dampak penggunaan hp terhadap interaksi sosial masyarakat indonesia

PenggunaanHandphone Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Arfan Suryadi1, Galuh Alif Ranchman2, Ressa Putri Amelia3, Tiara Citra Rahayu4 Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Nusantara Bandung A R T I C L E I N F O ABSTRACT Article history: Received Oct 22, 2021 Revised Nov 11, 2021 Accepted Nov 28, 2021 PengaruhPenggunaan Bahasa Sunda Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Pada Masyarakat Kampung Balandongan etnik maupun segi bahasa. Anggota masyarakat sanggup hidup bersosial dan berinteraksi satu sama lain dalam wadah yaitu masyarakat.” Interaksi sosial tidak terlepas dari peran bahasa. Bahasa merupakan pemersatu bangsa, Beberapacontoh dampak positif dan negatif dari web atau internet yaitu: Dampak positif. 1. Mempermudah untuk berinteraksi dengan orang lain yang berada di lokasi yang jauh. 2. Informasi dapat dengan mudah dan cepat untuk diberikan atau didapatkan. 3. Merupakan sarana aktualisasi dan eksistensi diri. 4. Adanyapengaruh-pengaruh yang terjadi pada Politik dan Ekonomi berimbas pula terhadap Sosial Budaya negara-negara pengusung globalisasi. Proses tersebut biasa dikenal dengan 'global pop culture DampakNegatif Phubbing Dalam Kehidupan Sosial – RSUP dr. SOERADJI TIRTONEGORO. Posted by Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran at Juni 25, 2021 12:23 pm Informasi Kesehatan, Tips dan Trik Kesehatan. Tim Promkes RSST – Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman yang semakin modern, cara berkomunikasi Urlaub Buchen Single Mit 2 Kindern. PENGARUH PENGGUNAAN PONSEL PADA REMAJA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL REMAJA Kasus SMUN 68, Salemba Jakarta Pusat, DKI Jakarta Oleh INA ASTARI UTAMININGSIH A 14202036 PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 RINGKASAN INA ASTARI UTAMININGSIH. Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja. Di bawah bimbingan NURMALA K. PANDJAITAN. Seiring arus globalisasi dengan tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang cepat membuat peranan teknologi komunikasi menjadi sangat penting. Teknologi komunikasi dalam wujud ponsel merupakan fenomena yang paling unik dan menarik dalam penggunaannya. Tetapi dari sekian kelebihan yang telah ditawarkan dari suatu ponsel, juga terdapat banyak dampak negatif bermunculan. Bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbal balik. Menurut Budyatna 2005 munculnya penggunaan ponsel dapat mempengaruhi proses yang bersifat transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun pada interaksi tatap muka. Pengguna ponsel terbesar merupakan kelompok remaja perkotaan terutama pada pulau Jawa. Dengan begitu permasalahan yang muncul dalam penelitian ini yaitu mengenai penggunaan ponsel dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana pengaruhnya terhadap interaksi yang ada, dalam hal ini antara remaja dengan lingkungan sosial mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat penggunaan ponsel pada remaja saat ini, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel pada remaja serta menganalisis pengaruh tingkat penggunaan ponsel terhadap interaksi sosial remaja. Penelitian ini menitikberatkan pada tiga kajian studi, yaitu media teknologi komunikasi ponsel, interaksi sosial dan mengenai remaja itu sendiri. Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Umum Negeri SMUN 68 Salemba, Jakarta Pusat, DKI Jakarta dan pada waktu April sampai dengan Juli 2006. Pengambilan sampel penelitian ditentukan dengan sengaja purposive secara accidental sampling. Populasi dibagi dalam kelas-kelas SMUN 68 kelas X, XI, XII dan masing-masing sejumlah 16 orang 8 laki-laki dan 8 perempuan. Jumlah sampel secara keseluruhan sebanyak 48 orang. Penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian atau studi pendahuluan, sehingga tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasikan secara meluas dan membutuhkan penelitian-penelitian berikutnya untuk mengkaji lebih lanjut. Penelitian ini merupakan jenis deskriptif korelasional dengan metode penelitian survey. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Data primer diperoleh dari responden melalui pengisian kuisioner dan hasil wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi Kantor SMUN 68. Dalam hal pengolahan data, untuk data kuantitatif diuji melalui Chi-Square dan korelasi Spearman yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows versi Untuk data hasil wawancara kualitatif digunakan sebagai ilustrasi untuk melengkapi hasil statistik tersebut. Penelitian ini menunjukkan karakteristik internal dan karakteristik eksternal responden. Jenis kelamin responden dibagi sama rata antara laki-laki dan perempuan. Status ekonomi keluarga responden mayoritas tergolong kategori menengah keatas berkecukupan. Tujuan penggunaan ponsel oleh responden mayoritas untuk kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu penting, yang berkisar pada sosialisasi serta kegiatan sekolah/les/kursusnya dan untuk hiburan pemenuhan hobi. Tingkat aktivitas responden mayoritas tergolong aktivitas yang rendah di luar jam sekolahnya. Tingkat pengaruh teman dekat mayoritas tergolong kategori pengaruh yang kuat bagi responden. Sedangkan mengenai media massa mayoritas responden memiliki tingkat terpaan yang tergolong cukup tinggi. Penelitian ini melihat tingkat penggunaan ponsel dari frekuensi penggunaan ponsel, pemanfaatan fasilitas ponsel, tingkat biaya pengeluaran, dan pihak yang diajak berkomunikasi. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan ponsel oleh responden sebagai kelompok remaja perkotaan sebagian besar menunjukkan penggunaannya cenderung tinggi. Faktor pada karakteristik internal yang mempengaruhi penggunaan ponsel adalah status ekonomi keluarga dan tujuan penggunaan ponsel, sedangkan pada karakteristik eksternal adalah keberadaan teman dekat responden. Mengenai interaksi, penelitian ini melihat suatu variabel interaksi sosial dari waktu dan intensitas tingkat keluasan pembicaraan interaksi secara tatap muka antara responden dengan lingkungan sosialnya. Berdasarkan semua data yang diperoleh dapat diketahui bahwa interaksi antara responden dengan lingkungan teman atau pacar lebih baik dalam hal kuantitas. Sedangkan interaksi antara responden dengan lingkungan keluarga lebih baik dalam hal kualitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel tidak mempengaruhi interaksi remaja secara tatap muka. Hal tersebut berlawanan dengan teori yang dikemukakan oleh Budyatna 2005, yaitu dengan munculnya penggunaan ponsel dapat mempengaruhi suatu proses yang bersifat transaksional dalam interaksi tatap muka. Penggunaan ponsel remaja laki-laki maupun perempuan memang cenderung tinggi. Tetapi dalam hal interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya tetap saja cenderung kurang. Dapat disimpulkan bahwa interaksi remaja tersebut tidak hanya disebabkan oleh tingkat penggunaan ponsel yang tinggi. Banyak terdapat faktor-faktor lainnya dalam karakteristik remaja, seperti semakin tingginya beban akademik, mulai mengkonsumsi media-media massa atau teknologi dengan tinggi serta cenderung lepas dengan lingkungan sosial keluarganya. Dengan begitu terlihat bahwa memang kelompok usia remaja cenderung kurang interaksinya secara tatap muka dengan lingkungan sosialnya. PENGARUH PENGGUNAAN PONSEL PADA REMAJA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL REMAJA Kasus SMUN 68, Salemba Jakarta Pusat, DKI Jakarta Oleh INA ASTARI UTAMININGSIH A 14202036 SKRIPSI Sebagai Bagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis oleh Nama Ina Astari Utaminingsih NRP A14202036 Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Judul Skripsi Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja Kasus SMUN 68, Salemba Jakarta Pusat, DKI Jakarta dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperolah gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Nurmala K. Pandjaitan, MS. DEA NIP. 131 803 654 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, NIP. 130 422 698 Tanggal Kelulusan 22 Agustus 2006 PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “PENGARUH PENGGUNAAN PONSEL PADA REMAJA TERHADAP INTERAKSI SOSIAL REMAJA KASUS SMUN 68, SALEMBA JAKARTA PUSAT, DKI JAKARTA” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. Bogor, Agustus 2006 Ina Astari Utaminingsih A 14202036 RIWAYAT HIDUP Penulis adalah anak terakhir dari pasangan dan Hikmawati yang lahir pada tanggal 11 Juli 1984 di Jakarta. Pendidikan pertama ditempuh di Taman Kanak-Kanak Kayuputih, Jakarta Timur. Selanjutnya pada tahun 1991 meneruskan sekolah di Sekolah Dasar Negeri Pulogadung 07, Jakarta Timur. Pada tahun 1999 penulis lulus dari SLTP Perguruan Cikini, Jakarta Pusat dan meneruskan di SMU Negeri 68, Jakarta Pusat yang kemudian lulus pada tahun 2002. Pada tahun 2002 selanjutnya penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB pada program studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat KPM, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, kekuatan serta jalan yang terbaik menurut-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Skripsi SEP 495 yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja” ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian. Skripsi ini merupakan penelitian dan studi yang pertama kali mengenai ponsel di Institut Pertanian Bogor. Oleh karena itu diharapkan dapat menjadi masukan atau referensi berguna dalam kajian mengenai pengaruh ponsel terhadap interaksi remaja dengan lingkungan sosial mereka. Namun penulis menyadari adanya kekurangan dalam pembuatan skripsi ini. Oleh karena itu saran dan kritik membangun dari para pembaca diperlukan untuk langkah selanjutnya yang lebih baik lagi. Bogor, Agustus 2006 Penulis UCAPAN TERIMAKASIH Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengemukakan ucapan terima kasih kepada pihak tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, antara lain 1. Allah SWT, yang atas izin dan restu-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. In every step i take, it always start with u’r name God. 2. Dr. Nurmala K. Pandjaitan. MS. DEA selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam proses pembuatan skripsi ini. 3. Ir. Sarwititi S. Agung, MS yang telah bersedia menjadi dosen penguji utama pada saat sidang skripsi 4. Martua Sihaloho, SP, MS yang telah bersedia menjadi dosen penguji Komisi Pendidikan pada saat sidang skripsi 5. Papa & Mama. Love u both more than life & all the things i’ve done is only to make u proud of me. Juga untuk Mba Lia & Mas Herry 6. Ivan, My Little Boy. The cuttest baby in the world. Karena dengan fotonya dikomputer-lah yang membuat semangat setiap mengerjakan tugas 7. Hemo-hemo, For good times and bad times. Thank’s for teaching me how to laugh all the time, no matter how sad we are. Just keep our faith! 8. Pihak-pihak yang telah membantu dalam pengumpulan data Ica HPT ’40, Dila, Tio, serta pihak dari SMUN 68 9. Rika Apriyanti Teh’ Rika atas segala saran dan masukan mengenai penulisan skripsi 10. Mulyandari, for making me believe that there’s always opportunity in every difficulty 11. KPM ’39, yang telah membuat waktu selama hampir 4 tahun terakhir menjadi berkesan dan tidak terlupakan 12. Seluruh teman-teman ’38, ’39 dan ’40 serta tim KKP atas kebersamaannya selama ini 13. Teman-teman di Jakarta, yang selalu memberi semangat melalui SMS dan telfon. Serta yang selalu membuat hidup kembali menjadi ’normal’ sepulang dari Bogor. Thank’s a lot 14. Para pengajar dan tim MSC Mathematic Study Club yang dengan sabar dan baik hati membuat penulis ’mengerti’ akan hitung-hitungan 15. Tim dosen KPM IPB dan seluruh staff Sosek Pertanian, terima kasih telah memberikan pengajaran yang terbaik dan telah membantu selama perkuliahan sampai pada pelaksanaan seminar dan sidang Juga untuk mereka yang senantiasa mendukung serta membantu tetapi tidak bisa disebutkan satu per satu. Akhir kata penulis mengucapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberi inspirasi kepada pembaca. Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI  i DAFTAR TABEL  iii DAFTAR GAMBAR  v DAFTAR LAMPIRAN  vi BAB I. PENDAHULUAN  1 Latar Belakang  1 Perumusan Masalah  5 Tujuan Penelitian  5 Kegunaan Penelitian  6 BAB II. PENDEKATAN TEORITIS  7 Tinjauan Pustaka  7 Media Teknologi Komunikasi Ponsel  7 Interaksi Sosial  13 Remaja  18 Kerangka Pemikiran  22 Hipotesa  25 Definisi Operasional  26 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN  33 Metode Penelitian  33 Lokasi Dan Waktu Penelitian  33 Penentuan Sampel  34 Metode Pengumpulan Data  35 Metode Pengolahan dan Analisis Data  35 ii BAB IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN  36 Sekolah Menengah Umum Negeri 68  36 Karakteristik Internal  39 Karakteristik Eksternal  43 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN  47 Penggunaan Ponsel Pada Remaja  47 Frekuensi Penggunaan Ponsel  47 Pemanfaatan Fasilitas Ponsel  48 Tingkat Biaya Pengeluaran  51 Pihak Yang Diajak Berkomunikasi  52 Tingkat Penggunaan Ponsel Secara Umum  54 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penggunaan Ponsel Pada Remaja  56 Karakteristik Internal  56 Karakteristik Eksternal  62 Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja  65 Interaksi Sosial Remaja  65 Waktu Interaksi Tatap Muka  65 Intensitas Interaksi Tatap Muka  68 Interaksi Sosial Remaja Secara Umum  70 Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja  71 Ikhtisar  74 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN  78 Kesimpulan  78 Saran  80 DAFTAR PUSTAKA  82 LAMPIRAN  85 iii DAFTAR TABEL Nomor Teks Halaman Tabel 1. Kegiatan-Kegiatan Ekstrakurikuler Pada SMUN 68, Sampai Tahun Ajaran 2005/2006  38 Tabel 2. Jumlah Responden Berdasarkan Status Ekonomi Keluarga  39 Tabel 3. Jumlah Responden Berdasarkan Tujuan Penggunaan Ponsel  40 Tabel 4. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas  42 Tabel 5. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pengaruh Teman Dekat  44 Tabel 6. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Terpaan Media Massa  45 Tabel 7. Jumlah Responden Berdasarkan Frekuensi Penggunaan Ponsel  47 Tabel 8. Jumlah Responden Berdasarkan Pemanfaatan Fasilitas Ponsel  49 Tabel 9. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Biaya Pengeluaran  51 Tabel 10. Jumlah Responden Berdasarkan Pihak Yang Diajak Berkomunikasi  53 Tabel 11. Jumlah responden Berdasarkan Tingkat Penggunaan Ponsel  54 Tabel 12. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel  56 Tabel 13. Hubungan Status Ekonomi Keluarga Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel  58 Tabel 14. Hubungan Tujuan Penggunaan Ponsel Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel  59 Tabel 15. Hubungan Tingkat Aktivitas Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel  61 Tabel 16. Hubungan Tingkat Pengaruh Teman Dekat Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel  63 Tabel 17. Hubungan Tingkat Terpaan Media Massa Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel  64 Tabel 18. Jumlah Responden Berdasarkan Waktu Interaksi Tatap Muka Dengan Keluarga  66 vi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Teks Halaman Lampiran 1. Perbandingan Pengguna Ponsel di Indonesia  86 Lampiran 2. Output SPSS Uji Chi-Square  88 Lampiran 3. Output SPSS Uji Spearman  89 v DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Halaman Gambar 1. Jenis Telepon Bergerak  9 Gambar 2. Kerangka Pemikiran  25 iv Tabel 19. Jumlah Responden Berdasarkan Waktu Interaksi Tatap Muka Dengan Teman/Pacar  66 Tabel 20. Jumlah Responden Berdasarkan Intensitas Interaksi Tatap Muka Dengan Keluarga  68 Tabel 21. Jumlah Responden Berdasarkan Intensitas Interaksi Tatap Muka Dengan Teman/Pacar  68 Tabel 22. Jumlah Responden Berdasarkan Interaksi Sosial Remaja  70 Tabel 23. Hubungan Tingkat Penggunaan Ponsel Dengan Interaksi Sosial  72 Tabel 24. Hubungan Variabel Pengaruh Dengan Variabel Terpengaruh  74 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sebuah teknologi pada hakikatnya diciptakan untuk membuat hidup manusia menjadi semakin mudah dan nyaman. Kemajuan teknologi yang semakin pesat saat ini membuat hampir tidak ada bidang kehidupan manusia yang bebas dari penggunaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seiring arus globalisasi dengan tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang cepat, peranan teknologi komunikasi menjadi sangat penting. Hassan 1999 mengemukakan teknologi komunikasi cenderung memungkinkan terjadinya transformasi berskala luas dalam kehidupan manusia. Transformasi tersebut telah memunculkan perubahan dalam berbagai pola hubungan antar manusia patterns of human communication, yang pada hakikatnya adalah interaksi antar pribadi interpersonal relations. Pertemuan tatap muka face to face secara berhadapan dapat dilaksanakan dalam jarak yang sangat jauh melalui tahap citra image to image. Isi pesan media komunikasi seringkali tidak mempengaruhi masyarakat yang kini melainkan bentuk dan jenis media itu sendiri. Banyak bentuk-bentuk teknologi baru dalam komunikasi yang kita kenal, seperti telepon selular ponsel, surat elektronik, satelit, mesin faksmili, dan lain-lain. Teknologi komunikasi dalam wujud ponsel merupakan fenomena yang paling unik dan menarik dalam penggunaannya. Ponsel yang mudah dibawa kemana saja kini tidak lagi mengenal 2 usia dan kalangan, bahkan disebut sekarang ini ponsel telah menjadi “teknologi yang merakyat”. Penggunaan ponsel menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan saat ini yang memerlukan mobilitas tinggi. Fasilitas-fasilitas yang terdapat didalamnya pun tidak hanya terbatas pada fungsi telepon dan SMS short messages service saja. Ponsel dapat digunakan sebagai sarana bisnis, penyimpan berbagai macam data, sarana musik/hiburan, bahkan sebagai alat dokumentasi. Hal ini menjadikan ponsel sebagai salah satu perkembangan komunikasi yang paling aktual di Indonesia selama lebih dari lima tahun terakhir Nurudin, 2005. Terlihat juga pada kompetitif kualitas dari berbagai merk ponsel seperti Nokia, Ericsson, Samsung, Siemens, Motorola, Alcatel, dan lain-lain. Masing-masing tidak berhenti bersaing mencari pangsa pasar melalui produk terbaru hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat. Simanjuntak 2004 dalam tulisannya mengenai aspek sosial telepon selular menyatakan paling tidak ada lima implikasi dari penggunaan ponsel. Pertama, terhadap setiap individu yang menggunakan ponsel tersebut. Kedua, terhadap interaksi-interaksi antar individu. Ketiga, terhadap pertemuan tatap muka. Keempat, terhadap suatu kelompok-kelompok atau organisasi. Selanjutnya yang kelima adalah terhadap sistem hubungan di organisasi dan kelembagaankelembagaan masyarakat. Penggunaan ponsel sekarang bukan hanya sebagai alat komunikasi semata, melainkan juga mendorong terbentuknya interaksi yang sama sekali berbeda dengan interaksi tatap muka. Disini interaksi yang terbentuk kemudian “dipercepat” prosesnya melalui suara dan teks atau tulisan Brotosiswoyo, 2002. 3 Hal ini berbeda dengan dahulu yang biasa disebut “telepati” komunikasi antara dua manusia yang tidak bergantung pada tempatnya dan sudah menjadi perwujudan riil yang biasa, yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Ponsel disamping itu juga dapat merubah makna dari “kesendirian”. Kesendirian itu dapat menjadi suatu suasana yang lebih ramai dan hidup. Dengan satu ponsel yang canggih saja, kita dapat mendengarkan musik, bermain games, internet, foto-foto, menonton video, dan lain-lain meskipun kita berada dalam satu ruangan sendirian tanpa ada apapun. Dari sekian kelebihan yang telah ditawarkan dari suatu ponsel, tetapi terdapat juga banyak dampak negatif bermunculan. Budyatna 2005 mengemukakan bahwa bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbal balik. Disini Budyatna melihat bahwa dengan munculnya penggunaan ponsel mempengaruhi proses yang transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun kualitas dan kuantitasnya pada interaksi tatap muka. Terdapat banyak fenomena dimana tidak jarang individu lebih memilih memainkan atau menggunakan ponselnya, meskipun ia berada ditengah-tengah suatu kegiatan atau sosialisasi dengan orang-orang disekitarnya. Berdasarkan Survey Siemens Mobile Lifestyle III, menyebutkan bahwa 60% dari respondennya lebih senang mengirim dan membaca SMS atau memainkan games ponselnya ditengah acara keluarga yang dianggap membosankan Nurudin, 2005. Beberapa penelitian telah dikumpulkan oleh Badwilan 2004 mengenai dampak dari penggunaan ponsel. Contoh penelitian pertama yaitu pada bulan 4 Februari 2002 jumlah layanan SMS yang dikirimkan mencapai 156 milyar; dan pada bulan Maret jumlahnya bertambah menjadi 167 milyar. Dengan kata lain bahwa pengguna ponsel telah menghabiskan uang sebesar 165,5 milyar untuk mengirimkan layanan SMS saja. