunities-Threat SWOT. Hasil analisis migrasi 4G ke 5G berdasarkan perubahan arsitekturnya adalah Serving Gateway SGW, Mobility Management Entity MME, Access and Mobility Management Function AMF, Evolved-Universal Terresterial Radio Access Network E-UTRAN, dan Next Generation-Radio Access Network NG-RAN. Standar pengimplementasian teknologi jaringan 5G berdasarkan rekomendasi International Telecommunication Union ITU melalui program International Mobile Telecommunication IMT-2020. Pada kurun waktu 2018 sampai 2021, jumlah pengguna internet di Sulawesi Selatan meningkat sebesar 67,6%. Sementara itu selang waktu tiga tahun jumlah desa/kelurahan yang dapat dilayani Base Transceiver Station BTS berteknologi 4G bertambah 335 wilayah. Hal tersebut menjadi salah satu peluang yang dimiliki Sulawesi Selatan untuk mengimplementasikan jaringan 5G. Ditambah lagi infrastruktur yang cukup baik menjadi salah satu kekuatan karena tersedianya 94% BTS 4G dari keseluruhan BTS di tahun 2021. Hanya saja perlu memaksimalkan teknologi Device to Device D2D. 5th Generation 5G network technology is a new phenomenon in South Sulawesi where there will be 4G to 5G technology migration. Following the increasing penetration of internet users, the technology needs to be implemented immediately. This study used observation method in the form of literature studies and interviews. The obtained data were analyzed using Strength-Weakness-Opportunity-Threat SWOT method. The analysis results of 4G to 5G migration based on architecture evolution are Serving Gateway SGW, Mobility Management Entity MME, Access and Mobility Management Function AMF, Evolved-Universal Terresterial Radio Access Network E-UTRAN, and Next Generation-Radio Access Network NG-RAN. The standards required for the 5G network technology implementation are based on the recommendation of International Telecommunication Union ITU through International Mobile Telecommunication IMT-2020 program. During 2018 to 2021, the number of internet users in South Sulawesi increased by 67,6%. Meanwhile, the number of villages/wards served by BTS with 4G technology expanded by 335 area for three years. This is one of the opportunities for South Sulawesi implementing 5G network. Futhermore, sufficiently good infrastructure is as one of the strengths due to the availability of 94% of 4G BTS from all BTS in 2021. However, it needs to maximize Device to Device D2D rate and rain attenuation predictions are one of the vital steps to be considered when analyzing a microwave satellite communication links at the Ku and Ka bands. In this paper, tools for the prediction of rain rate and rain attenuation are presented in the form of contour maps for Nigeria using a massive rainfall data bank of 30 years which are taken from measurements made from the coast to the arid region of Nigeria. Rain-rate maps for the country of Nigeria were developed using the models purposely designed for tropical zones while ITU-R models were used for the rain-attenuation maps. The information from these maps will be a good preliminary design tools for both terrestrial and earth-satellite microwave links and also provide a broad idea of rain attenuation for microwave engineersThe communication link between a satellite and the Earth Station ES is exposed to a lot of impairments such as noise, rain and atmospheric attenuations. It is also prone to loss such as those resulting from antenna misalignment and polarization. It is therefore crucial to design for all possible attenuation scenarios before the satellite is deployed. This paper presents the rudiments of a satellite link design in a tutorial form with numerical prediction models for tropospheric scintillation on Earth-satellite paths from Karasawa, Yamada, and Allnutt 1988 and the ITU-R are compared with measurement results from satellite links in Europe, the United States, and Japan at frequencies from 7 to 30 GHz and elevation angles of 3 to 33°. The existing prediction models relate the long-term average scintillation intensity to the wet term of refractivity at ground level. The comparison shows that the seasonal variation of scintillation intensity is well predicted by this relation, but for the annual average some additional meteorological information is needed. A much better agreement with measurement results is found when a parameter representing the average water content of heavy clouds is incorporated. This confirms the assumption that scintillation is, at least partly, associated with turbulence inside clouds. The asymmetry between the distributions of signal fade and enhancement can also be explained by turbulence inside clouds. The asymmetry depends on the intensity of the scintillation, which is consistent with the theory assuming a thin layer of cloudy turbulence. A new model based on this theory predicts the distributions of signal fade and enhancement significantly betterWith the rapid growth of modern mobile satellite communication technology, the development of very small size, low-cost, low-profile, high gain and high directivity antennas is a must. The design of a mobile satellite communication antenna named as Parabolic Helix and link budget optimization of the proposed antenna system are illustrated in this paper. The proposed antenna has a gain of directivity of return loss value of Voltage Standing Wave Ratio VSWR of bandwidth of antenna efficiency of and 3dB angular beamwidth the Half Power Beamwidth HPBW of The resonant frequency of the antenna array is GHz. The proposed antenna system can be used for C-band applications like satellite communications transmissions, Wi-Fi, cordless telephones, weather radar systems and other wireless systems. The antenna system is designed and simulated in the CST Microwave Studio. Link budgets are performed in order to analyze the critical factors in the transmission chain and to optimize the performance characteristics, such as transmission power, system noise temperature, figure of merit and so on. The link budget determines what size antenna i s to use, power requirements and in general, the overall customer satisfaction. This paper deals with the rudiments of a satellite link design with some simulation ChristensenThis paper gives an overview of the ITU regulations that apply to Ka-band satellite networks that operate in the geostationary satellite orbit GSO or a non-geostationary satellite orbit non-GSO. In the last 5 years many satellite operators have launched or are planning to launch so-called High Throughput Satellites HTS operating in the Ka-band. Characteristics and examples of HTS will be given. Most HTS typically file for GHz bandwidth in the following Ka-bands – 31 GHz uplink – GHz downlink These bands are subject to several regulatory provisions which restrict the bandwidth available. Using a simplified view of the Ka-band portion of the Table of Frequency Allocations the paper will explain the ITU regulations as they apply in each of the cases • Bands identified for High-Density FSS HDFSS • Bands used by many administrations for FS including LMDS • Bands where GSO and non-GSO satellite networks have equal rights • Bands where equivalent pfd epfd applies • Military bands Some WRC-12 results are also reviewed including new BSS Ka-band allocations in the downlink band – 22 GHz, clarification of the concept of “bringing into use” and what the Radio Regulations Board considers to be “reliable” information in case of a of Ka-band Satellite Links in IndonesiaZ B HasanuddinZ. B. Hasanuddin, "Design of Ka-band Satellite Links in Indonesia," J. Electr. Comput. Energ. Electron. Commun. Eng., vol. 8, no. 8, 2014.
daftar satelit c band 2018