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ponsel yang semula dimaksudkan untuk mempermudah pembicaraan dan menekan biaya pengeluaran, justru terkadang menjadi hal sebaliknya. Kumpulan penelitian Badwilan yang menunjukkan dampak negatif dari penggunaan ponsel lainnya yaitu menonjol pada aspek psikologis dan sosial. Banyaknya peredaran gambar-gambar maupun video-video porno sekarang ini sudah dianggap hal biasa dalam lalu lintas data komunikasi melalui ponsel. Selain itu adanya pesan SMS yang memberikan kesan rasisme dan unsur-unsur SARA didalamnya dapat mengancam serta merusak kehidupan interaksi masyarakat atau kelompok tertentu. Pattiradjawane pernah melakukan penelitian terhadap pemakaian dan penggunaan ponsel di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa persentase terbesar pengguna ponsel berdasarkan usia yaitu usia 15-24 tahun 31%, berdasarkan kota-desa yaitu kota 71%, dan berdasarkan kota-desa pada lima pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali yaitu kota >55% dari masing-masing pulau. Sedangkan untuk perbandingan berdasarkan masingmasing pulau tersebut persentase terbesar adalah pulau Jawa 71%. Hal ini menunjukkan pengguna ponsel terbesar merupakan kelompok remaja perkotaan terutama pada pulau Jawa. Remaja merupakan kelompok manusia yang penuh potensi yang perlu untuk dimanfaatkan. Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu 5 berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkat yang sama Hurlock, 1980. Respon kaum remaja terhadap barang-barang baru, termasuk dalam hal ini adalah kecanggihan ponsel, cukup tinggi. Walaupun belum tentu penggunaan ponsel tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut, maka dapat diketahui bahwa penggunaan media teknologi komunikasi ponsel saat ini dirasakan penting. Penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi seharusnya dapat mempererat interaksi sosial remaja dengan lingkungannya. Perumusan masalah yang akan menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah 1. Bagaimana penggunaan ponsel pada remaja saat ini? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja? 3. Bagaimana pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi sosial remaja? Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah 1. Mengidentifikasi penggunaan ponsel pada remaja saat ini 6 2. Menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja 3. Menganalisis pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi sosial remaja Kegunaan Penelitian Penelitian ini berguna bagi peneliti dalam rangka mengembangkan studi dan memperluas wawasannya mengenai kehidupan interaksi remaja perkotaan pada saat ini, terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi ponsel. Penelitian ini juga dapat menjadi informasi tambahan atau acuan literatur untuk penelitian-penelitian selanjutnya, khususnya bagi para akademisi atau bagi mereka yang tertarik untuk memahami pengaruh penggunaan media teknologi komunikasi ponsel terhadap interaksi sosial remaja. BAB II PENDEKATAN TEORITIS Tinjauan Pustaka Media teknologi Komunikasi Ponsel Teknologi Komunikasi Menurut Kamus Sosial Edisi Baru, istilah Teknologi yaitu 1 Penerapan ilmu pengetahuan; 2 Pola praktek menggunakan semua sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu; serta 3 Semua ciri untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Johannesen 1996 teknologi diartikan sebagai aktivitas budaya yang khas ketika manusia membentuk dan mengubah realitas alami demi tujuan-tujuan praktis. Setiap langkah kemajuan teknologi menyebabkan serangkaian perubahan yang berinteraksi dengan perubahan lainnya yang timbul dari sistem teknologi secara keseluruhan. Menurut Gouzali Saydam 2005, teknologi komunikasi pada hakikatnya adalah penyaluran informasi dari satu tempat ke tempat lain melalui perangkat telekomunikasi kawat, radio atau perangkat elektromagnetik lainnya. Informasi tersebut dapat berbentuk suara telepon, tulisan dan gambar telegraf, data komputer, dan sebagainya. Sedangkan Shiroth dan Amin 1998 mengemukakan teknologi komunikasi merupakan teknologi yang cepat berkembang, seiring dengan berkembangnya industri elektronika dan komputer. Trend teknologi ini semakin kearah teknologi wireless tanpa kabel. Bentuk-bentuk teknologi komunikasi menurut Kadir dan Triwahyuni 2003 mencangkup telepon, radio, dan televisi. Sedangkan dalam buku Human 8 Communication Tubbs dan Moss, 2001, bentuk-bentuk teknologi komunikasi ditampilkan dalam tingkat antarpesona, kelompok, organisasional, dan publik. Pada tingkat antarpersona yaitu telepon, telepon genggam handphone, surat elektronik, dan voicegram. Pada tingkat kelompok yaitu konferensi telepon, telekomunikasi komputer, dan surat elektronik. Pada tingkat organisasional yaitu interkom, konferensi telepon, surat elektronik, manajemen dengan bantuan komputer, sistem informasi, dan faksimili. Sedangkan pada tingkat publik yaitu televisi, radio, film, videotape, vidoedisc, TV kabel, TV satelit langsung, video dengan teks, teleteks, dan sistem informasi digital. Pada saat ini telepon merupakan alat komunikasi yang banyak ditemukan dalam dunia bisnis. Bahkan setiap hari sekitar lebih dari 500 juta panggilan telepon dilakukan diseluruh dunia Morey, 2004. Menurut Gouzali Saydam 2005, istilah telepon pada awalnya merupakan suara dari jarak jauh. Selain itu keberadaan telepon itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu telepon biasa fix telephone dan telepon bergerak. Perkembangan Ponsel Ponsel atau bisa juga disebut Handphone telepon genggam atau telepon seluler merupakan telepon yang termasuk dalam sambungan telepon bergerak, dimana yang menghubungkan antar sesama ponsel tersebut adalah gelombanggelombang radio yang dilewatkan dari pesawat ke BTS Base Tranceiver Station dan MSC Mobile Switching Center yang bertebaran di sepanjang jalur perhubungan kemudian diteruskan ke pesawat yang dipanggil Gouzali Saydam, 9 2005. Telepon bergerak ini pada awalnya dikategorikan dalam bentuk seperti gambar berikut TELEPON BERGERAK Kendaraan Bermotor Selular/ Ponsel Telkom Fleksi Gambar 1. Jenis Telepon Bergerak Sumber Gouzali Saydam, Teknologi Telekomunikasi Perkembangan dan Aplikasi 2005. Ponsel merupakan bentuk yang dianggap paling fenomenal dan juga unik. Dalam pemakaian ponsel, besarnya tagihan bergantung pada lama waktu percakapan serta jarak atau zona jangkau SLJJ percakapan yang telah dilakukan dalam percakapan. Terdapat tiga hal penting mengenai biaya yang dikeluarkan bagi pelanggan ponsel, yaitu biaya airtime, biaya bulanan dan biaya pulsa atau pemakaian Kadir dan Triwahyuni, 2003. Semakin maraknya penggunaan ponsel saat ini, muncul ide untuk menciptakan kebergantungan pemilik ponsel tersebut pada kartu telepon prabayar voucher. Perkembangan produk kartu prabayar dalam waktu yang singkat dapat menyaingi penggunaan sistem abonemen pascabayar. Salah satu yang paling menarik pada prabayar adalah layanan transfer pulsa Ariyanti, 2004. Layanan ini menyediakan solusi bagi para pengguna prabayar yang membutuhkan pulsa dalam 10 waktu cepat atau berada dalam keadaan darurat serta kesulitan mencari pulsa isi ulang. Harmandini 2005 mengatakan bahwa sekarang ini terdapat beberapa orang yang menggunakan 2 dua ponsel, dimana yang satu pada umumnya merupakan ponsel CDMA. Kartu-kartu CDMA ini antara lain StarOne, Esia, Flexi dan Fren. Para pemakai ponsel yang menggunakan kartu prabayar biasanya digolongkan pada konsumen ‘konsumen kelas dua’, sedangkan ‘konsumen kelas satu’ di mata operator penyelenggara ponsel adalah mereka yang menjadi pelanggan tetap jaringan ponsel Ariyanti, 2004. Fasilitas Pada Ponsel Disamping berfungsi sebagai alat komunikasi yang personal, ponsel juga berpotensi sebagai sarana bisnis yang efektif. Ponsel sangat bervariasi tergantung pada modelnya, yang seiring dengan perkembangan teknologi mempunyai fungsifungsi antara lain Fiati, 2005 1. Penyimpan informasi 2. Pembuat daftar pekerjaan atau perencanaan kerja 3. Reminder pengingat waktu atau appointment 4. Alat perhitungan kalkulator 5. Pengiriman atau penerimaan e-mail 6. Permainan games 7. Integrasi ke peralatan lain seperti PDA, MP3 8. Chatting dan Browsing internet 9. Video 11 Mengenai fitur-fitur lain dalam ponsel terdapat beberapa macam, antara lain profile, voice mail, caller ID, memory, numeric paging dan text messaging SMS/multimedia messaging MMS, tones, locking/unlocking, call waiting, call forwarding, three-way calling, calling history, one-touch emergency dialing dan lain-lain. Diantara sekian banyak fitur tersebut, mungkin yang paling menarik untuk dibahas adalah SMS, MMS dan kamera. SMS Short message service adalah layanan langsung dalam dua arah yang mampu mengirimkan pesan singkat 160 karakter yang bisa disimpan dan direkam oleh pengelola ponsel. Selain itu SMS juga dapat digunakan dalam mode cell broadcast guna mengirim berita-berita terbaru dan pemberitahuan penting penting lain yang bersifat massal Fiati, 2005. Sedangkan MMS multimedia message service disebut juga sebagai sms multimedia, yang memiliki daya angkut data yang besar. MMS memberikan layanan pengiriman berbasis teks menuju pesan multimedia gambar, suara, video dan dapat juga memberikan layanan berupa gambar diam berupa kartu, peta, kartu nama, layer saver untuk PC. Fitur lainnya yang saat ini sedang gencarnya ditonjolkan oleh ponsel yaitu kamera, mulai dari jenis kamera opsional atau terpisah hingga kamera yang builtin yang sudah menyatu dengan ponselnya. Mengenai kecanggihan teknologi, ponsel juga memiliki beberapa keunggulan seperti adanya teknologi Infrared dan Bluetooth. Bluetooth merupakan teknologi nirkabel yang dapat menyambungkan beberapa perangkat melalui gelombang radio berfrekuensi rendah daya jangkau maksimal 50 meter tanpa dihubungkan dengan kabel. Sedangkan pada infrared kedua perangkat harus dibuat berhadapan Fiati, 2005. 12 Mengenai media hiburan, MP3 pada ponsel sudah menggunakan teknologi yang lebih canggih lagi saat ini. Telah dibuat suatu pengembangan yang lebih lanjut, dinamakan MP3 Surround Subarkah, 2005. MP3 Surround atau bisa disebut suara keliling ini pada dasarnya akan memberikan ilusi suara pada pendengarnya seolah-olah berada dalam sebuah lingkungan tertentu. Selain itu, teknologi pada ponsel yang paling terbaru saat ini yaitu menyaksikan televisi melalui layar ponsel tersebut Subarkah, 2006. Ponsel seperti ini termasuk dalam ponsel generasi ketiga, atau disebut dengan 3G. Dampak Penggunaan Ponsel Menurut Badwilan 2004, penggunaan ponsel dapat membawa dampakdampak tertentu. Dampak-dampak tersebut dibagi pada aspek psikologis, sosial, keuangan dan kesehatan atau keselamatan jiwa seseorang. Tetapi yang akan dijelaskan disini adalah pada aspek psikologis dan sosial Badwilan, 2004 1. Aspek Psikologis Banyaknya pesan melalui SMS yang berisi ajakan-ajakan bersifat rasisme dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Contohnya yang marak ditemukan adalah pesan yang berisi pemboikotan barang produksi Amerika. Selain itu juga terdapat peredaran pesan teks, gambar, maupun video yang bersifat pornografi. Mudahnya akses keluar-masuk pesan tersebut melalui ponsel membawa dampak negatif, terutama untuk generasi muda sekarang ini. 13 2. Aspek Sosial Salah satu hal yang sering terjadi adalah tindakan seseorang yang membiarkan ponsel miliknya tetap dalam keadaan hidup atau aktif sehingga mengeluarkan bunyi yang nyaring. Hal ini jelas mengganggu konsentrasi serta mengejutkan orang-orang disekitarnya. Seperti ketika sedang rapat bisnis, di rumah sakit, sedang di tempat-tempat ibadah, dan lain-lain. Selain itu penggunaan ponsel sebagai media komunikasi tidak langsung dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari komunikasi secara langsung tatap muka. Sering terjadi kesalah pahaman dalam pemaknaan pesan melalui komunikasi secara tidak langsung. Interaksi Sosial Definisi dan Bentuk Interaksi Sosial Menurut Soekanto 2002, interaksi sosial adalah bentuk-bentuk yang tampak apabila orang-orang perorangan ataupun kelompok-kelompok manusia mengadakan hubungan satu sama lain terutama dengan mengetengahkan kelompok serta lapisan sosial sebagai unsur pokok struktur sosial. Interaksi sosial dapat dipandang sebagai dasar proses-proses sosial yang ada, menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Interaksi sosial adalah suatu hubungan antar dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain Gerungan, 2004. Kelangsungan interaksi sosial ini, sekalipun dalam bentuknya yang sederhana, tenyata merupakan proses yang kompleks. Sedangkan Tubbs dan Moss dalam bukunya 14 Human Communication 2001, suatu interaksi sosial diartikan sebagai suatu sistem sosial dua orang atau lebih yang dilengkapi dengan beberapa aturan dan harapan, serta beberapa ganjaran dan hukuman yang berlaku diantaranya. Gea, Wulandari, dan Babari 2003 melihat suatu kebutuhan berinteraksi manusia dimana setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya. Kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang satu dengan lainnya, yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Mengenai interaksi yang terjalin tersebut, yang dianggap paling ideal adalah secara tatap muka langsung. Interaksi tatap muka lebih memungkinkan suatu proses yang bersifat dinamis dan timbal balik secara langsung. Selain itu menurut Morey 2004, pertukaran informasi secara tatap muka dapat mempercepat proses saling mempengaruhi antara pihak-pihak yang berinteraksi didalamnya. Sedangkan menurut Soekanto 2002, suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu 1. Adanya kontak sosial social-contact 2. Adanya komunikasi Kontak dan Komunikasi Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum yang artinya bersamasama dan tango yang artinya menyentuh, jadi artinya secara harafiah adalah bersama-sama menyentuh. Tetapi secara gejala sosial, kontak tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah. Seperti pada perkembangan teknologi dewasa ini 15 orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon, telegrap, radio, surat, dan seterusnya Soekanto, 2002. Kontak dapat bersifat primer maupun sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka atau face-to-face berjabat tangan, saling senyum, dll. Sebaliknya, kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Hubungan-hubungan sekunder tersebut dapat dilakukan melalui perantara seperti telepon, telegrap, radio, surat dll. Mengenai komunikasi dapat dilihat secara bahasa, yakni berasal dari kata Latin kommunicatio yang artinya hal memberitahukan, hal memberi bagian dalam, atau pertukaran. Secara lebih sempit dapat diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima Gea, Wulandari, dan Babari, 2003. Menurut Soekanto 2002, menyatakan bahwa komunikasi adalah ketika seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Dengan begitu orang yang bersangkutan kemudian akan memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut. Gea, Wulandari, dan Babari 2003 menggambarkan suatu komunikasi yang efektif apabila si penerima pesan menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan. Salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa pesan yang diberikan benar-benar diterima secara tepat sebagaimana yang dimaksud adalah dengan mendapatkan umpan balik pesan tersebut. Umpan balik adalah proses yang memungkinkan seorang 16 pengirim mengetahui bagaimana pesan yang dikirimkannya telah ditangkap oleh si penerima atau tidak. Selain itu cara seseorang mendengarkan dan menanggapi lawan bicara juga sangatlah penting dalam berkomunikasi. Memberikan tanggapan penuh pemahaman dalam mendengarkan dapat menghindari kecenderungan kesalahpahaman komunikasi antara pihak terkait. Menurut Sarwono 2002 dari berbagai jenis komunikasi yang ada, komunikasi antar manusia yang langsung bertatap muka adalah yang efektif serta paling lengkap mengandung berbagai aspek psikologis. Aspek tersebut antara lain 1. Tatap muka itu sendiri yang membedakannya dengan komunikasi jarak jauh atau komunikasi menggunakan alat. Dalam komunikasi tatap muka ada peran yang harus dijalankan oleh masing-masing pihak pemberi informasi-penerima informasi, ibu-anak, ayah-anak, suami-istri, guru-murid dan lain-lain dan ditunjukkan dengan jelas 2. Adanya hubungan dua arah secara langsung Dengan adanya pertukaran pesan dalam komunikasi tatap muka, terjadi saling pengertian akan makna atau arti pesan. Jadi dalam komunikasi ini yang penting bukanlah pesannya semata, melainkan arti meaning dari pesan tersebut. 3. Adanya niat, kehendak, atau intensi dari kedua belah pihak Hal tersebut akan mempercepat proses adanya saling pengertian secara kognitif dalam komunikasi antar manusia. 17 Komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung memerlukan perantara, seperti telepon, telegrap, radio, surat dll. mempunyai dampak yang berbeda dengan komunikasi secara langsung tatap muka. Menurut Gea, Wulandari, dan Babari 2003, komunikasi tidak langsung dapat menyebabkan timbulnya kegagalan untuk saling berkomunikasi hambatan-hambatan, dalam arti si penerima menangkap makna pesan berbeda dari yang dimaksud oleh si pengirim. Hambatan-hambatan tersebut antara lain 1. Gagal menangkap maksud konotatif di balik maksud seseorang 2. Hanya mengartikan kata atau kalimat secara murni dan tidak mengembangkan pemahamannya 3. Kesalahpahaman atau distorsi dalam komunikasi 4. Adanya gangguan fisik, misalnya gangguan suara pada telepon, hasil cetakan yang tidak baik, tampilan layar yang kurang jelas kabur, desain format yang tidak baik, dan lain-lain. Dalam menilai kualitas komunikasi antar manusia, DeVito 1997 mengatakan bahwa komunikasi antar manusia dapat berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat menurut keluasannya atau breadth banyaknya atau jenis-jenis topik yang dibicarakan dan kedalamannya atau depth derajat “kepersonalan” atau inti dalam membicarakan topik itu. Sedangkan menurut penelitian Mardiyanti 1996, secara garis besar terdapat beberapa hal yang dapat dilihat dalam kaitannya dengan kontak sosial dan komunikasi sebagai pengukuran dari interaksi secara langsung tatap muka, antara lain adalah minat, frekuensi, ruang lingkup rekanrekan, jenis dan banyaknya topik pembicaraan, tempat melakukan kegiatan, 18 kedalaman komunikasi serta pola dari interaksi itu sendiri asosiatif dan disosiatif. Remaja Definisi dan Rentangan Usia Remaja Istilah Adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah ini mempunyai arti yang lebih luas, mencangkup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik Hurlock, 1980. Apabila digolongkan sebagai anak-anak maka golongan remaja sudah melewati masa tersebut, tetapi bila digolongkan dengan orang dewasa juga masih belum sesuai. Oleh karena itu banyak istilah golongan remaja ini dirasakan tumpang tindih pengertiannya. Istilah lain yang sering digunakan adalah menurut Rumini dan Sundari 2004, dimana masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Hurlock 1980 juga menambahkan definisi masa remaja dengan menggunakan ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya, yaitu Masa remaja sebagai periode yang penting, masa remaja sebagai periode peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai usia yang bermasalah, masa remaja sebagai masa mencari identitas, masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, masa remaja sebagai masa yang tidak realistik, dan yang terakhir yaitu masa remaja sebagai ambang masa dewasa. 19 Menurut Mappiare dalam bukunya Psikologi Remaja 1982, dapat disimpulkan bahwa secara teoritis dan empiris dari segi psikologis, rentangan usia remaja berada dalam usia 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita, dan 13 sampai 22 tahun bagi pria. Jika dibagi atas remaja awal dan remaja akhir, maka remaja awal berada dalam dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun, dan remaja akhir dalam rentangan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun. Lingkungan Sosial Remaja Menurut Gea, Wulandari, dan Babari 2003, lingkungan sosial yang paling dekat serta berpengaruh dalam kehidupan remaja adalah lingkungan sosial awal, yakni keluarga. Lalu kemudian dilanjutkan dengan lingkungan sebayanya, yang terdiri dari kelompok pertemanan atau kelompok permainan sahabat. Keluarga adalah lingkungan yang paling utama dimana kita mengalami kedekatan dan kebersamaan yang sangat intensif, serta lingkungan tempat kita menjalani proses sosialisasi berbagai nilai dasar kemanusiaan. Menurut Soekanto 2002, orang tua dan saudara melakukan sosialisasi yang biasa diterapkan melalui kasih sayang. Atas dasar kasih sayang tersebut, seorang individu dididik untuk mengenal nilai-nilai tertentu. Menurut Hurlock 1980, konsep hubungan keluarga mempengaruhi konsep diri remaja dimana seorang remaja yang mempunyai hubungan erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama. Menurut Mappiare 1982, kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Didalamnya timbul persahabatan yang 20 merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan. Manfaat penting dari adanya persahabatan dalam masa remaja ini adalah mereka dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengisi waktu luang. Lebih penting lagi, bahwa dalam persahabatan itu remaja dapat merasa dibutuhkan, dihargai dan dengan demikian mereka dapat merasa adanya kepuasan dalam interaksi sosialnya Mappiare, 1982. Perilaku Remaja Suatu perilaku behavior yang merupakan cara bertindak dapat dipandang sebagai reaksi yang bersifat sederhana maupun yang bersifat kompleks Azwar, 2003. Sebagai mahkluk sosial, perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam diri remaja itu sendiri maupun dari lingkungannya. Menurut Kurt Lewin dalam Azwar 2003, perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Sedangkan menurut Rakhmat 2001, terdapat dua faktor yang mempengaruhi perilaku manusia yaitu 1. Faktor-faktor personal, yaitu faktor biologis dan faktor sosio-psikologis 2. Faktor-faktor situasional, yaitu faktor ekologis, faktor rancangan dan arsitektural, faktor temporal, suasana perilaku, teknologi, faktor-faktor sosial, dan lingkungan psiko-sosial. Kompleksitas perilaku remaja telah menjadi bahasan yang penting, terutama memahami perilaku remaja dalam lingkungan sosialnya, memahami 21 motivasi perbuatan dan mencoba meramalkan respon remaja agar dapat memperlakukan sesama manusia dengan sebaik-baiknya Hurlock, 1980. Perilaku terhadap suatu obyek dapat dilihat dari beberapa dimensi Calhoun, 1995, yaitu 1. Frekuensi Menunjukkan jumlah atau kuantitas dari perilaku seseorang 2. Kepada siapa berperilaku Perilaku yang dilakukan tidak hanya ditujukan untuk diri sendiri tetapi juga ditujukan bagi orang lain 3. Untuk apa Perilaku yang dilakukan seseorang itu mempunyai manfaat atau tujuan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain 4. Bagaimana Menunjukkan upaya atau cara yang dilakukan oleh seseorang dalam berperilaku untuk mencapai tujuan yang diinginkan Perilaku remaja juga berkaitan dengan minat mereka terhadap keberadaan media massa yang termasuk pada minat rekreasi. Menurut Hurlock 1980 minat rekreasi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh derajat kepopulerannya. Beberapa bentuk rekreasi yang digemari remaja saat ini antara lain mendengarkan radio dan kaset, menonton televisi, serta membaca. Selain itu perilaku remaja yang menonjol terletak pada nilai kemandiriannya. Mereka cenderung melepaskan diri dengan lingkungan sosial, terutama dengan lingkungan keluarganya sendiri Hurlock, 1980. 22 Remaja laki-laki dengan perempuan juga terdapat perbedaan-perbedaan dalam perilakunya. Remaja perempuan cenderung memiliki tingkat keintiman yang dalam dengan orang-orang sekitarnya dibanding dengan remaja laki-laki. Hal ini dikarenakan remaja laki-laki ingin menunjukkan kemandirian yang lebih dan adanya jarak dengan sekitarnya Hurlock, 1980. Selain itu menurut Apriyanti 2005 secara spesifik mengemukakan remaja putri lebih banyak membutuhkan sejumlah barang-barang baru yang perlu dibeli dan juga barang-barang baru yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Kerangka Pemikiran Ponsel merupakan salah satu perkembangan teknologi komunikasi paling aktual di Indonesia selama lebih dari lima tahun terakhir. Ponsel disamping memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi, juga dapat digunakan sebagai sarana bisnis, penyimpan berbagai macam data, sarana musik atau hiburan, bahkan sebagai alat dokumentasi. Dalam hal ini pengguna ponsel terbesar merupakan kelompok remaja perkotaan, terutama pada pulau Jawa. Respon kelompok remaja terhadap keberadaan ponsel cukup tinggi, walaupun belum tentu penggunaan ponsel tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tingkat penggunaan ponsel pada remaja diduga dapat dipengaruhi oleh beberapa karakteristik, antara lain karakteristik yang berkaitan dengan diri individu internal maupun yang berkaitan dengan lingkungannya eksternal. Karakteristik internal mencangkup jenis kelamin, status ekonomi keluarga, tujuan penggunaan ponsel serta aktivitas-aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh 23 remaja tersebut. Karakteristik eksternal mencangkup pengaruh dari teman-teman dekat remaja serta terpaan media media exposure massa. Jenis kelamin diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena remaja putri cenderung memiliki gaya hidup dan pola konsumtif yang tinggi dalam melihat setiap perkembangan ponsel yang ada dibandingkan remaja putra. Selain itu remaja putri juga cenderung sering dan intens berkomunikasi melalui ponsel dengan sesamanya, dimana dalam komunikasi yang berlangsung tersebut biasanya banyak hal-hal yang dibicarakan. Status ekonomi keluarga diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena terdapat biayabiaya yang harus disediakan oleh para pengguna ponsel. Semakin tinggi pendapatan orang tua tiap bulannya yang menggambarkan status ekonomi dalam keluarga diduga dapat meningkatkan penggunaan ponsel pada remaja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya pengeluaran setiap bulannya. Tujuan dalam menggunakan ponsel diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena dengan tujuan yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan pula remaja menggunakan ponselnya. Aktivitas-aktivitas yang diikuti remaja diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena dengan semakin banyak aktivitas atau kegiatan yang dilakukan dapat menunjukkan bahwa remaja tersebut memiliki mobilitas yang tinggi di dalam maupun di luar sekolah. Diduga hal tersebut dapat meningkatkan penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pengaruh teman dekat diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena pada masa remaja inilah kelompok persahabatan atau teman sebaya merupakan lingkungan sosial yang memegang peranan penting dalam sosialisasi 24 remaja. Hal tersebut menyebabkan remaja dalam menggunakan ponselnya akan melihat dan bergantung pada lingkungan teman sebayanya. Terpaan media massa diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena melalui media massa cetak maupun elektronik tersebut remaja memperoleh berbagai informasi mengenai perkembangan ponsel. Semakin sering frekuensi dan beragam jenis media massa tentang ponsel yang diterpa oleh remaja diduga mempunyai pengaruh penting, disamping pengaruh dari teman dekat remaja tersebut. Tingkat penggunaan ponsel pada remaja dapat dilihat melalui empat hal, yaitu frekuensi penggunaan, pemanfaatan fasilitas, tingkat biaya pengeluaran, dan pihak yang diajak berkomunikasi. Selanjutnya tingkat penggunaan teknologi komunikasi ponsel tersebut sebagai pengaruh dari luar masyarakat diduga dapat mempengaruhi interaksi sosial pada remaja tersebut. Penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi seharusnya dapat meningkatkan interaksi sosial remaja dengan lingkungannya. Tetapi diduga justru dapat menurunkan interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya, yang terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan persahabatan teman sebaya. Interaksi sosial remaja secara tatap muka itu sendiri dilihat dari lamanya waktu serta intensitas tingkat keluasan atau banyaknya topik pembicaraan interaksi tatap muka. Berdasarkan literatur-literatur yang telah dibahas, maka dapat dirumuskan suatu kerangka pemikiran sebagai berikut Gambar 2 25 Karakteristik Internal - Jenis kelamin - Tingkat status ekonomi keluarga - Tujuan penggunaan ponsel - Tingkat aktivitas Karakteristik Eksternal - Tingkat pengaruh teman dekat - Tingkat terpaan media media exposure massa - Tingkat Penggunaan Ponsel Pada Remaja Frekuensi penggunaan Pemanfaatan fasilitas Tingkat biaya pengeluaran Pihak yang diajak berkomunikasi - Interaksi Sosial Remaja Tatap muka Waktu interaksi Intensitas interaksi Keterangan Mempengaruhi Gambar 2. Kerangka Pemikiran Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dirumuskan, maka dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut 1. Diduga remaja memiliki tingkat penggunaan ponsel yang cenderung tinggi 2. Diduga karakteristik internal mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja 26 3. Diduga karakteristik eksternal mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja 4. Diduga penggunaan ponsel pada remaja mempengaruhi interaksi sosial remaja Definisi Operasional Variabel-variabel yang dikemukakan dalam penelitian ini diukur dengan merumuskan batasan dari masing-masing variabel terlebih dahulu. Adapun variabel-variabel tersebut adalah 1. Karakteristik internal adalah karakteristik yang mencirikan responden dan berkaitan dengan diri individu. Terdiri dari jenis kelamin, status ekonomi keluarga, tujuan responden dalam menggunakan ponselnya, serta tingkat aktivitas. 2. Jenis kelamin adalah perbedaan identitas seks responden berdasarkan aspek biologis. Dibagi menjadi kategori skala nominal a. Laki-laki b. Perempuan 3. Tingkat status ekonomi keluarga adalah status dari keluarga responden dalam masyarakat yang dilihat melalui penghasilan orang tua ayah dan ibu responden setiap bulannya. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Status ekonomi keluarga tinggi, apabila penghasilan orang tua >Rp. Status ekonomi keluarga sedang, apabila penghasilan orang tua antara Rp. hingga Rp. 27 c. Status ekonomi keluarga rendah, apabila penghasilan orang tua 28 Pengukuran tingkat aktivitas ini menggunakan skor yaitu sangat aktif 3, aktif 2, kurang aktif 1, serta tidak aktif 0. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Aktivitas tinggi, total skor 21-30 b. Aktivitas sedang, total skor 11-20 c. Aktivitas rendah, total skor ≤ 10 6. Karakteristik eksternal adalah karakteristik yang mencirikan responden dan berkaitan dengan lingkungannya, terdiri dari pengaruh teman dekat serta terpaan media massa. 7. Tingkat pengaruh teman dekat adalah pengaruh dari teman dekat responden dan khususnya yang berkaitan dengan penggunaan ponsel oleh responden. Pengukuran tingkat pengaruh teman dekat ini terdiri dari 4 butir pertanyaan, masing-masing 3 pilihan jawaban. Dengan skor yaitu pengaruh kuat 3, sedang 2, serta kecil 1. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Pengaruh dari teman dekat kuat, total skor 10-12 b. Pengaruh dari teman dekat sedang, total skor 7-9 c. Pengaruh dari teman dekat kecil, total skor 4-6 8. Tingkat terpaan media media exposure massa adalah frekuensi responden dalam menerima informasi tentang ponsel melalui berbagai media, baik media cetak maupun elektronik 6 jenis media televisi, radio, koran, majalah/tabloid, brosur/selebaran dan internet. Pengukuran tingkat terpaan media informasi ini menggunakan skor yaitu sering 3, kadang- 29 kadang/jarang 2, tidak pernah 1. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Terpaan media massa tinggi, total skor 15-18 b. Terpaan media massa sedang, total skor 10-14 c. Terpaan media massa rendah, total skor 6-9 9. Tingkat penggunaan ponsel adalah suatu suatu tingkat yang menunjukkan perilaku penggunaan ponsel oleh responden dan terdiri dari ; 1 frekuensi penggunaan, 2 pemanfaatan fasilitas, 3 tingkat biaya pengeluaran, dan 4 pihak-pihak yang diajak berkomunikasi. Pengukuran tingkat penggunaan ponsel dengan melihat akumulasi skor keempat variabel tersebut 7 butir pertanyaan. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Penggunaan ponsel tinggi, total skor 29-42 b. Penggunaan ponsel sedang, total skor 15-28 c. Penggunaan ponsel rendah, total skor ≤ 14 10. Frekuensi penggunaan adalah tingkat keseringan responden yang berkaitan dengan penggunaan atau pemakaian ponselnya. Pengukuran frekuensi penggunaan ponsel ini terdiri dari 3 butir pertanyaan, masing-masing 4 pilihan jawaban. Dengan skor yaitu frekuensi tinggi 3, sedang 2, serta rendah 1 dan 0. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Frekuensi penggunaan ponsel tinggi, total skor 7-9 b. Frekuensi penggunaan ponsel sedang, total skor 4-6 c. Frekuensi penggunaan ponsel rendah, total skor ≤ 3 11. Pemanfaatan fasilitas adalah pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang terdapat pada ponsel yang dilakukan oleh responden 8 jenis fasilitas telepon, 30 SMS, MMS, kamera, video, permainan, radio/MP3, dan internet. Pengukuran pemanfaatan fasilitas ini menggunakan skor yaitu sering 3, kadang-kadang/jarang 2, tidak pernah 1. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Pemanfaatan ponsel tinggi, total skor 18-24 b. Pemanfaatan ponsel sedang, total skor 14-18 c. Pemanfaatan ponsel rendah, total skor 8-13 12. Tingkat biaya pengeluaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh responden berkaitan dengan penggunaan ponselnya tiap bulan. Dibagi menjadi kategori skala ordinal a. Biaya pengeluaran tinggi skor 3, apabila > Rp. Biaya pengeluaran sedang skor 2, apabila Rp. hingga Rp. Biaya pengeluaran rendah skor 1, apabila 6 32 b. Interaksi tatap muka cukup intens skor 2, apabila jenis pembicaraan sebanyak 4-6 c. Interaksi tatap muka tidak intens skor 1, apabila jenis pembicaraan sebanyak Rp. sampai dengan Rp. 47,9 %, dan status ekonomi keluarga yang tinggi yaitu > Rp. 25 %. Mengenai sumber biaya pendidikan bagi responden, hampir semua responden 97,9 % mengemukakan berasal dari orang tua dan yang sumber biayanya berasal dari wali saudara kandungnya hanya 1 orang responden 2,1 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden masih sepenuhnya bergantung pada keluarga dan belum ada yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya tersebut. Mengingat bahwa responden masih merupakan siswa 40 sekolah sehingga lebih berkonsentrasi pada sekolahnya terlebih dahulu dibanding mencari pekerjaan. Tujuan Penggunaan Ponsel Hasil yang diperoleh mengenai tujuan penggunaan ponsel Tabel 3 menunjukkan bahwa sebenarnya menurut responden penggunaan ponsel cenderung untuk kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu penting dan mendesak, yang berkisar pada sosialisasi serta kegiatannya dengan sesama teman/pacar. Sesuai dengan masa remaja yang identik dengan adanya persahabatan untuk dapat bekerja sama mencapai tujuan bersama dan kegiatan-kegiatan yang dianggapnya menarik untuk mengisi waktu luang Mappiare, 1982. Tabel 3. Jumlah Responden Berdasarkan Tujuan Penggunaan Ponsel Tujuan Penggunaan Ponsel Frekuensi n Untuk informasi penting dan mendesak 11 Untuk sosialisasi dan kegiatan 20 sekolah/les/kursus Untuk hiburan atau pemenuhan hobi 17 JUMLAH 48 Persen % 22,9 41,7 35,4 100 Dapat dilihat bahwa dalam kategori tujuan penggunaan ponsel untuk bersosialisasi, yang paling utama adalah agar dapat terus berhubungan dengan lingkungan sosial responden itu sendiri terutama dengan lingkungan sebaya. Responden sering berkomunikasi atau mengobrol melalui ponsel dengan mereka baik melalui telepon maupun pengiriman pesan-pesan SMS. 41 Mengenai hiburan atau pemenuhan hobi, melalui ponsel responden dapat mengisi waktu luangnya serta menghilangkan kebosanan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan responden dalam salah satu kutipan berikut ”Kalo handphone paling buat sekitar komunikasi ato gak ngobrol ama orangorang terdekat. Sekalian juga bisa buat mengisi waktu luang dan ga’ bosen sih sebenernya..yah tergantung gimana kebutuhan orangnya masing-masing. Sukasukanya dia aja” Jy, perempuan, kelas XI Kategori tujuan penggunaan ponsel untuk informasi yang penting dan mendesak menurut banyak responden bukanlah merupakan tujuan yang utama. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan responden dalam salah satu kutipan berikut ”Menurut aku klo make HP itu lebih untuk yang seneng-senengnya ajah..paling sesekali nanya tugas kaya PR gitu. Itu juga sebenernya ga terlalu urgent banget sih..Kalo yang kaya urgent gitu pernah waktu itu ada bokap temen yang meninggal. Langsung aku kabarin ke yang lain cepet-cepet..yah tapi yang kaya gitu kan jarang-jarang” Na, perempuan, kelas X Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tujuan penggunaan ponsel untuk informasi urgent justru jarang dilakukan. Responden lebih memanfaatkannya untuk kegiatan yang lebih bersifat fun dan tidak terlalu penting. Sedangkan untuk kegiatan yang berhubungan dengan sekolah/les/kursus, responden mengemukakan bahwa mereka menggunakan ponselnya untuk menanyakan tugas-tugas PR. Tingkat Aktivitas Hasil yang diperoleh mengenai tingkat aktivitas responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat aktivitas yang rendah Tabel 4. 42 Tingkat aktivitas rendah disini mempunyai arti bahwa aktivitas di dalam ekstrakurikuler olahraga, musik, organisasi sekolah maupun di luar sekolah bimbingan belajar, kursus bahasa asing, kursus musik, perkumpulan/organisasi remaja yang diikuti oleh responden tidak banyak jumlahnya. Tabel 4. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas Tingkat Aktivitas Tinggi Sedang Rendah JUMLAH Frekuensi n 3 6 39 48 Persen % 6,25 12,5 81,25 100 Perlu diketahui bahwa untuk responden kelas XI dan XII telah mengurangi aktivitasnya agar lebih berkonsentrasi pada penjurusan bidang yang telah diambilnya IPA atau IPS. Bahkan khusus untuk responden kelas XII dalam penelitian ini seluruhnya 100 % memiliki aktivitas yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa responden sebenarnya tidak memiliki banyak aktivitas di luar jam atau waktu sekolahnya. Mengingat bahwa SMUN 68 merupakan SMUN unggulan Jakarta Pusat sehingga responden tidak banyak mengambil kegiatan lain di luar jam sekolah yang dapat menghabiskan waktu, tenaga serta pikiran mereka untuk berkonsentrasi pada bidang akademiknya. Berdasarkan data yang diperoleh mengenai macam-macam aktivitas itu sendiri, diketahui bahwa persentase tingkat keaktifan responden pada aktivitas dalam sekolah yang diikuti adalah sebagai berikut ekstrakurikuler olahraga 50 %, ekstrakurikuler musik 22,9 %, ekstrakurikuler lainnya 16,7 %, OSIS 8,3 %, dan aktivitas lainnya 20,8 %. Sedangkan pada aktivitas luar sekolah adalah sebagai berikut bimbingan belajar 43,75 %, kursus bahasa asing 43 %, kursus musik 4,17 %, organisasi/perkumpulan-perkumpulan remaja 10,42 %, dan aktivitas lainnya 12,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keaktifan responden paling tinggi untuk kegiatan dalam sekolah adalah ekstrakurikuler olahraga dan untuk kegiatan luar sekolah adalah kursus-kursus bahasa asing. Terdapat pernyataan responden mengenai aktivitas atau kegiatan yang diikutinya dalam kutipan berikut ”Diluar jam sekolah ya emang ikut kegiatan laennya..tapi gak ngeganggu waktu sekolah dan ngambil yang manfaatnya banyak. Aku cuma ngikut ekskul basket ama les di-ILP sih, tapi ya itu bermanfaat banget. Trus bisa nambah teman pergaulan baru juga, bisa tau sana-sini” WI, laki-laki, kelas X Kegiatan atau aktivitas yang diikuti oleh responden selain tidak boleh mengganggu jam sekolah mereka, juga harus dapat membawa manfaat yang dapat dirasakan untuk jangka pendek maupun panjang. Ekstrakurikuler olahraga misalnya, dapat menyalurkan hobi positif dan menjaga kebugaran tubuh responden. Selain itu kursus-kursus seperti bahasa asing juga dapat menambah wawasan dan referensi tentang bahasa serta dapat menjadi nilai tambah dalam rekomendasi mereka nantinya sebagai mahasiswa atau ketika bekerja. Karakteristik Eksternal Tingkat Pengaruh Teman Dekat Tingkat pengaruh teman dekat dalam penelitian ini menunjukkan hasil bahwa keberadaan teman dekat mempunyai pengaruh yang cukup kuat bagi responden. Hal tersebut dilihat dari 91,7 % responden mengemukakan keberadaan teman dekat mereka mempunyai pengaruh yang sedang hingga kuat Tabel 5. 44 Tabel 5. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pengaruh Teman Dekat Tingkat Pengaruh Teman Dekat Kuat Sedang Kecil JUMLAH Frekuensi n 20 24 4 48 Persen % 41,7 50 8,3 100 Responden sebagai kelompok remaja memiliki kecenderungan untuk mengikuti bagaimana atau seperti apa keadaan teman-teman dekatnya yang merupakan kelompok sebaya. Seperti yang diungkapkan oleh Mappiare 1982 bahwa dalam persahabatan itu remaja dapat merasa dibutuhkan, dihargai dan dengan demikian mereka dapat merasa adanya kepuasan dalam interaksi sosialnya. Berdasarkan data yang diperoleh mengenai jumlah teman, diketahui bahwa sebagain besar responden 64,6 % memiliki > 5 orang teman dekat, lalu 3-4 orang teman dekat 20,8 % dan hanya 1-2 orang teman dekat 14,6 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki teman dekat dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan semakin banyak jumlah teman dekat dapat membuat keberadaan responden semakin diakui dalam lingkungan teman sebayanya tersebut. Selain itu keberadaan teman dekat juga dapat menjadi tempat berkeluh kesah, menambah percaya diri dan mempunyai pikiran yang sejalan dimana pada akhirnya dapat mempengaruhi responden dalam kesehariannya. Terdapat pernyataan responden mengenai keberadaan teman dekat baginya dalam kutipan berikut ”Kalo temen kaya geng-geng gitu sih pasti ada disini, ada yang pake nama juga malahan...yang pasti cari temen yang setipe lah, yang nyambung ama kita. Bisa buat curhat ama ngobrolin segala macem juga. Ga mungkinkan punya temen deket tapi ga sejalan” Na, perempuan, kelas X 45 Mengenai respon dari teman dekat responden mengenai penggunaan ponsel, sebagian besar responden 50 % mengatakan bahwa teman dekat mereka sangat mendukung dalam menggunakan ponsel untuk kegiatan sehari-hari. Sisanya cukup mendukung 41,7 % dan tidak mendukung 8,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa teman-teman dekat responden hampir seluruhnya mendukung dan merasa setuju dengan hal-hal yang berkaitan penggunaan ponsel dalam keseharian mereka. Tingkat Terpaan Media Massa Tingkat terpaan media massa dalam penelitian ini menunjukkan bahwa responden menerima informasi mengenai ponsel menggunakan media massa tergolong cukup tinggi. Hal tersebut dilihat dari sebagian besar responden hampir 80 % yang memiliki tingkat terpaan media massa sedang hingga tinggi Tabel 6. Media massa yang dimaksud disini meliputi media cetak maupun elektronik yaitu televisi, radio, koran, majalah/tabloid, brosur/selebaran, dan internet. Tabel 6. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Terpaan Media Massa Tingkat Terpaan Media Massa Tinggi Sedang Rendah JUMLAH Frekuensi n 17 21 10 48 Persen % 35,4 43,8 20,8 100 Responden merasa bahwa informasi-informasi mengenai teknologi seperti ponsel penting untuk diketahui agar tidak membuat mereka menjadi ketinggalan informasi dan tidak mengerti perkembangan teknologi terbaru gaptek gagap 46 teknologi. Terdapat pernyataan responden mengenai media massa dalam kutipan berikut ”Biar ga ketinggalan informasi-informasi yang canggih emang harus seringsering liat media buat cari tau. Apalagi tentang HP, itukan cepet banget perkembangannya. Hampir tiap bulan ada aja yang baru modelnya dikeluarin. Masa ntar ga tau masalah begituan, jadi orang gaptek dong!” AFP, laki-laki, kelas XI Berdasarkan data yang diperoleh mengenai media massa itu sendiri, diketahui bahwa persentase tingkat keseringan responden dalam menerpa media mengenai ponsel adalah sebagai berikut televisi 45,8 %, radio 16,7 %, koran 47,9 %, majalah/tabloid 41,7 %, brosur/selebaran 4,17 % dan internet 22,9 %. Hal ini menunjukkan bahwa media massa yang paling sering diterpa oleh responden dalam kaitannya dengan informasi ponsel adalah koran. Diduga biasanya hampir setiap keluarga berlangganan koran, sehingga setiap hari responden dapat mengetahui perkembangan yang paling akurat. Selain itu koran pada umumnya secara intens memberikan informasi mengenai ponsel, baik melalui iklan, promosi maupun informasi khusus yang biasanya disediakan pada kolom-kolom tertentu. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Ponsel Pada Remaja Frekuensi Penggunaan Ponsel Frekuensi penggunaan ponsel menunjukkan tingkat keseringan responden dalam penggunaan atau pemakaian ponselnya sehari-hari. Berdasarkan data yang diperoleh Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar responden menggunakan ponselnya dengan frekuensi sedang hingga tinggi. Ponsel pada saat ini dianggap menjadi suatu kebutuhan sehari-hari yang penting bagi responden, sebagai kelompok remaja perkotaan. Tabel 7. Jumlah Responden Berdasarkan Frekuensi Penggunaan Ponsel Frekuensi Penggunaan Ponsel Tinggi Sedang Rendah JUMLAH Frekuensi n 13 24 11 48 Persen % 27,1 50 22,9 100 Dari data lain yang diperoleh mengenai frekuensi penggunaan ponsel, diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 47,9 % menggunakan ponsel sekitar 20 kali dalam satu hari. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata setiap harinya responden menggunakan ponsel sekitar 20 kali. Penggunaan ponsel tersebut sebagian besar 52,1 % untuk menerima dan mengirim panggilan, baik itu panggilan berupa telepon maupun SMS, dan selanjutnya hanya untuk sekedar 48 hiburan atau bermain sebanyak 31,2 %. Lalu sisanya hanya untuk menerima atau mengirim panggilan saja. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata responden menggunakan ponsel mereka setiap harinya tersebut lebih banyak pada kegiatan menerima dan mengirim panggilan telepon atau SMS. Kegiatan ini yang menyebabkan frekuensi penggunaan ponsel oleh responden menjadi cukup tinggi. Penggunaan ponsel tertinggi dilakukan pada waktu yang tidak tentu yaitu sebanyak 58,3 % responden menjawab hal tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa responden menggunakan ponsel dapat kapan saja pada waktu yang tidak tentu, tergantung dari panggilan yang ada dan keinginan untuk mengisi waktunya. Sisanya pada waktu malam hari 18,75 %, siang sampai sore hari 18,75 % dan pagi hari 4,2 %. Terlihat bahwa responden jarang menggunakan ponselnya ketika pagi hari, karena pada waktu tersebut responden lebih sibuk untuk menyiapkan diri berangkat sekolah atau justru sebaliknya masih tidur ketika sedang hari libur misalnya. Terdapat pernyataan responden mengenai frekuensi penggunaan ponsel dalam kutipan berikut ”Klo gunain hp sih tiap hari. Tiap saat malah..sering banget. Pokoknya gak bisa lepas seharipun tanpa hp. Makenya juga ga bisa ditentuin kapan aja waktunya yang paling sering. Ya bisa pagi, siang, ato justru pas malem juga malah bisa sering make hp aku” Wy, perempuan, kelas XII Pemanfaatan Fasilitas Ponsel Pemanfaatan fasilitas ponsel dalam penelitian ini menunjukkan bagaimana responden memanfaatkan berbagai jenis fasilitas yang terdapat pada ponselnya. Berdasarkan data yang diperoleh Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar responden 87,5 % berada dalam kategori pemanfaatan fasilitas ponsel sedang hingga tinggi. Hal ini berarti responden memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang 49 terdapat pada ponselnya tergolong cenderung tinggi. Fasilitas ponsel biasanya dibagi menjadi dua bagian, yaitu fasilitas untuk menerima dan mengirim panggilan serta fasilitas dalam hal hiburan. Tabel 8. Jumlah Responden Berdasarkan Pemanfaatan Fasilitas Ponsel Pemanfaatan Fasilitas Ponsel Pemanfaatan ponsel tinggi Pemanfaatan ponsel sedang Pemanfaatan ponsel rendah JUMLAH Frekuensi n 15 27 6 48 Persen % 31,25 56,25 12,5 100 Dari data lain mengenai jenis fasilitas yang diperoleh, diketahui bahwa fasilitas untuk menerima dan mengirim panggilan terbanyak berupa SMS yaitu sebanyak 87,5 % responden sering memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sisanya berupa fasilitas telepon 37,5 % dan hanya 1 orang responden 2,1 % yang sering memanfaatkan fasilitas MMS. Hal ini menunjukkan bahwa responden lebih menyukai fasilitas SMS, dikarenakan faktor biaya yang lebih murah serta dapat mencakup banyak karakter tulisan untuk sekali kirim. Menurut responden untuk fasilitas telepon mempunyai kelebihan yaitu pada komunikasinya secara lebih langsung yang tentu saja dapat meminimkan terjadinya kesalahpahaman. Tetapi fasilitas telepon ini membebankan biaya yang lebih tinggi dibanding SMS. Sedangkan untuk MMS hanya satu orang responden yang sering memanfaatkannya, hal ini dikarenakan MMS dirasa tidak terlalu penting dan hanya untuk mengirim gambar atau suara tertentu saja dengan kapasitas yang besar dan biaya yang lebih. Disamping itu sekarang responden lebih menyukai untuk mengirim melalui infrared atau bluetooth, dimana kedua 50 hal ini tidak dikenai biaya. Terdapat pernyataan responden mengenai dalam kutipan berikut ”Paling enak dari Handphone itu SMS-nya. Udah paling top lah itu, bisa ga brenti-brenti kalo dah mulai SMS-an. Bisa nulis banyak apa aja, cepet, murah pula apalagi kalo sesama operator. Paling praktis langsung nyampe, tapi itu kalo ga error sih ya tapi..kalo mau yang lebih jelas sih lewat telfon emang lebih bagus” CF, perempuan, Kelas XI Fasilitas ponsel dalam hal hiburan, terbanyak responden 31,25 % paling sering memanfaatkan fasilitas radio dan MP3. Selanjutnya diikuti secara berurutan dengan fasilitas permainan games, kamera, video, dan yang terakhir adalah internet. Hal ini menunjukkan bahwa untuk fasilitas hiburan yang paling banyak dimanfaatkan adalah radio dan MP3. Fasilitas ini semakin menarik mengingat semakin maraknya variasi lagu MP3 dari artis-artis lokal maupun internasional yang dapat dijadikan nada dering ponsel. Begitu juga dengan fasilitas radio, yang membuat responden dapat mendengarkan radio dimana saja dan kapan saja melalui ponselnya. Fasilitas ponsel yang paling sedikit dimanfaatkan adalah internet, hal ini dikarenakan tingkat kecanggihan yang sangat tinggi sehingga masih tidak banyak ponsel yang memiliki fasilitas tersebut. Selain itu dengan memanfaatkan fasilitas internet melalui ponsel dapat dikenai biaya yang cukup tinggi. Terdapat pernyataan responden dalam kutipan berikut ”HP yang aku punya sekarang ama temen-temen aku termasuk yang lagi lumayanlah. Lengkap fasilitasnya, jadi bisa buat macem-macem hpnya gak garing. Klo cuma radio, MP3 ama kamera ato video itu dah standar banget sekarang. Yang makin keren tuh klo bisa internet ato chatting, sama kualitas tiap fasilitasnya yang lebih canggih ” RKJ, perempuan, kelas X 51 Ponsel yang terdapat sekarang ini semakin canggih dan menjadi semakin multifungsi, dimana hal tersebut menjadikan respon khususnya bagi kelompok remaja perkotaan cukup tinggi. Walaupun belum tentu penggunaan ponsel tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dan penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tingkat Biaya Pengeluaran Tingkat biaya pengeluaran menunjukkan biaya yang dikeluarkan oleh responden berkaitan dengan penggunaan ponselnya tiap bulan Tabel 9. Biaya yang dikeluarkan untuk ponsel ini bervariasi mulai dari Rp. Tabel 9. Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Biaya Pengeluaran Tingkat Biaya Pengeluaran Tinggi Sedang Rendah JUMLAH Frekuensi n 7 6 35 48 Persen % 14,6 12,5 72,9 100 Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden 72,9 % memiliki biaya pengeluaran ponsel yang rendah yaitu Rp. dan terakhir sebanyak 12,5 % responden memiliki biaya pengeluaran ponsel yang sedang yaitu Rp. hingga Rp. setiap bulannya. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mengeluarkan biaya untuk keperluan ponsel setiap 52 bulannya tergolong rendah tidak banyak, yaitu sekitar 7 jam, waktu interaksi yang sedang yaitu 5-7 jam, dan waktu interaksi yang rendah yaitu 11 jam, waktu interaksi yang sedang yaitu 9-11 jam, dan waktu interaksi yang rendah yaitu < 9 jam. Hal ini dikarenakan dengan perhitungan waktu sekolah SMUN 68 sebanyak 8,5 jam yaitu pukul WIB sampai pukul WIB, lalu ditambah dengan kegiatan lain yang diikuti baik di dalam maupun di luar sekolah apabila ada. Variabel waktu interaksi tatap muka antara responden dengan keluarga dan teman atau pacar tersebut dapat menunjukkan bahwa keduanya hampir sama, yaitu memiliki waktu yang mayoritas berada dalam kategori sedang hingga rendah. Hal ini sangat disayangkan mengingat dari berbagai jenis komunikasi yang ada, komunikasi antar manusia yang langsung bertatap muka adalah yang efektif serta paling lengkap mengandung berbagai aspek psikologis Sarwono, 2002. Hanya saja untuk kategori waktu interaksi yang tinggi, lebih banyak pada responden dengan teman atau pacar dibanding dengan keluarga mereka. Dapat diketahui bahwa dalam waktu interaksi tatap muka yang dihabiskan responden dengan lingkungan sosial mereka, teman atau pacar sedikit lebih tinggi dibanding dengan keluarga. Terdapat pernyataan responden mengenai waktu interaksi mereka dengan lingkungan sosialnya dalam kutipan berikut ”Pas hari-hari sekolah yang senin-jumat ya biasanya gw paling sering ketemunya ama temen-temen. Kan banyaknya diabisin di luar rumah waktunya. Sabtu-minggu paling cuma sore ato malemnya aja klo jalan ama mereka. Tapi diusahain seimbang jugalah waktu buat bareng-bareng keluarga gw, walopun pada sibuk masing-masing sih” H, laki-laki, kelas X 68 Intensitas Interaksi Tatap Muka Intensitas interaksi pada penelitian ini menunjukkan bagaimana keluasan pembicaraan dalam interaksi tatap muka yang terjadi pada responden dengan lingkungan sosial keluarga Tabel 20 dan lingkungan sosial pertemanan atau pacar Tabel 21. Tabel 20. Jumlah Responden Berdasarkan Intensitas Interaksi Tatap Muka Dengan Keluarga Intensitas Interaksi Tatap Muka Sangat intens Cukup intens Tidak intens JUMLAH Frekuensi n 22 17 9 48 Persen % 45,8 35,4 18,8 100 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden hampir 82 % memiliki interaksi yang tergolong cukup hingga sangat intens dengan lingkungan keluarga mereka. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi secara tatap muka langsung antara responden dengan lingkungan keluarga mereka tergolong intens, yang artinya bahwa topik pembicaraan diantara mereka luas. Tabel 21. Jumlah Responden Berdasarkan Intensitas Interaksi Tatap Muka Dengan Teman/Pacar Intensitas Interaksi Tatap Muka Sangat intens Cukup intens Tidak intens JUMLAH Frekuensi n 11 25 12 48 Persen % 22,9 52,1 25 100 69 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden 52,1 % memiliki intensitas interaksi yang cukup dengan teman atau pacar mereka. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi secara tatap muka langsung antara responden dengan lingkungan teman atau pacar mereka tergolong sedang cukup rendah intensitasnya, yang artinya bahwa topik pembicaraan diantara mereka tidak terlalu luas. Variabel intensitas interaksi tatap muka antara responden dengan keluarga dan teman atau pacar tersebut dapat menunjukkan bahwa topik pembicaraan antara responden dengan lingkungan keluarga lebih luas dibanding lingkungan pertemanan atau pacar. Hal ini berarti interaksi responden tatap muka lebih intens dengan keluarga mereka. Biasanya remaja ketika sedang berhubungan atau berkomunikasi dengan lingkungan teman sebayanya lebih kearah topik yang bersifat fun, menarik, seru dan hal-hal yang berkaitan dengan keadaan sehari-hari mereka tidak terlalu menyangkut hal-hal yang sangat penting/urgent. Responden dengan keluarga biasanya topik pembicaraan lebih memungkinkan mulai dari hal-hal yang ringan bahkan sampai topik yang penting menyangkut masa depan remaja tersebut. Sehingga tingkat interaksinya dapat dikatakan lebih intens dalam hal keluasan topik pembicaraan. Terdapat pernyataan responden mengenai intensitas interaksi mereka secara tatap muka dengan lingkungan sosialnya dalam kutipan berikut ”Yang diomongin aku ama temen-temen aku kalo ketemu banyak sih, biasanya gosip ato trend sekarang-sekarang ini. Trus ngomongin soal nyontek-nyontekan ato cowo masing-masing juga seru. Tapi klo ama keluarga lebih banyak lagi itu biasanya. Abis dari yang masalah kecil urusan sehari-hari ampe yang soal masa depan aku suka diomongin ama keluarga, apalagi ama kakak aku kebetulan sama-sama perempuan juga sih kita FH, perempuan, kelas XI 70 Interaksi Sosial Remaja Secara Umum Interaksi sosial dalam penelitian ini menunjukkan bagaimana interaksi secara tatap muka yang terjadi antara responden dengan lingkungan sosialnya dan dilihat dari waktu serta intensitas interaksi tersebut Tabel 22. Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa sebagian besar responden 56,3 % berada dalam kategori interaksi sosial yang sedang dengan lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial yang dimaksudkan disini adalah lingkungan sosial sosial yang paling dekat serta berpengaruh dalam kehidupan remaja, yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanan. Tabel 22. Jumlah Responden Berdasarkan Interaksi Sosial Remaja Interaksi Sosial Dekat Sedang Renggang JUMLAH Frekuensi n 11 27 10 48 Persen % 22,9 56,3 20,8 100 Interaksi sosial dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa dalam hal waktu interaksi tatap muka yang dihabiskan responden dengan lingkungan sosial mereka cenderung sedang hingga rendah. Tetapi apabila dibandingkan, maka lingkungan teman atau pacar sedikit lebih tinggi dibanding dengan keluarga. Sedangkan dalam hal intensitas interaksi tatap muka, topik pembicaraan antara responden dengan lingkungan keluarga lebih luas dibanding lingkungan pertemanan atau pacar. Dengan begitu menjadikan interaksi responden lebih intens dengan keluarga mereka. 71 Hal tersebut mempunyai makna bahwa dalam keseharian responden tergolong kurang dalam menghabiskan waktu mereka secara tatap muka dengan lingkungan sosialnya. Tetapi dalam hal intensitas dari interaksi itu sendiri, yaitu keluasan atau banyaknya topik pembicaraan yang sering dibicarakan, maka antara responden dengan keluarga mereka lebih intens dibandingkan dengan teman atau pacar. Responden lebih banyak membicarakan beragam topik pembicaraan dengan keluarga mereka, mulai dari pembicaraan ringan sampai pada pembicaraan yang penting menyangkut masa depan responden. Dengan begitu dapat diketahui bahwa responden berinteraksi secara tatap muka dengan kurang terhadap lingkungan keluarga maupun lingkungan pertemanan atau pacar. Waktu yang dihabiskannya cenderung dalam waktu yang sedang hingga rendah. Namun dalam hal intensitas, responden berinteraksi lebih intens dengan keluarga mereka dibanding dengan teman atau pacar. Dalam hal ini topik pembicaraannya lebih luas dibanding responden dengan teman-teman atau pacarnya. Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja Pengaruh tingkat penggunaan ponsel data ordinal terhadap interaksi sosial remaja secara tatap muka data ordinal menggunakan uji hubungan. Hasil analisis menunjukkan nilai P-Value adalah 0,926, yang nilainya lebih besar dari 0,1 α = 10 %. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat penggunaan ponsel dengan interaksi sosial remaja secara tatap muka. 72 Tabel 23. Hubungan Tingkat Penggunaan Ponsel Dengan Interaksi Sosial Interaksi Sosial Tatap Muka Renggang Sedang Dekat Jumlah Tingkat Penggunaan Ponsel Rendah Sedang Tinggi n % n % n % 2 100 4 12,5 4 28,6 0 0 20 62,5 7 50 0 0 8 25 3 21,4 2 100 32 100 14 100 *p-value 0,926 Dari tidak adanya hubungan yang signifikan tersebut, dapat dianalisis mengenai tingkat penggunaan ponsel dan interaksi sosial responden. Jika melihat pada tabel 11 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden menggunakan ponselnya dalam kategori yang cukup tinggi. Melalui penggunaan ponsel sebagai media komunikasi yang cenderung tinggi tersebut, seharusnya dapat mempererat interaksi sosial antara responden dengan lingkungannya. Ternyata dalam hal interaksi secara tatap muka, penggunaan ponsel itu tidak menjadikan responden jauh lebih dekat dengan lingkungan keluarga maupun lingkungan sebayanya. Terlihat pada tabel 23 dapat diketahui bahwa untuk responden dengan tingkat penggunaan ponsel yang sedang maupun tinggi sebagian besar hanya berada dalam interaksi sosial secara tatap muka yang sedang. Sedangkan untuk responden dengan tingkat penggunaan ponsel yang rendah, semuanya berada dalam interaksi sosial secara tatap muka yang renggang. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ponsel tidak mempengaruhi bagaimana interaksi sosial yang terjalin secara tatap muka antara responden dengan lingkungannya. Hal tersebut tidak sesuai seperti yang dikemukakan Budyatna 2005 bahwa bentuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah yang bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat 73 dinamis dan timbal balik. Budyatna 2005 melihat bahwa dengan munculnya penggunaan ponsel mempengaruhi proses yang transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun kualitas dan kuantitasnya pada interaksi tatap muka. Interaksi sosial secara tatap muka tetap saja cenderung sedang walaupun responden semakin tinggi menggunakan ponselnya. Responden menganggap ponsel sebagai media komunikasi dan juga media hiburan yang menjadi kebutuhan sehari-hari yang penting. Jadi memang responden menjadi cenderung tinggi tingkat penggunaan ponselnya, tetapi dengan tidak diikuti dengan interaksi tatap muka yang semakin dekat. Berdasarkan semua data yang telah diperoleh, dapat dilakukan analisis lebih mendalam mengenai interaksi sosial responden. Jika melihat pada tabel 10, dapat diketahui bahwa pihak yang diajak berkomunikasi melalui ponsel paling sering adalah pihak teman atau pacar dibanding keluarga. Tetapi bila melihat pada tabel 18 dan 19, dapat diketahui bahwa waktu interaksi secara tatap muka antara responden dengan lingkungan sosialnya tergolong kurang dalam rata-rata setiap harinya. Hanya saja apabila dibandingkan, untuk lingkungan teman atau pacar sedikita lebih tinggi dibanding keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa responden memang lebih sering berinteraksi dengan teman atau pacarnya dibanding dengan keluarganya. Mengenai intensitas interaksi, jika melihat pada tabel 20 dan 21 maka interaksi antara responden dengan keluarga jauh lebih intens dibanding dengan teman atau pacar. Hal ini menunjukkan ketika bertemu secara tatap muka, topik pembicaraan yang sedang berlangsung lebih luas banyak antara responden 74 dengan keluarga. Mulai dari pembicaraan ringan sampai pada pembicaraan yang penting menyangkut masa depan responden. Sedangkan responden dengan lingkungan sebayanya cenderung membicarakan mengenai pembicaraan ringan sehari-hari, gosip, seputar tugas atau pekerjaan sekolah dan hal-hal lain yang bersifat kurang penting urgent. Baik pembicaraan tersebut ketika melalui ponsel maupun secara langsung tatap muka. Dengan begitu dapat diketahui bahwa interaksi antara responden dengan lingkungan teman atau pacar lebih baik dalam hal kuantitas. Sedangkan interaksi antara responden dengan lingkungan keluarga lebih baik dalam hal kualitas. Ikhtisar Penelitian ini menghubungkan antara variabel pengaruh dan variabel terpengaruh dalam hal karakteristik responden, penggunaan ponsel dan interaksi sosial remaja dengan lingkungannya tabel 24. Tabel 24. Hubungan Variabel Pengaruh Dan Variabel Terpengaruh Variabel Pengaruh Jenis Kelamin Status Ekonomi Keluarga Tujuan Penggunaan Ponsel Tingkat Aktivitas Tingkat Pengaruh Teman Dekat Tingkat Terpaan Media Massa Tingkat Penggunaan Ponsel Variabel Terpengaruh Tingkat Penggunaan Ponsel Tingkat Penggunaan Ponsel Tingkat Penggunaan Ponsel Tingkat Penggunaan Ponsel Tingkat Penggunaan Ponsel Tingkat Penggunaan Ponsel Interaksi Sosial Koefisien Korelasi 0,182 0,524 0,442 0,101 0,364 -0,081 0,014 Keterangan Tidak terdapat hubungan Terdapat hubungan Terdapat hubungan Tidak terdapat hubungan Terdapat hubungan Tidak terdapat hubungan Tidak terdapat hubungan 75 Tingkat penggunaan ponsel diduga dipengaruhi oleh beberapa variabel karakteristik responden internal dan eksternal. Berdasarkan tabel 24 dapat diketahui bahwa karakteristik internal yang mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel responden adalah status ekonomi keluarga dan tujuan penggunaan ponsel. Sedangkan karakteristik eksternal yang mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel responden adalah teman dekat. Status ekonomi keluarga yang dilihat dari penghasilan orang tua tiap bulannya dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel responden. Semakin tinggi status ekonomi keluarga maka memungkinkan peningkatan dalam hal penggunaan pulsa ponsel responden. Mengingat bahwa dalam penggunaan ponsel responden bukan hanya pada kegiatan hiburan, tetapi juga terdapat kegiatan mengirim dan menerima panggilan yang membutuhkan biaya pulsa. Tujuan penggunaan ponsel dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel responden. Menurut responden penggunaan ponsel cenderung untuk kegiatan-kegiatan yang berkisar pada sosialisasi serta kegiatan sekolah/kursus/lesnya. Hal ini yang membuat tingkat penggunaan ponsel oleh responden menjadi cenderung tinggi. Responden dengan tujuan penggunaan untuk hal-hal yang penting atau mendesak justru cenderung rendah penggunaan ponselnya. Dengan begitu dapat dilihat bahwa memang responden cenderung memandang ponsel sebagai suatu media hiburan dan komunikasi yang sifatnya tidak untuk hal-hal penting atau mendesak urgent. Teman dekat responden dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel karena keberadaan teman dekat tersebut kuat pengaruhnya dalam kehidupan responden. Teman dekat responden tersebut pada umumnya mendukung 76 penggunaan ponsel dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini mengingat bahwa responden merupakan kelompok remaja dimana mereka ingin masuk serta diterima dalam kelompok sebayanya peer-group, sehingga mereka cenderung mengikuti dan mengacu pada keberadaan teman-temannya tersebut. Variabel lainnya seperti jenis kelamin, tingkat aktivitas dan terpaan media massa tidak mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel responden. Remaja perempuan lebih sering dan intens berkomunikasi dengan sesamanya melalui ponsel. Sedangkan remaja laki-laki cenderung menggunakan ponsel cenderung fungsinya sebagai media hiburan. Dengan begitu penggunaan ponsel oleh remaja perempuan dan laki-laki memang cenderung sama yaitu tinggi. Tingkat aktivitas responden yang cenderung rendah tidak mempengaruhi penggunaan ponsel. Responden dengan aktivitas di dalam maupun di luar sekolahnya yang rendah tidak menjadikan penggunaan ponselnya menjadi menurun. Dengan aktivitas bagaimanapun, penggunaan ponsel responden tetap saja cenderung tinggi. Terpaan media massa menunjukkan sebagian besar responden tergolong tinggi dalam menerima informasi mengenai ponsel melalui media massa. Tetapi informasi tersebut hanya bersifat informatif saja, tidak sampai mempengaruhi bagaimana perilaku responden menggunakan ponselnya sehari-hari. Mengenai interaksi responden secara tatap muka, dalam hal waktu interaksi tatap muka yang dihabiskan responden dengan lingkungan sosial mereka cenderung sedang hingga rendah. Tetapi apabila dibandingkan, maka lingkungan teman atau pacar sedikit lebih tinggi dibanding dengan keluarga. Sedangkan dalam hal intensitas interaksi tatap muka, topik pembicaraan antara responden 77 dengan lingkungan keluarga lebih luas dibanding lingkungan pertemanan atau pacar. Tingkat penggunaan ponsel tidak mempengaruhi interaksi sosial responden dengan lingkungan sosialnya secara tatap muka. Responden menganggap ponsel sebagai media komunikasi dan juga media hiburan yang menjadi kebutuhan sehari-hari yang penting. Sehingga penggunaan ponsel oleh responden baik laki-laki maupun perempuan memang cenderung tinggi. Tetapi dalam hal interaksi tatap muka dengan lingkungan sosialnya, responden sebagai kelompok remaja memang tergolong sedang hingga rendah. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi responden yang cenderung rendah tersebut tidak hanya disebabkan oleh penggunaan ponsel yang tinggi. Terdapat faktor-faktor lainnya, mengingat bahwa responden bersekolah pada SMUN unggulan Jakarta sehingga sangat berkonsentrasi pada pelajaran akademiknya serta semakin tingginya penggunaan media-media teknologi lainnya yang dapat memungkinkan interaksi responden menjadi rendah secara tatap muka dengan lingkungan sosialnya. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat penggunaan ponsel pada remaja cenderung tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ponsel sebagai media komunikasi dan juga media hiburan dianggap menjadi kebutuhan sehari-hari yang penting bagi remaja, baik remaja laki-laki maupun perempuan. Selain itu juga remaja menggunakan ponsel cenderung pada waktu yang tidak tentu, tergantung dari panggilan yang ada dan keinginan untuk mengisi waktunya. Mengenai fasilitas pada ponsel, remaja cenderung tinggi memanfaatkan dalam kesehariannya. Tetapi dari jenis-jenis fasilitas yang dimanfaatkan tersebut dapat terlihat bahwa remaja juga mempertimbangkan faktor-faktor biaya, sehingga tidak terlalu memberatkan pihak orang tua sebagai sumber biaya pengeluaran seharihari. Dengan begitu biaya pengeluaran ponsel remaja tergolong rendah, tetapi biaya tersebut diperkirakan akan meningkat ketika remaja mulai memasuki kegiatan perkuliahan nantinya. Remaja dalam menggunakan ponselnya sebagian besar menghubungi pihak yang berada dalam lingkungan sebayanya, yaitu teman atau pacar. Hal ini dikarenakan remaja merasa belum cukup untuk berkomunikasi atau berhubungan ketika bertemu saja dengan teman atau pacar. Selain itu faktor kesibukan orang tua atau saudara dapat menjadikan remaja jarang menghubunginya melalui ponsel. Karakteristik internal yang mempengaruhi penggunaan ponsel adalah status ekonomi keluarga dan tujuan penggunaan ponsel. Status ekonomi keluarga 79 yang dilihat dari penghasilan orang tua tiap bulannya dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel. Semakin tinggi status ekonomi keluarga maka dapat meningkatkan pembelian pulsa, menyangkut penggunaan ponsel remaja. Sedangkan mengenai tujuan penggunaan ponsel, menurut remaja penggunaan ponsel cenderung lebih banyak untuk kegiatan-kegiatan yang berkisar pada sosialisasi serta kegiatan sekolah/kursus/lesnya dan untuk hiburan pemenuhan hobi, bukan untuk hal-hal yang cenderung penting atau mendesak. Hal ini yang membuat tingkat penggunaan ponsel remaja menjadi cenderung tinggi. Karakteristik eksternal yang mempengaruhi penggunaan ponsel remaja adalah keberadaan teman dekat. Teman dekat tersebut sebagian besar mempunyai pengaruh yang kuat terhadap remaja dan pada umumnya mendukung penggunaan ponsel dalam kehidupan sehari-hari mereka. Disini kelompok remaja memiliki kecenderungan untuk mengikuti bagaimana atau seperti apa keadaan teman-teman dekatnya yang merupakan kelompok sebaya peer-group. Mengenai interaksi remaja, penelitian ini melihat suatu variabel interaksi sosial dari waktu dan intensitas tingkat keluasan pembicaraan interaksi antara remaja dengan lingkungan sosialnya secara tatap muka. Berdasarkan semua data yang diperoleh dapat diketahui bahwa interaksi antara remaja dengan lingkungan teman atau pacar lebih baik dalam hal kuantitas, yang berarti lebih sering waktunya dalam bertemu secara tatap muka. Sedangkan interaksi antara remaja dengan lingkungan keluarga lebih baik dalam hal kualitas, yang berarti topik pembicaraan yang dibicarakan lebih intens. Remaja lebih membicarakan beragam topik pembicaraan dengan keluarga mereka, mulai dari pembicaraan ringan sampai pada pembicaraan yang penting menyangkut masa depan remaja. 80 Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel tidak mempengaruhi interaksi remaja secara tatap muka. Hal tersebut berlawanan dengan teori yang dikemukakan oleh Budyatna 2005, yaitu dengan munculnya penggunaan ponsel dapat mempengaruhi suatu proses yang bersifat transaksional dalam interaksi tatap muka. Penggunaan ponsel remaja laki-laki maupun perempuan memang cenderung tinggi. Tetapi dalam hal interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya tetap saja cenderung kurang. Dapat disimpulkan bahwa interaksi remaja tersebut tidak hanya disebabkan oleh tingkat penggunaan ponsel yang tinggi. Banyak terdapat faktor-faktor lainnya dalam karakteristik remaja, seperti semakin tingginya beban akademik, mulai mengkonsumsi media-media massa atau teknologi dengan tinggi serta cenderung lepas dengan lingkungan sosial keluarganya. Dengan begitu terlihat bahwa memang kelompok usia remaja cenderung kurang interaksinya secara tatap muka dengan lingkungan sosialnya. Saran Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan tersebut, maka penulis memberikan saran kepada beberapa pihak 1. Masyarakat Kepada kelompok remaja hendaknya dapat meluangkan waktu yang lebih banyak lagi secara tatap muka langsung dengan lingkungan sosialnya serta menambah kegiatan atau aktivitas di luar jam sekolahnya. Mengingat dalam penelitian ini sebagian besar remaja memiliki tingkat aktivitas yang rendah dan adanya karakteristik remaja cenderung melepaskan diri dengan 81 lingkungan keluarganya. Dengan begitu dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas interaksi secara tatap muka remaja tersebut. Khusus kepada orang tua hendaknya lebih berperan dalam meminimalkan pengaruh-pengaruh negatif yang dapat muncul dari pergaulan remaja saat ini. Mengingat bahwa pengaruh eksternal dari teman dekat sangatlah kuat bagi remaja itu sendiri. 2. Pengusaha ponsel Selain memberikan iklan atau promosi yang semakin gencar mengenai produknya, hendaknya pengusaha ponsel juga memberikan informasi mengenai dampak-dampak lain dari penggunaan ponsel itu sendiri. Misalnya dampak yang timbul dari segi sosial, psikologis, maupun keuangan finansial. 3. Penelitian selanjutnya Kepada penelitian selanjutnya yang ingin membahas mengenai permasalahan serupa dengan penelitian ini hendaknya menggunakan lokasi dan sampel dari lapisan masyarakat yang berbeda. Dengan begitu dapat ditemukan suatu hasil yang berbeda pula serta relevansinya dengan teori tertentu. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Kamus Sosial. Edisi baru. Depok FISIP UI, 2001. Apriyanti, Rika. Pengaruh Majalah Remaja Terhadap Gaya Hidup Remaja Putri. Skripsi. Bogor Fakultas Pertanian IPB, 2005. Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia, Teori Dan Pengukurannya. Edisi Kedua. Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2003. Badwilan, Rayyan Ahmad. Rahasia Dibalik Handphone. Jakarta Darul Falah, 2004. Brotosiswoyo, B. Suprapto. ‘Dampak Sistem Jaringan Global Pada Pendidikan Tinggi Peta Permasalahan’. Komunika. No 28/IX. Tangerang Universitas Terbuka, 2002. Budyatna, M. ’Pengembangan Sistem Informasi Permasalahan Dan Prospeknya’. Komunika. Vol 8 No 1, 2005. Calhoun, James F dan Joan Ross Acocella. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Semarang IKPI Semarang Press, 1995. DeVito, Joseph A. Komunikasi Antar Manusia. Edisi Kelima. Jakarta Professional Books, 1997. Fiati, Rina. Akses Internet Via Ponsel. Yogyakarta Penerbit Andi Yogyakarta, 2005. Gea, Antonius Atosokhi, Antonio Panca Yuni Wulandari & Yohanes Babari. Character Building II, Relasi Dengan Sesama. Jakarta PT Gramedia, 2003. Gerungan, Psikologi Sosial. Bandung PT Refika Aditama, 2004. Harmandini, Felicitas. ‘Ponsel CDMA, Murah Tapi Terbatas’. Kompas, 23 Desember 2005. Hassan, M. Iqbal. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian Dan Aplikasinya. Jakarta Ghalia Indonesia, 2002. Hassan, Fuad. Teknologi Dan Dampak Kebudayaannya Tantangan Dalam Laju Teknologi. Orasi Ilmiah Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh November ke-39. Surabaya, 11 November 1999. 83 Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima. Jakarta Erlangga, 1980. Johannesen, Richard L. Etika Komunikasi. Bandung PT Remaja Rosdakarya, 1996. Kadir, Abdul & Terra CH Triwahyuni. Pengenalan Teknologi Informasi. Yogyakarta Penerbit Andi Yogyakarta, 2003. Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya Usaha Nasional, 1982 Mardiyanti, Nurcahya. Studi Pola Interaksi Sosial Masyarakat Nelayan. Skripsi. Bogor Fakultas Pertanian IPB, 1996. Morey, Doc. Phone Power Meningkatkan Keefektifan Berkomunikasi di Telepon. Jakarta PT Gramedia, 2004. Nurudin. Sistem-Sistem Komunikasi di Indonesia. Jakarta PT RajaGrafindo Persada, 2005. Pattiradjawane, Rene L. ’Meningkatkan Teledensitas’. Kompas, 10 Oktober 2005. Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung PT Remaja Rosdakarya, 2001. __________________ Metode Penelitian Komunikasi, Dilengkapi Contoh Analisis Statistik. Bandung PT Remaja Rosdakarya, 2005. Rumini, Sri & Siti Sundari Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta PT Rineka Cipta, 2004. Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Sosial, Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta Balai Pustaka, 2002. Saydam, Gouzali. Teknologi Telekomunikasi, Perkembangan dan Aplikasi. Bandung Alfabeta, 2005. Shiroth, Muhammad & Nur Mohammad Amin. Trend Industri Telekomunikasi di Indonesia. Depok Fakultas Ekonomi UI, 1998. Simanjuntak, Fritz E. Aspek Sosial Telepon Selular. 13 Mei 2004. Singarimbun, Masri dan sofian Effendi. Metode Penelitian Survai. Edisi Revisi. Jakarta LP3ES, 1989. 84 Soerjono, Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta PT RajaGrafindo, 2002. Subarkah, AW. “Cara Baru Menikmati Hiburan Televisi”. Kompas, 13 Januari 2006. ____________. “Ponsel Surround Lahirkan Gagasan Mobile Theatre”. Kompas, 23 Desember 2005. Tubbs, Steward L & Sylvia Moss. Human Communication, Konteks-konteks Komunikasi. Cetakan Ketiga. Bandung PT Remaja Rosdakarya, 2001. 86 Lampiran 1. Perbandingan Pengguna Ponsel Di Indonesia Pengguna Berdasarkan Umur 35% 31% 30% 25% 20% 15% 10% 5% 0% 15-24 thn 25-34 thn 1 35-50 thn 50+ thn Pengguna Berdasarkan Kota-Desa Pada Beberapa Pulau 120 100 80 Pedesaan 60 Perkotaan 40 20 La in ny a Ba li Ka lim an ta n es i Su la w a at er Su m Ja w a 0 87 Pengguna Berdasarkan Kota-Desa Desa 29% Kota 71% Pengguna Berdasarkan Lima Pulau di Indonesia 80% 71% 70% 60% 50% 40% 30% 17% 20% 10% 3% 5% 4% 0% Jawa Sumatera Sulawesi Kalimantan Bali Sumber Rene L. Pattiradjawane. Meningkatkan Teledensitas. Kompas, 10 Oktober 2005. 88 Lampiran 2. Output SPSS Uji Chi-Square Hubungan Jenis Kelamin Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 2 2 Asymp. Sig. 2-sided .440 .436 1 .272 df 48 a. 2 cells have expected count less than 5. The minimum expected count is Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value .182 48 Approx. Sig. .440 a. Not assuming the null hypothesis. b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis. Hubungan Tujuan Penggunaan Ponsel Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value .054 4 4 Asymp. Sig. 2-sided .020 .025 1 .816 df 48 a. 5 cells have expected count less than 5. The minimum expected count is .46. Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value .442 48 Approx. Sig. .020 a. Not assuming the null hypothesis. b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis. 89 Lampiran 3. Output SPSS Uji Spearman Hubungan Status Ekonomi Keluarga Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel Correlations Spearman's rho status ekonomi keluarga tingkat penggunaan ponsel Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N status tingkat ekonomi penggunaan keluarga ponsel .524** . .000 48 48 .524** .000 . 48 48 **. Correlation is significant at the level 2-tailed. Hubungan Tingkat Aktivitas Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel Correlations Spearman's rho tingkat aktivitas tingkat penggunaan ponsel Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N tingkat aktivitas . 48 .101 .494 48 tingkat penggunaan ponsel .101 .494 48 . 48 Hubungan Tingkat Pengaruh Teman Dekat Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel Correlations Spearman's rho tingkat pengaruh teman dekat tingkat penggunaan ponsel Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N *. Correlation is significant at the level 2-tailed. tingkat pengaruh teman dekat . 48 .364* .011 48 tingkat penggunaan ponsel .364* .011 48 . 48 90 Hubungan Tingkat Terpaan Media Massa Dengan Tingkat Penggunaan Ponsel Correlations Spearman's rho tingkat terpaan media massa tingkat penggunaan ponsel Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N tingkat terpaan media massa . 48 .584 48 tingkat penggunaan ponsel .584 48 . 48 Hubungan Tingkat Penggunaan Ponsel Dengan Interaksi Sosial Correlations Spearman's rho tingkat penggunaan ponsel interaksi sosial remaja Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N Correlation Coefficient Sig. 2-tailed N tingkat penggunaan ponsel . 48 .014 .926 48 interaksi sosial remaja .014 .926 48 . 48 Penggunaan gadget selalu berdampak pada perkembangan tinggkah laku anak, karena gagjed memiliki berbagai fitur dan aplikasi yang menarik, bervariasi, dan feksibel sehingga dapat menambah daya Tarik bagi setiap orang, khususnya dikalangan anak-anak sekarang ini gadjed dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan tingkah laku anak. Perkembangan tingkah laku anak berupaya pada psikologi dimana akibat bermain gadgej anak menjadi mudah marah, suka membangkang, malas belajar, dan bisa menirukan tingkah laku didalam gegjed. Anak-anak kini telah menjadi konsumen aktif dimana banyak produk-produk elktronik dan Gadget yang menjadikan anak-anak sebagai pasar mereka. “ Apalagi jaman sekarang anak-anak, orang tua pun ada yang sangat menyukai gadget sampai disebut gadget diharapkan memberikan manfaat bagi para penggunanya, dimana para penggunanya harus mampu mengoperasikan gadget dengan baik, mengetahui fungsi gadget, dan mengetahui manfaat dari aplikasi use of gadgets always has an impact on the development of children's behavior, because gagjed has various interesting, varied, and flexible features and applications so that it can add attractiveness to everyone, especially among children, nowadays gadjed can have a negative impact on the development of children's behavior The development of children's behavior seeks to psychology where due to playing Gadgej children become irritable, disobedient, lazy to learn, and can mimic behavior in gegjed. Children have now become active consumers where many electronic products and gadgets make children their market. "Moreover, not children, parents are also very helpful gadgets to the point of being called gadget freak Gadget. It is hoped that it will provide benefits for its users, where users must be able to operate gadgets properly, see gadget functions, and see the benefits of gadget applications. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Excelsis Deo Vol. 5 No. 1 Juni 2021 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan pendidikan 99 DAMPAK PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN PERILAKU ANAK REMAJA MASA KINI Jenny Gabriela1*, Belinda Mau2 1,2Sekolah Tinggi Teologi Excelsius Surabaya *Email Jennygabriela327 THE IMPACT OF GADGET USAGE ON THE DEVELOPMENT OF BEHAVIOR OF TODAY'S ADOLESCENTS Abstract The use of gadgets always has an impact on the development of children's behavior, because gagjed has various interesting, varied, and flexible features and applications so that it can add attractiveness to everyone, especially among children, nowadays gadjed can have a negative impact on the development of children's behavior The development of children's behavior seeks to psychology where due to playing Gadgej children become irritable, disobedient, lazy to learn, and can mimic behavior in gegjed. Children have now become active consumers where many electronic products and gadgets make children their market. "Moreover, not children, parents are also very helpful gadgets to the point of being called gadget freak Gadget. It is hoped that it will provide benefits for its users, where users must be able to operate gadgets properly, see gadget functions, and see the benefits of gadget applications. Keywords The impact of using Gadjed, the development of children's behavior Abstrak Penggunaan gadget selalu berdampak pada perkembangan tinggkah laku anak, karena gagjed memiliki berbagai fitur dan aplikasi yang menarik, bervariasi, dan feksibel sehingga dapat menambah daya Tarik bagi setiap orang, khususnya dikalangan anak-anak sekarang ini gadjed dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan tingkah laku anak. Perkembangan tingkah laku anak berupaya pada psikologi dimana akibat bermain gadgej anak menjadi mudah marah, suka membangkang, malas belajar, dan bisa menirukan tingkah laku didalam gegjed. Anak-anak kini telah menjadi konsumen aktif dimana banyak produk-produk elktronik dan Gadget yang menjadikan anak-anak sebagai pasar mereka. “ Apalagi jaman sekarang anak-anak, orang tua pun ada yang sangat menyukai gadget sampai disebut gadget diharapkan memberikan manfaat bagi para penggunanya, dimana para penggunanya harus mampu mengoperasikan gadget dengan baik, mengetahui fungsi gadget, dan mengetahui manfaat dari aplikasi gadget. Kata Kunci Dampak Penggunaan Gadjed, Perkembangan Perilaku Anak PENDAHULUAN Kehidupan manusia di era digital saat ini mengalami perkembangan tekonologi yang luar teknologi digital juga telah memasuki hubungan keluarga. Hal itu menjadikan seluruh unsur keluarga, baik orangtua maupu anak-anak Aslan, “Peran Pola Asuh Orangtua di Era Digital,” Jurnal Studia Insania 7, no. 1 2019 20-34. menjadi penggunaan media digital salah satunya adalah media gadget. Indonesia merupakan penggunaan internet terbesar di Asia Tenggara yang memiliki pengguna yang paling aktif dimedia sosial. Menurut data Global Wax menemukan bahwa Dyna Herlina S. dkk., Digital Parenting Mendidik Anak di Era Digital Yogyakarta Samudra Biru, 2018, 7-10. 100 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan kecanduan gadget dapat memepengaruhi perkembangan otak anak karena hormone dopamiene yang berlebihan mengganggu kematangan fungsi prefrontal korteks. Dampak gadget di era globalisasi membawa dampak positif dan negative. Adanya kemudahan dalam mencari informasih, pengetahuan, bisa mendapatkan atau saling berkomunikasi jarak jauh merupakan dampak salah satu dampak positif. Adanya perilaku anak yang kurang bersosialisasi, tidak mengerti sopan satun sebagi dampak tidak pernah bersosialisasi merupakan dapak negative yang banyak dikeluhkan perkembangan sosial pada anak. Menurut Dr. Jenny Radesky dari Baston University of Medicine mengatakan bahwa penggunaan gadget saat ini semakin intensif akan memberikan dampak pada pekembangan perilaku anak. Hal ini susuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas penggunaan gadget terhadap interaksi sosial anak. Anak yang dianggap sudah kebiasaan bermain gadget jika dalam waktu sehari bermain dengan gadget lebih dari dua jam, dan jika gadget diambil anak akan marah bahkan tantrum. Seorang pecandu gadget hanya akan tertuju kepada dunia maya. hal ini akan menyatakan sebuah respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah besar anak ataupun remaja Sylvie Puspita, Fenomena Kecanduan Gadget pada anak Usia Dini Surabaya Cipta Media Nusantara, 2020, 2. Misdayanti, Penguatan dan Inovasi Pelayanan Kesehatan dalam Eera Revalusi Industry Kendari UHO Edupress 2019, 283. Azimah Subagijo, Diet dan Detoks Gadget Jakarta PT Mizan Publika, 2020, 1. Fathoni, “Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak Usia Dini,” Http// komsumsi penggunaan Gadget dari waktu ke waktu. Salah satu sebabnya kurangnya pengawasan dari orang tua atau bahkan meniru perilaku orang tua dan orang-orang dewasa merupakan teknologi yang sangat popular sekarng ini, orang dewasa maupun anak-anak mengunakan Gadget. Dimana banyak-banyak produk-produk gadget yang menjadikan anak sebagai target pasar mereka dan anak-anak kini telah menjadi konsumen aktif penggunaan adalah sebuah istilah dalam Bahasa inggris yang mengartikan sebuah alat elektronik kecil dengan berbagai macam fungsi khusus. Gadget Bahasa Indonesia adalah suatu istilah yang berasal dari Bahasa inggris untuk merunjuk pada suatu peranti atau instrument yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gadget dalam pengertian umum dianggap sebagai suatu perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus pada prangkatnya. Anak-anak kini telah menjadi konsumen aktif dimana banyak produk-produk elktronik dan Gadget yang menjadikan anak-anak sebagai pasar mereka. Apalagi jangan anak-anak, orang tua pun ada yang sangat menyukai gadget sampai disebut gadget freak. Zaman sekarang, gadget tidak hanya dipakai oleh para pembisnis saja, banyak para remaja adget-Terha Chusna, “Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak,” Jurnal Dinamika Penelitian 17, no. 2 2017 315–330. Https// Wahyu Novitasari, Dampak Penggunaan Gadget terhadap Interaksi Sosial Anak. Disertasi Surabaya Universitas Negeri Surabaya, 2016, 22. Jurnal Excelsis Deo Vol. 5 No. 1 Juni 2021 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan pendidikan 101 kan anak-anak pun telah banyak menggunakan gadget. Pada masa ini seluruh aspek perkembangan kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual mengalami perkembangan yang luar biasa sehingga yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan selanjutnya sampai dewasa. Hasil penelitian juga diperoleh bahwa proses sosialisasi mempunyai kedudukan strategis bagi anak untuk dapat membina hubungan dalam berbagai lingkungan. Kegagalan dalam proses sosialisasi menyebabkan seseorang menjadi pemalu, kurang percaya diri, menyendiri, keras kepala. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah sedemikian cepat sehingga tanpa disadari sudah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Dewasa ini produk teknologi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Penggunaan internet sudah bukan menjadi hal yang aneh ataupun baru lagi, khususnya di kota-kota besar bahkan sudah menjadi media paling penting dalam media pemasaran. Bahkan media seperti televisi, gadget, internet, smartphone, laptop bukan hanya beredar di perkotaan namun telah menjangkau hingga pelosok-pelosok desa. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan Yahya, Psikologi Perkembangan Jakarta PT Kharisma Putra Utama, 2000, 23. Dewi Irmawati, “Pemanfaatan E-Commerce dalam Dunia Bisnis”, Jurnal Ilmiah Orasi Bisnis, November 2011 95-112 Hamdani, Strategi Belajar Mengajar Bandung Pustaka Setia, 2011, 20. S. Ameliola & Hanggara, “Perkembangan Dunia Informasi dan Teknologi METODE Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah dengan pendekatan studi pustaka, yaitu pengumpulan dokumen berupa sumber-sumber buku, jurnal, dan media lainnya yang mendukung pembahasan dalam tulisan ini. PEMBAHASAN Penggunaan Gedget Perkembagan teknologi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat, ditandai dengan kemajuan pada bidang informasi dan teknologi. Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang ikut terlibat dalam kemajuan media informasi dan teknologi. Pada era sekarang gadget dengan berbagai aplikasi dapat menyajikan berbagai media sosial, sehingga seringkali disalah gunakan oleh siswa. Penggunaan gadget yang berlebihan pada siswa terkadang sering menimbulkan masalah pada proses belajar. Penggunaan gadget berdampak merugikan pada keterampilan interpersonal anak jika terlalu sering digunakan. Pegaruh handphone terhadap prestasi belajar siswa yang lain adalah siswa lebih mengandalkan handphone dari pada harus gadget secara berkelanjutan dan akan berdampak buruk bagi pola perilaku anak dalam kesehariannya, anak-anak yang cenderung terhadap Anak dalam Era Globalisasi,” Jurnal Konferensi Internasional Nurmalasari, “Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Tingkat Prestasi That are Easy to Carry Anywhere for,” Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komputer 3, no. 2 2018 111–118. 102 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan terus-menerus menggunakan gadget akan sangat tergantung dan menjadi kegiatan yang harus dan rutin dilakukan oleh anak dalam aktifitas sehari-hari. Bisa dikatakan juga bahwa Gadget merupakan sebuah media modern yang dapat diartikan sebagai sebuah benda/alat yang sangat penting, yang dapat dipergunakan untuk semua bidang kehidupan, sebagaimana peralatan elektronik yang lain, gadget menjadikan pedang bermata dua, apabila dimanfaatkan dengan baik, dia akan memberikan manfaat bagi orang dewasa maupun Osa Kurniawan, “gadget adalah sebuah perangkat atau perkakas mekanis yang mini atau sebuah alat yang menarik karena relatif baru karena akan banyak memberikan kesenangan baru bagi penggunanya walaupun mungkin tidak praktis dalam penggunaannya”. Sedangkan menurut Muhammad Risal 2011 dalam Rohmah 2017, “gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang mempunyai fungsi khusus”. Bisa dikatakan juga bahwa Gadget merupakan sebuah media modern yang dapat diartikan sebagai sebuah benda/alat yang sangat penting, yang dapat dipergunakan untuk semua bidang kehidupan, sebagaimana peralatan elektronik yang lain, gadget menjadikan pedang bermata dua, apabila dimanfaatkan dengan baik, dia akan memberikan manfaat bagi orang dewasa Rafid Rachmatullah, "Peranan Orang Tua dalam Mengatasi Dampak Negatif Penggunaan Gadget pada Anak di Desa Cikatomas Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Provinsi Banten," FKIP Unpas, 2017. Rohmah, Pengaruh Penggunaan Gadget dan Lingkungan Belajar terhadap Minat Belajar Siswa Kelas XI Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta Fakultas Ekonomi UNY, 2017, 10. maupun 20163 menyebutkan bahwa gadget baik laptop, ipad, tablet atau smartphone adalah alat teknologi yang berisi aneka aplikasi dan informasi mengenai semua hal yang ada didunia mempunyai fungsi dan manfaat yang relatif sesuai dengan penggunaanya seperti menurut Puji Asmaul Chusna bahwa fungsi dan manfaat gadget secara umum sebagai berikut 1 Komunikasi Pengetahauan manusia semakin luas dan maju. Jika zaman dahulu manusia berkomunikasi melalui batin, kemudian berkembang melalui tulisan yang dikirimkan melalui pos. Sekarang zaman era globalisasi manusia dapat berkomunikasi dengan mudah, cepat, praktis dan lebih efisien dengan menggunakan handphone. 2 Sosial Gadget memiliki banyak fitur dan aplikasi yang tepat untuk kita dapat berbagi berita, kabar, dan cerita. Sehingga dengan pemanfaatan tersebut dapat menambah teman dan menjalin hubungan kerabat yang jauh tanpa harus menggunakan waktu yang relatif lama untuk berbagi. 3 Pendidikan Seiring berkembangnya zaman, sekarang belajar tidak hanya terfokus dengan buku. Namun melalui gadget seseorang dapat mengakses berbagai ilmu pengetahuan yang seseorang perlukan. Tentang pendidikan, politik, ilmu pengetahuan umum, agama, tanpa harus repot pergi ke perpustakaan yang mungkin jauh untuk dijangkau. Dengan gadget, Rafid Rachmatullah, Peranan Orang Tua dalam Mengatasi Dampak Negatif Penggunaan Gadget pada Anak di Desa Cikatomas Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Provinsi Banten, 11. Jarot Wijanarko & Ester Setiawati, Ayah Baik-Ibu Baik Parenting Era Digital Jakarta Keluarga Indonesia Bahagia, 2016, 654. Asmaul Chusna, “Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak”. Jurnal Dinamika Penelitian 2017, 315-330. Jurnal Excelsis Deo Vol. 5 No. 1 Juni 2021 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan pendidikan 103 anak-anak usia pra sekolah kebawah bisa belajar memahami materi-materi belajar seperti pengenalan alphabet, huruf hijaiyah, angka, mengenal hewan, tumbuhan, benda-benda di sekitar dan belajar menyanyi dengan melihat video dari youtube, bahkan orang tua juga bisa memberikan latihan kepada anak dengan memanfaatkan game yang bisa melatih ingatan dan keterampilan anak. Belajar menggunakan Gadget Dalam dunia pendidikan, memberikan pelajaran dan pendidikan kepada anak usia perkembangan harus menggunakan cara yang aktif dan kreatif untuk memberi stimulasi terhadap perasaan senang anak sehingga pendidikan yang diberikan dapat mereka terima, karena jika anak merasa tidak senang, maka anak Dampak positif penggunaan gadget antara lain, yang pertama adalah gadget akan membantu perkembangan fungsi adaptif seorang anak artinya kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitar dan perkembangan zaman. Jika perkembangan zaman sekarang muncul gadget, maka anak pun harus tahu cara menggunakannya karena salah satu fungsi adaptif manusia zaman sekarang adalah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi. Sebaliknya, anak yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi bisa dikatakan fungsi adaptifnya tidak berkembang secara normal. Nilai positif lain adalah gadget memberi kesempatan anak untuk leluasa mencari informasi. Apalagi anak-anak sekolah sekarang dituntut untuk mengerjakan tugas melalui Nazir, Metode Penelitian Jakarta Penerbit Ghalia Indonesia,2003, 15. Atik Dwi Susanti, Pengaruh Pemanfaatan Gadget dalam Aktivitas Belajar untuk Dalam hal belajar, penggunaan gadget memiliki dampak positif antara lain 1 Anak memiliki pengetahuan yang lebih luas karena dalam gadget tidak ada batasan dalam mencari informasi mengenai apapun dan dari manapun, anak bisa bebas memilih belajar apa saja seperti mata pelajaran, belajar menanam bunga, belajar cara menggambar, melukis, belajar membuat sesuatu dari barang bekas, dan banyak sekali pembelajaran yang bisa ditemukan di dalam gadget. 2 Menambah semangat belajar, anak akan memiliki semangat karena mereka bisa belajar dengan melihat gambar hidup, warna warni, karakter kartun yang semuanya itu mereka sukai dan membuat perasaan mereka senang, bukan sekedar belajar dengan buku dan pensil yang terkadang memberikan efek bosan untuk anak-anak dalam masa perkembangan. 3 Lebih mudah memahami pelajaran, hal ini dikarenakan belajar menggunakan gadget akan bisa menjumpai contoh konkrit, bukan hanya materi pelajaran, contohnya seperti pada video-video pembelajaran tentang perilaku sopan santun, saling menghargai, saling menolong dan memaafkan. Gadget diharapkan memberikan manfaat bagi para penggunanya, di mana para penggunanya harus mampu mengoperasikan gadget dengan baik, mengetahui fungsi gadget, dan mengetahui manfaat dari aplikasi gadget. Gadget merupakan alat elektronik yang digunakan sebagai media informasi, media belajar, dan sebagai hiburan. Hampir semua kalangan memilikibarang kecil canggih tersebut. Gadget memiliki banyak fungsi bagi penggunanya sehingga dinilai lebih Meningkatkan Hasil Belajar Ppkn Siswa di Kelas Xi Iis Sma Negeri 1 Seputih Mataram Lampung FKIP Universitas Lampung Bandar Lampung, 2018, 27. 104 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan memudahkan untuk kebutuhan manusia. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak permasalahan yang muncul akibat beredarnya sosial media, seperti meningkatnya kriminalitas, dan menurunnya moral pelajar. Menurut Parsons, tindakan individu dipengaruhi oleh dua macam orientasi, yaitu orientasi motivasional yang bersifat pribadi dan orientasi nilai yang bersifat sosial. Hal ini mengantarkan pemahaman bahwa tindakan seseorang dipengaruhi oleh kehendak dirinya dan dikontrol oleh nilai-nilai yang berlaku di Penggunaan Gadget Gadget juga dapat mempengaruhi perilaku sosial seseorang, bergantung pada cara orang tersebut menggunakan gadget tersebut. Ada beberapa dampak negatif karena berlebihan dalam penggunaan gadget pada perkemebangan anak yang membuat anak menjadi ketagihan atau kecanduan. Diantaranya adalah 1 Waktu terbuang sia-sia. Anak-anak akan sering lupa waktu ketika sedang asyik bermain gadget. Mereka membuang waktu untuk aktifitas yang tidak terlalu penting, padahal waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk aktifitas yang mendukung kematangan berbagai aspek perkembangan pada dirinya. 2 Perkembangan otak. Terlalu lama dalam penggunaan gadget dalam seluruh aktifitas sehari-hari akan menganggu perkembangan otak. Sehingga menimbulkan hambatan dalam kemampuan berbicara tidak lancar komunikasi, serta menghambat kemampuan dalam Johnson K. dan K. Morrow, Communication in the Classroom Applications dan Methods for a Communicative Approach Oxford Oxford University Press, 2015, 5. mengeskpresikan pikirannya. 3 Banyaknya fitur atau aplikasi yang tidak sesuai dengan usia anak, miskin akan nilainorma, edukasi dan agama. 4 Menganggu kesehatan. Semakin sering menggunakan gadget akan menganggu kesehatan terutama pada mata. Selain itu akan mengurangi minat baca anak karena terbiasa pada objek bergambar dan bergerak. 5 Menghilangkan ketertarikan pada aktifitas bermain atau melakukan kegiatan lain. Ini yang akan membuat mereka lebih bersifat individualis atau menyendiri. Banyak dari mereka diakhir pekan digunakan untuk bermain gadget ketimbang bermain dengan teman bermain untuk sekedar bermain bola dilapangan. Penggunaan gadget yang berlebihan pada anak akan berdampak negatif karena dapat menurunkan daya konsentrasi dan meningkatkan ketergantungan anak untuk dapat mengerjakan berbagai hal yang semestinya dapat mereka lakukan sendiri. Dampak lainnya adalah semakin terbukanya akses internet dalam gadget yang menampilkan segala hal yang semestinya belum waktunya dilihat oleh anak-anak. Penggunaan gadget dapat mempengaruhi pola perilaku remaja dikarenakan adanya ketertarikan terhadap sesuatu seperti mengikuti gaya hidup artis yang dilihat dari media sosial sehingga kepribadian remaja pun mengikuti kepribadian artis yang ia sukai tersebut. Media sosial yang sejatinya sebagai alat berbagi informasi sering kali disalahgunakan sehingga pengguna media sosial dalam hal ini kalangan remaja sangat Rita Kencana, Pengembangan Nilai Moral dan Agama Anak Usia Dini Bandung Edu Publiser, 2020, 145. Suwarsi, “Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak”, Seminar Tanggal 25 September 2016. Jurnal Excelsis Deo Vol. 5 No. 1 Juni 2021 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan pendidikan 105 mudah terpengaruh dan mengikuti hal-hal baik itu negatif maupun positif di media sosial itu sendiri. Dampak gadget pada anak paling dirasakan adalah penurunan dalam kemampuan bersosialiasi dengan orang-orang disekitar. Ketika anak terlalu asyik bermain dengan gadget, anak dapat mengabaikan dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Sehingga tidak memahami etika bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Dengan mengakses situs jejaring di dunia maya secara berlebihan juga dapat membuat anak berpikir bahwa mencari teman bisa dilakukan melalui internet, dan melupakan teman-teman yang ada dilingkungan sekitar. Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap apa yang didapatnya dari internet atau teknologi lain adalah pengetahuan yang terlengkap dan final. Padahal banyak sekali yang harus digali pada proses pembelajaran secara tradisional yang bisa sangat efektif, bahkan adanya internet tidak akan bisa menggantikan proses pembelajaran dalam sebuah pencarian pengetahuan. Jika tidak dicermati, maka pada masa mendatang akan tercipta generasi yang akan cepat puas karena begitu mudahnya mencari informasi pada gadget. Dengan kata lain, anak-anak sekarang menganggap hidup itu seharusnya mudah yang pada akhirnya anak-anak akan memilih untuk menyederhanakan masalah dan menghindari kesulitan. Karena itu hasilnya anak makin hari makin lemah dalam hal kesabaran serta konsentrasi dan Aisyah Anggraeni dan Hendrizal Hendrizal, “Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Kehidupan Sosial Para Siswa SMA.” Jurnal Pelita Bangsa Pelestari Pancasila 13, no. 1 2018 64-76. cepat menuntut orang untuk memberi yang diinginkannya dengan gadget adalah perilaku keterikatan atau kecanduan terhadap smartphone yang memungkinkan menjadi masalah sosial, seperti halnya menarik diri dan kesulitan dalam performa aktivitas sehari-hari atau sebagai gangguan kontrol impuls terhadap diri seseorang. Menurut Chiu mengatakan bahwa adiksi smartphone adalah salah satu kecanduan yang memiliki resiko lebih ringan dari pada kecanduan alcohol ataupun kecanduan obat-obatan. Perilaku dapat dikatakan sebagai perilaku kecanduan apabila seseorang tidak dapat mengontrol keinginanya dan menyebabkan dampak negatif pada diri individu yang beberapa dampak negatif penggunaan gadget diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa penggunaan gadget dapat berakibat negatif apabila seseorang atau anak-anak belum mampu mengolah waktu dan menyaringkonetn atau aplikasi apa saja yang termuat dapat sebuah gadget. Hal tersebut berakibat akan menimbulkan banyak dapat buruk dari penggunaan gadget diantaranya seperti dapat menganggu kesehatan, menganggu perkembangan anak, dan seseorang akan lebih bersikap tertutup dengan lingkungan sekitar lebih lagi dapat mengganggu pengelolaan waktu belajar anak baik di sekolah maupun di rumah dan lingkungan masyarakat. Perkembangan Perilaku Anak Santrock mengatakan bahwa perkembangan adalah pola perubahan yang Yuwanto L., “Pengembangan Alat Ukur Blackberry Addict”. Jurnal Proceeding Pessat 5 Oktober 2013. 106 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan dimulai sejak pembuahan dan terus berlanjut disepanjang rentang kehidupan individu. Sebagian besar perkembangan melibatkan pertumbunhan, namun juga melibatkan kemunduran penuaan. Senada dengan Santrock, Hurlock mengemukakan bahwa perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman/belajar. Perkembngan development merupakan bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, terjadi dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses pematangan. Sel-sel tubuh, jaringan orang, dan sistem organ megalami proses diferensi, ditandai dengan kemapuan untuk bekerja sesuai fungsi masing-masing dan di dalamnya terdapat perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkunganya. Perkembangan terjadi secara alami pada setiap individu karena di dalamnya terdapat komponen-komponen psikologi yang dapat menunjang perkembangan. Komponen psikologi dalam perkembangan individu meliputi psikognitif, psiko-motorik dan psiko-afektif. Perkembangan merupakan suatu proses yang Panjang, membutuhkan dukungan dan stimulasi untuk mencapai perkembangan yang optimal. Menurut teori psikososial maupun teori perkembangan kognitif menyatakan bahwa perilaku yang ada pada diri seorang berlandasan pada pertimbangan-pertimbangan moral kognitif. Selanjutnya, masalah aturan, norma, nilai, etika, akhlak dan estetika adalah hal yang sering didengar dan selalu dihubungkan dengan konsep moral ketika seseorang akan menetapkan suatu keputusan psikolog, perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia dan dorongan itu merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Dengan adanya dorongan tersebut, menimbulkan seseorang melakukan sebuah Tindakan atau perilaku khusus yang mengarah pada Tujuan. Kemampuan teknologi informasi dan multimedia dalam menyampaikan pesan dinilai sangat besar. Di tahun yang sudah termasuk modern ini, generasi muda Indonesia pun sudah akrab dengan yang Christiana Hari Soetjiningsi, Seri Psikologi Perkembangan Anak Jakarta Kencana, 2018, 2. Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak; Peran Moral intelektual, Emosional dan namanya teknologi dan segala peralatannya. Anak-anak dengan usia sekolah dasar pun sudah dibekali dengan pengenalan akan teknologi, akun-akun jaringan sosial, rata-rata banyak memiliki dan dikuasai oleh anak-anak sekolah, sebenarnya, teknologi digunakan untuk mempermudah keidupan manusia. Pada setiap individu sesorang terdapat dua faktor utama yang sangat menentukan kehidupannya, yaitu fisik dan ruh. Pemahaman terhadap kedua faktor ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap bagaimana seseorang berperilaku dalam realitas kehidupannya. Kedua faktor ini memiliki ruang dan dimensi yang berbeda. Jika yang pertama adalah sesuatu yang sangat mudah untuk diindra, tampak dalam bentuk perilaku, namun pada faktor yang kedua hanya dapat dirasakan dan menentukan terhadap baik buruknya suatu perilaku. Perilaku manusia adalah suatu fungsi dari interaksi antara individu dengan Sosial sebagai Wujud Membangun Jati Diri Jakarta PT Bumi Aksara 2009, 26. Akh. Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani Jakarta Erlangga, 2012, 103. Jurnal Excelsis Deo Vol. 5 No. 1 Juni 2021 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan pendidikan 107 lingkungannya. Karena pada hakikatnya individu memiliki keunikan masing-masing yang membedakan satu dengan yang lain. Inilah yang disebut manusia sebagai makhluk individu. Menurut Arthur S. Rober bahwa Perilaku atau tingkah laku adalah sebuah istilah yang sangat umum mencakup tindakan, aktivitas, respon, reaksi, gerakan, proses, operasi-operasi dsb. Singkatnya, respon apapun dari organisme yang bisa yang terjadi pada seseorang didorong oleh motivasi. Penentu perilaku seseorang pada titik ini yaitu pada motivasi sebaga daya penggerak perilaku the energizer sekaligus menjadi. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai suatu konstruk teoritis mengenai terjadinya perkembangannya, gadget dengan jaringan internet yang sekarang mudah diakses membuat para pembuat situs berupaya menjual situs yang mereka buat. Salah satu cara yang dapat menarik perhatian biasanya tampilan seperti ini banyak terdapat pada aplikasi game yaitu dengan cara menampilkan kekejaman dan kesadisan. Pada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa game yang dimainkan di komputer atau laptop yang menampilkan unsur kekerasan memiliki sifat menghancurkan yang lebih besar dibanding kekerasan yang ada di televisi ataupun kekerasan dalam kehidupan nyata sekali pun. Biasanya anak-anak dan remaja yang akan lebih mudah terpengaruh, sehingga bisa menimbulkan kurangnya sensitivitas Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Jakarta Rajawali Press, 2009, 230. Arthur S. Reber dan Emily S. Reber, Kamus Psikologi Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2010, 217. Abdul Rahman Saleh, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam Jakarta Kencana, 2009, 182. terhadap sesama, memicu munculnya perilaku agresif, sadistis, bahkan bisa mendorong munculnya sikap kriminal yang ada pada game yang dimainkan sehingga dapat mengeser nilai sosial dari pada antar sesama manusia. Menurut T. Ramli, pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan akhlak. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, yaitu warga masyarakat dan Negara yang baik. Pendidikan karakter adalah upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai prilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan. Kemudian, nilai-nilai tersebut dapat terwujud dalam fikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata kerama, budaya, dan adat-istiadat. Dalam pendidikan karakter Muslich Masnur Lickona “menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik components of good character, yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action atau perbuatan moral”. Hal ini diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebijakan. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang Dahlia, Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Perilaku Sosial di SMA Darussalam Ciputat. Skripsi Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan 2009, 10-11. Jamal Ma’mur Asmani, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah Jogjakarta Diva Presss, 2013, 32. 108 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan melibatkan aspek pengetahuan cognitive, perasaan feeling, dan tindakan action. Menurut Lickona Thomas, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif Pendidikan karakter berfungsi, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multicultural, meningkatkan peradaban bangsa yang kompetetif dalam pergaulan dunia. Penggunaan gadget dikarenakan tuntutan trend saat ini yang menuntuk mereka untuk aktif dalam dunia internet atau media sosial, oleh karena itu pada saat jam pelajaran, mereka juga sering menggunakan gadget unutk menutupi rasa bosan karena jam pelajaran yang panjang. Hal ini menyebabkan bahwa sebagaian materi yang dijelaskan oleh guru tidak lagi diserap dengan baik karena siswa tidak mampu berkonsentrasi lagi dengan pelajaran yang sedang berlangsung, yang dapat berakibat pada nilai akademik siswa, juga siswa menjadi jarang berkomunikasi dengan temannya karena lebih asik dengan gadget miliknya. Masih banyak orang tua yang belum melakukan pengawasan terhadap anaknya dalam penggunaan smartphone. Orang tua lebih memilih tidak mencampuri urusan anaknya, sikap orang tua seperti ini membuat anak merasa bebas untuk melakukan hal apapun yang mereka inginkan tanpa adanya kontrol dari orang tua. maka diharapkan agar terciptanya lingkungan yang kondusif bagi anak sehingga tidak melakukan perilaku penggunaan smartphone yang tinggi. Bentuk pengawasan bisa dilakukan dengan Nanda Ayu Setiawati, “Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Pembentukan Karakter Bangsa,” Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan 1, no. 1 2017 349. cara Orang tua dapat menanyakan perilaku anak kepada temannya, guru di sekolah, dan masyarakat sekitar untuk mengetahui apa saja yang dilakukan anak di luar rumah agar perilakunya dapat selalu terkontrol orang Di tahun yang sudah termasuk modern ini, generasi muda Indonesia pun sudah akrab dengan yang namanya teknologi dan segala peralatannya. Anak-anak dengan usia sekolah dasar pun sudah dibekali dengan pengenalan akan teknologi, akun-akun jaringan sosial, rata-rata banyak memiliki dan dikuasai oleh anak-anak sekolah, sebenarnya, teknologi digunakan untuk mempermudah keidupan manusia. Jika tidak dicermati, maka pada masa mendatang akan tercipta generasi yang akan cepat puas karena begitu mudahnya mencari informasi pada gadget. Jika perkembangan zaman sekarang muncul gadget, maka anak pun harus tahu cara menggunakannya karena salah satu fungsi adaptif manusia zaman sekarang adalah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi. Gadget merupakan sebuah media modern yang dapat diartikan sebagai sebuah benda/alat yang sangat penting, yang dapat dipergunakan untuk semua bidang kehidupan, sebagaimana peralatan elektronik yang lain, gadget menjadikan pedang bermata dua, apabila dimanfaatkan dengan baik, dia akan memberikan manfaat bagi orang dewasa maupun anak-anak. Bisma Mukti Wibowo, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Politeknik Kesehatan Jakarta I Jakarta Ka. Unit TI, 2012, 2. Jurnal Excelsis Deo Vol. 5 No. 1 Juni 2021 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan pendidikan 109 DAFTAR PUSTAKA Chusna. “Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak.” Jurnal Dinamika Penelitian 17, 2 2017 315–330. Abdul, Saleh Rahman. Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta Kencana, 2009. Ameliola, S. & Hanggara, Perkembangan Dunia Informasi dan Teknologi terhadap Anak dalam Era Globalisasi. Jurnal Konferensi Internasional tentang Studi Indonesia. Anggraeni, Aisyah, and Hendrizal Hendrizal. "Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Kehidupan Sosial Para Siswa SMA." Jurnal Pelita Bangsa Pelestari Pancasila 13, no. 1,2018. Aslan, “Peran Pola Asuh Orangtua di Era Digital.” Jurnal Studia Insania 7, 2019 20-34. Asmaul, Chusna. “Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak.” Jurnal Dinamika Penelitian17, 2 2017 315-330. Dahlia. Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Perilaku Sosial di SMA Darussalam Ciputat. Skripsi. Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2009. Dewi, Irmawati. “Pemanfaatan E-Commerce dalam Dunia Bisnis.” Jurnal Ilmiah Orasi Bisnis VI November 2011. Dyna Herlina S., dkk. Digital Parenting Mendidik Anak di Era Digital. Yogyakarta Samudra Biru, 2018. Fathoni A, R., “Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak Usia Dini.” Http// Hamdani. Strategi Belajar Mengajar. Bandung Pustaka Setia, 2011. Johnson, K. and K. Morrow. Communication in the Classroom Applications and Methods for a Communicative Approach. Oxford Oxford University Press, 1981. L., Yuwanto. “Pengembangan Alat Ukur Blackberry Addict.” Jurnal Proceeding Pessat 05 Oktober 2013. Ma’mur, Asmani Jamal. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta Diva Presss, 2013. Misdayanti. Penguatan dan Inovasi Pelayanan Kesehatan dalam Era Revalusi Industry Kendari UHO Edupress, 2019. Nazir, Mohammad. Metode Penelitian. Jakarta Penerbit Ghalia Indonesia, 2003. Nurmalasari. “Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Tingkat Prestasi That are Easy to Carry Anywhere for.” Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komputer 3, no. 2 2018 111–118. Rachmatullah, Rafid. "Peranan Orang Tua dalam Mengatasi Dampak Negatif Penggunaan Gadget pada Anak di Desa Cikatomas Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Provinsi Banten." Bogor FKIP Unpas, 2017. Rita, Kencana. Pengembangan Nilai Moral dan Agama Anak Usia Dini. Bandung Edu Publiser, 2020. 110 Jurnal Excelsis Deo Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan Rivai, Veithzal. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta Rajawali Press, 2009. Rohmah, C. O. Pengaruh Penggunaan Gadget dan Lingkungan Belajar terhadap Minat Belajar Siswa Kelas XI Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Skripsi. Fakultas Ekonomi UNY, 2017. Saleh, Muwafik. Membangun Karakter dengan Hati Nurani. Jakarta Erlangga, 2012. Sjarkawi. Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral Intelektual, Emosional dan Sosial sebagai Wujud Membangun Jati Diri. Jakarta PT Bumi Aksara, 2009. Soetjiningsi, Christiana Hari. Seri Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta Kencana, 2018. Subagijo Azimah. Diet dan Detoks Gadget. Jakarta PT Mizan Publika, 2020. Susanti, Atik Dwi. Pengaruh Pemanfaatan Gadget dalam Aktivitas Belajar untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ppkn Siswa di Kelas Xi Iis Sma Negeri 1 Seputih Mataram. Skripsi. FKIP Universitas Lampung Bandar Lampung, 2018. Suwarsi. “Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak”. Seminar 25 September 2016. Sylvie, Puspita. Fenomena Kecanduan Gadget Pada anak Usia Dini. Surabaya Cipta Media Nusantara, 2020. Wahyu, Novitasari. Dampak Penggunaan Gadget tehadap Interaksi Sosial Anak. Disertasi. Surabaya Universitas Negri Surabaya, 2016, 22. Wijanarko, Jarot & Ester Setiawati, Ayah Baik-Ibu Baik Parenting Era Digital. Jakarta Keluarga Indonesia Bahagia, 2016. Yahya, Yudrik. Psikologi Perkembangan. Jakarta PT Kharisma Putra Utama, 2000. ... Gadgets were originally developed as a long-distance communication tool. Still, along with the times, gadgets can now be used as a communication tool to entertain with sound, writing, pictures, and videos Jey & Mau, 2021;Novitasari, 2019;Rosiyanti & Muthmainnah, 2018. In addition, gadgets can also be used as a source of information. ...... At the same time, other variables influence the rest. These results confirm that using gadgets in the learning process can support learning activities by utilizing various applications such as browsers and YouTube Jey & Mau, 2021;Novitasari, 2019;Rosiyanti & Muthmainnah, 2018. Gadgets have benefits as a means of learning for children. ...NadiaFebrina DafitHampir semua siswa dikelas II sudah bisa menggunakan gadget seperti untuk bermain game, nonton video youtube dan tiktok. Hal ini membuat minat belajar siswa menjadi berkurang dan hasil belajarnya pun menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gadget pada minat belajar dan umtuk mengetahui pengaruh gadget pada hasil belajar siswa kelas II SDN 67 Pekanbaru. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan pendeketan metode deskripti, dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji regresi linier sederhana dan korelasi determinasi. Hasil uji regresi sederhana menunjukkan bahwa gadgetX memiliki pengaruh terhadap Minat belajarY1 sebesar 14,2 % Dan hasil gadgetX memiliki pengaruh terhadap hasil belajarY2 sebesar % pada Siswa kelas II Sdn 67 Pekanbaru. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gadget berpengaruh terhadap minat belajar sebesar 14,2% dan gadget berpengaruh terhadap hasil belajar sebesar 10,9 % pada siswa kelas II Sdn 67 Pekanbaru... Dengan usia tersebut tentu memiliki dampak yang signifikan pada pertumbuhan dan perkembangannya Subarkah, 2019. Dampak tersebut bisa berupa kecanduan gadget karena terlalu sering menggunakannya Jey & Mau, 2021. Bahkan dampak yang lebih buruk lagi adalah terkena sinar radiasi dari gadget itu sendiri Saniyyah et al., 2021. ...Muharrahman Muharrahman Novita LokaAdzhani SyarfinaNovita SariDi era society permainan tradisional petak umpet sudah mulai hilang dan sangat sulit ditemukan. Saat ini anak-anak lebih menyukai permainan modern yang ada di gadget. Bertujuan untuk mengetahui apakah permainan ini masih digunakan atau tidak dengan zaman teknologi sekarang ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data berupa observasi dan wawancara melalui google form dengan 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional petak umpet masih digunakan oleh anak-anak pada usia dini. Seperti hasil wawancara bahwa 96,7% responden mengatakan permainan ini sudah mulai hilang dengan hadirnya gadget. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan terus mensosialisasikan permainan tradisional khususnya petak umpet pada anak usia dini. agar warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi ini tidak hilang ditelan zaman... Kemajuan teknologi salah satunya ditandai oleh hadirnya alat komunikasi yang dapat membantu meringankan pekerjaan dan memudahkan manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari, salah satunya adalah gadget. Gadget menurut Jey & Mau, 2021 adalah alat yang digunakan untuk memudahkan dalam mencasi informasi dan berkomunikasi. ...Riswati AshifaYulianti YuliantiYona WahyuningsihThis study aims to provide an overview of the Effect of Gadget Use on Social Behavior and Learning Achievement in Social Studies Learning in Elementary Schools. The method we use in this research is descriptive qualitative. This descriptive research is based on the results of the relevant data or literature sources that we have collected. Social sciences are subjects that are taught starting from elementary school using social science materials to study human relations as members of society. The results of this study are the use of gadgets in learning can facilitate obtaining information and improve social skills if used wisely. Gadgets have interesting features for students to use in learning so that students have high learning motivation which affects learning achievement. However, on the other hand, gadgets have negative effects such as addiction, and difficulty interacting and communicating well. The efforts made are that gadgets are used for learning purposes, time restrictions, reward, and punishment, as well as teacher and parent cooperation... Perkembangan teknologi ditandai oleh kemajuan pada bidang teknologi seperti munculnya alat-alat komunikasi yang disebut gawai Seto et al., 2021. Dengan adanya teknologi kehidupan manusia menjadi lebih mudah dalam melakukan kegiatan sehari hari, karena dapat berkomunikasi dan memperoleh informasi Jey & Mau, 2021. ...Nurhati NurhatiPrima Gusti YantiTujuan diadakan penelitian ini guna melihat pengaruh penggunaan gawai terhadap prestasi belajar. Peneliti menggunakan metode kuantitatif asosiatif, dengan populasi seluruh siswa kelas IV SDN Pengasinan VIII Kota Bekasi tahun ajaran 2021-2022 berjumlah 124 siswa. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling berjumlah 44 siswa. Data dianalisis dengan regresi linier sederhana yang terdiri dari uji t dan koefisien determinasi R². Diketahui persamaan regresi linier sederhana yaitu Y = + 0,215X. Hasil hipotesis menunjukkan bahwa thitung > ttabel 3,864 > 2,018 sedangkan nilai sig. 0,000 < 0,05. Kemudian didapatkan nilai koefisien determinasi R² senilai 0,155 artinya bahwa penggunaan gawai mempengaruhi prestasi belajar sebesar 15,5%, sisa sebesar 84,5 % disebabkan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian Alat Ukur Blackberry AddictA FathoniR JohnsonK MorrowL YuwantoFathoni A, R., "Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak Usia Dini." Http// 10/Pengaruhgadget-Terha ml. Hamdani. Strategi Belajar Mengajar. Bandung Pustaka Setia, 2011. Johnson, K. and K. Morrow. Communication in the Classroom Applications and Methods for a Communicative Approach. Oxford Oxford University Press, 1981. L., Yuwanto. "Pengembangan Alat Ukur Blackberry Addict." Jurnal Proceeding Pessat 05 Oktober 2013.Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di SekolahAsmani Ma'murJamalMa'mur, Asmani Jamal. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta Diva Presss, 2013. Misdayanti. Penguatan dan Inovasi Pelayanan Kesehatan dalam Era Revalusi Industry Kendari UHO Edupress, Penggunaan Gadget terhadap Tingkat Prestasi That are Easy to Carry Anywhere forMohammad NazirPenelitianNazir, Mohammad. Metode Penelitian. Jakarta Penerbit Ghalia Indonesia, 2003. Nurmalasari. "Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Tingkat Prestasi That are Easy to Carry Anywhere for." Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komputer 3, no. 2 2018 Orang Tua dalam Mengatasi Dampak Negatif Penggunaan Gadget pada Anak di Desa Cikatomas Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Provinsi BantenRafid RachmatullahRachmatullah, Rafid. "Peranan Orang Tua dalam Mengatasi Dampak Negatif Penggunaan Gadget pada Anak di Desa Cikatomas Kecamatan Cilograng Kabupaten Lebak Provinsi Banten." Bogor FKIP Unpas, Kepribadian AnakSjarkawi. Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral Intelektual, Emosional dan Sosial sebagai Wujud Membangun Jati Diri. Jakarta PT Bumi Aksara, 2009. Soetjiningsi, Christiana Hari. Seri Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta Kencana, AzimahSubagijo Azimah. Diet dan Detoks Gadget. Jakarta PT Mizan Publika, Pemanfaatan Gadget dalam Aktivitas Belajar untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ppkn Siswa di Kelas Xi Iis Sma Negeri 1 Seputih Mataram. Skripsi. FKIP Universitas Lampung Bandar LampungAtik SusantiDwiSusanti, Atik Dwi. Pengaruh Pemanfaatan Gadget dalam Aktivitas Belajar untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ppkn Siswa di Kelas Xi Iis Sma Negeri 1 Seputih Mataram. Skripsi. FKIP Universitas Lampung Bandar Lampung, 2018. Suwarsi. "Pengaruh Gadget terhadap Perkembangan Anak". Seminar 25 September 2016. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kemunculan gawai telah menjadi penanda semakin majunya teknologi. Hampir semua penumpang Bus Rapid Trans Semarang, mulai anak-anak sampai dewasa pastilah sibuk dengan gawainya masing-masing. Misalnya, Andi asyik mendengarkan musik. Akhirnya, bus yang ditumpangi telah melewati halte tujuannya. Bahkan, gawai telah membuat seseorang menjadi kaum rebahan, maka Grabfood menjadi itu Gawai? Mungkin, sebagian orang masih asing mendengar kata "Gawai". Padahal, setiap hari gawai selalu menemani. Gawai ialah alat komunikasi modern yang keberadaannya semakin mempermudah kegiatan komunikasi manusia Pebriana, 2017. Sedangkan, kata gawai menurut KKBI artinya sebuah perangkat kecil yang memiliki fungsi istimewa Witarsa, Hadi, Nurhanik, & Haerani, 2018. Jenis-Jenis GawaiJenis-jenis gawai yang biasa masyarakat temukan bahkan gunakan Pertama, terdapat Iphone yang dirancang serta dipasarkan oleh perusahaan Apple. Kedua, terdapat Ipad yang merupakan produk komputer tablet dibuat oleh Apple, bentuknya hampir mirip seperti Ipad Thouch serta Iphone. Namun, ukurannya lebih besar daripada Ipad Thouch serta Iphone. Ketiga, terdapat Netbook yaitu komputer jinjing. Keempat, terdapat Handphone. Fungsi dasarnya sama seperti telepon kabel, tapi bisa dibawa kemanapun tanpa kabel Rawan, 2013.Fungsi GawaiUmumnya, gawai digunakan hanya sebagai alat komunikasi sehari-hari. Jika kreatif, maka gawai bisa menjadi media untuk berbisnis serta lainnya Lioni, Holillulloh, & Nurmalisa, 2014. Pengaruh Penggunaan GawaiPenggunaan gawai berpengaruh positif serta negatif bagi si pengguna. Pengaruh positif yang diakibatkan dari penggunaan gawai Pertama, gawai memudahkan satu sama lain dalam berinteraksi melalui media sosial. Kedua, mampu mempersingkat waktu serta jarak. Karena, saat ini hubungan jarak jauh bukan menjadi suatu permasalahan Harfiyanto, Utomo, & Budi, 2015. Kemudian, pengaruh negatif yang diakibatkan dari penggunaan gawai Pertama, menjadikan berkurangnya intensitas untuk bisa mengobrol secara langsung. Padahal, mengobrol secara langsung diperlukan guna memupuk rasa keakraban satu sama lain. Sehingga, tidak menjadikan seseorang tersebut tergolong apatis. Kedua, menjadikan seseorang malas bergerak atau melakukan aktivitas yang Memengaruhi Penggunaan Gawai 1 2 Lihat Gadget Selengkapnya Dampak penggunaan hp terhadap interaksi sosial masyarakat indonesia. Jika kamu sedang mencari artikel dampak penggunaan hp terhadap interaksi sosial masyarakat indonesia terbaru, berarti kamu sudah berada di website yang benar. Yuk langsung aja kita simak penjelasan dampak penggunaan hp terhadap interaksi sosial masyarakat indonesia berikut ini. Dampak Penggunaan Hp Terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Indonesia. Penggunaan teknologi dari masyarakat menjadikan dunia teknologi semakin lama semakin canggih. Komunikasi yang dulunya memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya kini dengan teknologi segalanya menjadi sangat dekat dan tanpa jarak. Pengaruh Terhadap Persaingan 2Pengaruh Terhadap Pribadi 3. 133111018 FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN. Contoh Poster Lingkungan Iklan Layanan Masyarakat Poster Lingkungan Hidup From Contoh soal bahasa inggris kelas 8 semester 2 Contoh poster walaupun berbeda beda kita adalah satu Contoh soal cerita aljabar kelas 7 dan pembahasannya Contoh soal aplikasi trigonometri dalam kehidupan sehari hari Contoh soal barisan dan deret geometri tak hingga Contoh power point seminar proposal skripsi teknik informatika Besar Bahasa Indonesia gadget disebut sebagai peranti elektronik atau. DAMPAK PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA DI MAN CIREBON 1 KABUPATEN CIREBON SKRIPSI Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam SPdI pada Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri IAIN Syekh Nurjati Cirebon Oleh. Memberikan peluang yang besar membantu akses cepat untuk mengetahui dunia media sosial dengan mudah dan juga membantu mempermudah dalam menyelesaikan tugas. Pengaruh Terhadap Persaingan 2Pengaruh Terhadap Pribadi 3. PENGARUH PENGGUNAAN GADGET TERHADAP POLA INTERAKSI SOSIAL Studi Kasus terhadap mahasiswa sosiologi stisipol raja haji tanjungpinang kepulauan riau USULAN PENELITIAN Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti mata kuliah metode penelitian kualitatif pada sekolah Tinggi Ilmu sosial dan Ilmu Politik raja haji Oleh. Pengaruh Penggunaan HP dalam Lingkungan Sekolah diakses dari. Mempengaruhi masyarakat untuk menggunakan smartphone di Desa Tiroau Timur Kecamatan Tomia Timur Kabupaten Wakatobi. Dampak positif dari penggunaan gadget. Gadget atau teknologi smartphone ini sangat memwngaruhi hubungn terhadap keluarga dan perbincangan terhadap teman disekitar kita juga anak sendiri karena interaksi sosial terhadap lingkungan sekitar yang sedikit demi sedikit mengikis keharmonisan karena pengaruh smartphone yang lebih menarik. 2 Juli-Desember 2018 Jurnal Al-IjtimaiyyahVol. Sebuah konflik dapat terjadi apabila dalam interaksi diikuti proses KASANOVA NIM. Interaksi sosial remaja secara tatap muka itu sendiri dilihat dari lamanya waktu serta intensitas tingkat keluasan atau banyaknya topik pembicaraan interaksi tatap muka Secara teoritik dampak telepon genggam adalah suatu pengaruh yang kuat atas penggunaan telepon genggam untuk mendatangkan akibat yang diharapkan positif dan akibat yang tidak diharapkan negatif dalam kehidupan sehari-hari. 2 Juli-Desember 2018 Jurnal Al-IjtimaiyyahVol. Kecanduan terhadap smartphone dalam hal ini membuat status sosial masyarakat semakin terpojok karna kurang kebijakan bagaimana cara penggunaan smartphone dengan bijak dan benar. 2 Untuk mengetahui dampak penggunaan smartphone terhadap aktivitas kehidupan masyarakat di Desa Tiroau Timur Kecamatan Tomia Timur Kabupaten Wakatobi. Source 133111018 FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN. Dampak penggunaan gadget bagi meliana annisa. Dampak Media Sosial Terhadap Perilaku Sosial Anak di Kota Makassar. Bila digunakan secara bijaksana maka smartphone sangat membantu dalam berkomunikasi. Pengaruh tehadap prestise 1Pengaruh terhadap persaingan Banyak cara untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan menggunakan komputer 2Pengaruh terhadap pribadi Selain kegunaan nya dalam bidang. HP tidak hanya bisa digunakan untuk menerima dan menelepon tetapi juga PENGGUNAAN GADGET TERHADAP POLA INTERAKSI SOSIAL Studi Kasus terhadap mahasiswa sosiologi stisipol raja haji tanjungpinang kepulauan riau USULAN PENELITIAN Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti mata kuliah metode penelitian kualitatif pada sekolah Tinggi Ilmu sosial dan Ilmu Politik raja haji Oleh. Gunakan Media Sosial Secara Bijak Ambil Yang Positif. Dengan kata lain revolusi dalam berkomunikasi di Indonesia sudah memasuki tahap baru dengan kehadiran HP. Sebuah konflik dapat terjadi apabila dalam interaksi diikuti proses dominasi. Source Memiliki handphone HP sepertinya telah menjadi kebutuhan nyaris primer bagi masyarakat Indonesia. Penggunaan Handphone Bagi Masyarakat Kehadiran handphone yang membanjiri kota-kota di Indonesia telah membentuk aktivitas komunikasi tersendiri. Mempengaruhi masyarakat untuk menggunakan smartphone di Desa Tiroau Timur Kecamatan Tomia Timur Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilakukan di. Gadget atau teknologi smartphone ini sangat memwngaruhi hubungn terhadap keluarga dan perbincangan terhadap teman disekitar kita juga anak sendiri karena interaksi sosial terhadap lingkungan sekitar yang sedikit demi sedikit mengikis keharmonisan karena pengaruh smartphone yang lebih menarik. Berkembangnya teknologi komunikasi membawa banyak pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat. Dampak penggunaan gadget bagi meliana annisa. Komunikasi yang dulunya memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya kini dengan teknologi segalanya menjadi sangat dekat dan tanpa jarak. Interaksi sosial yang selama melupakan kehidupan sosialnya karena terlalu fokus dalam menggunakan teknologi dalah kehidupan sehari-hari lalu kehilangan rasa empati terhadap sesama makhluk hidup dan ada banyak informasi yang beredar tanpa diketahui mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan Gadget. 133111018 FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN. Penggunaan teknologi dari masyarakat menjadikan dunia teknologi semakin lama semakin canggih. LIA LUTFIANA NIM. Source Sebuah konflik dapat terjadi apabila dalam interaksi diikuti proses dominasi. Besar Bahasa Indonesia gadget disebut sebagai peranti elektronik atau. Dampak Media Sosial Terhadap Perilaku Sosial Anak di Kota Makassar. Gadget interaksi sosial keluarga. Komunikasi yang dulunya memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya kini dengan teknologi segalanya menjadi sangat dekat dan tanpa jarak. DAMPAK PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA DI MAN CIREBON 1 KABUPATEN CIREBON SKRIPSI Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam SPdI pada Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri IAIN Syekh Nurjati Cirebon Oleh. Besar Bahasa Indonesia gadget disebut sebagai peranti elektronik atau. Salah satu teknologi yang saat ini sedang trend di masyarakat Indonesia adalah Handphone HP. Dampak Media Sosial Terhadap Perilaku Sosial Anak di Kota Makassar. Seperti melupakan kehidupan sosialnya karena terlalu fokus dalam menggunakan teknologi dalah kehidupan sehari-hari lalu kehilangan rasa empati terhadap sesama makhluk hidup dan ada banyak informasi yang beredar tanpa diketahui mana yang bisa dipercaya dan mana yang interaksi sosial pada mahasiswa semester V Lima Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Islam Negeri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggunaan Handphone Bagi Masyarakat Kehadiran handphone yang membanjiri kota-kota di Indonesia telah membentuk aktivitas komunikasi tersendiri. Dampak Media Sosial Terhadap Perilaku Sosial Anak di Kota Makassar. Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Vol. Source Dengan demikian dapat dilihat pengaruh atas penggunaan gadget tersebut terhadap interaksi sosial dalam keluarga. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dominasi merupakan penguasaan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Dengan kata lain revolusi dalam berkomunikasi di Indonesia sudah memasuki tahap baru dengan kehadiran HP. Seperti melupakan kehidupan sosialnya karena terlalu fokus dalam menggunakan teknologi dalah kehidupan sehari-hari lalu kehilangan rasa empati terhadap sesama makhluk hidup dan ada banyak informasi yang beredar tanpa diketahui mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. HP tidak hanya bisa digunakan untuk menerima dan menelepon tetapi juga penggunaan gadget bagi meliana annisa. Pengaruh Terhadap sosial masyarakat 4. Anggota keluarga dapat mempengaruhi pola interaksi sosial dalam keluarga secara menyeluruh. Komunikasi yang dulunya memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya kini dengan teknologi segalanya menjadi sangat dekat dan tanpa jarak. PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN ALAT KOMUNIKASI HP ANDROID TERHADAP AKHLAK SOSIAL DI SEKOLAH SISWA SMK MAARIF NU 01 SEMARANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam Oleh. Source PENGARUH PENGGUNAAN GADGET TERHADAP POLA INTERAKSI SOSIAL Studi Kasus terhadap mahasiswa sosiologi stisipol raja haji tanjungpinang kepulauan riau USULAN PENELITIAN Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti mata kuliah metode penelitian kualitatif pada sekolah Tinggi Ilmu sosial dan Ilmu Politik raja haji Oleh. Sebuah konflik dapat terjadi apabila dalam interaksi diikuti proses dominasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilakukan di. Dampak positif dari penggunaan gadget. Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Interaksi Sosial Anak usia 5-6 Tahun Vol. Memberikan peluang yang besar membantu akses cepat untuk mengetahui dunia media sosial dengan mudah dan juga membantu mempermudah dalam menyelesaikan sisi lain interaksi antarkelompok sosial juga bisa menyebabkan konflik apabila muncul ketidakseimbangan kekuatan dalam interaksi tersebut. Memberikan peluang yang besar membantu akses cepat untuk mengetahui dunia media sosial dengan mudah dan juga membantu mempermudah dalam menyelesaikan tugas. Berkembangnya teknologi komunikasi membawa banyak pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat. EDO KASANOVA NIM. Source Pengaruh tehadap prestise 1Pengaruh terhadap persaingan Banyak cara untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan menggunakan komputer 2Pengaruh terhadap pribadi Selain kegunaan nya dalam bidang. DAMPAK PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PERILAKU SOSIAL SISWA DI MAN CIREBON 1 KABUPATEN CIREBON SKRIPSI Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam SPdI pada Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri IAIN Syekh Nurjati Cirebon Oleh. 2 Juli-Desember 2018 Jurnal Al-IjtimaiyyahVol. Pengaruh Terhadap Persaingan 2Pengaruh Terhadap Pribadi 3. Dalam masyarakat indonesia dewasa ini fungsi di keluarga sosial yang selama ini. LIA LUTFIANA NIM. Dengan kata lain revolusi dalam berkomunikasi di Indonesia sudah memasuki tahap baru dengan kehadiran HP. EDO KASANOVA NIM. Sosial IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan FITK Universitas Islam Negeri UIN Jakarta. Source Dampak Media Sosial Terhadap Perilaku Sosial Anak di Kota Makassar. Pengaruh tehadap prestise 1Pengaruh terhadap persaingan Banyak cara untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan menggunakan komputer 2Pengaruh terhadap pribadi Selain kegunaan nya dalam bidang. Seperti melupakan kehidupan sosialnya karena terlalu fokus dalam menggunakan teknologi dalah kehidupan sehari-hari lalu kehilangan rasa empati terhadap sesama makhluk hidup dan ada banyak informasi yang beredar tanpa diketahui mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dominasi merupakan penguasaan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Memiliki handphone HP sepertinya telah menjadi kebutuhan nyaris primer bagi masyarakat Indonesia. Penggunaan teknologi dari masyarakat menjadikan dunia teknologi semakin lama semakin INTENSITAS PENGGUNAAN ALAT KOMUNIKASI HP ANDROID TERHADAP AKHLAK SOSIAL DI SEKOLAH SISWA SMK MAARIF NU 01 SEMARANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam Oleh. Sosial IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan FITK Universitas Islam Negeri UIN Jakarta. HP Monokrom yang hanya dapat digunakan untuk mengirim pesan singkat dan menelepon semakin ditinggalkan masyarakat. Mengurangi keakraban antar teman hilangnya interkasi dalam pertemanan karena asyik bermain gadget pada saat. Source HP Monokrom yang hanya dapat digunakan untuk mengirim pesan singkat dan menelepon semakin ditinggalkan masyarakat. Pengaruh Penggunaan HP dalam Lingkungan Sekolah diakses dari. Pengaruh Terhadap Persaingan 2Pengaruh Terhadap Pribadi 3. Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Vol. Pengaruh tehadap prestise 1Pengaruh terhadap persaingan Banyak cara untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan menggunakan komputer 2Pengaruh terhadap pribadi Selain kegunaan nya dalam bidang. Situs ini adalah komunitas terbuka bagi pengguna untuk berbagi apa yang mereka cari di internet, semua konten atau gambar di situs web ini hanya untuk penggunaan pribadi, sangat dilarang untuk menggunakan artikel ini untuk tujuan komersial, jika Anda adalah penulisnya dan menemukan gambar ini dibagikan tanpa izin Anda, silakan ajukan laporan DMCA kepada Kami. Jika Anda menemukan situs ini bermanfaat, tolong dukung kami dengan membagikan postingan ini ke akun media sosial seperti Facebook, Instagram dan sebagainya atau bisa juga save halaman blog ini dengan judul dampak penggunaan hp terhadap interaksi sosial masyarakat indonesia dengan menggunakan Ctrl + D untuk perangkat laptop dengan sistem operasi Windows atau Command + D untuk laptop dengan sistem operasi Apple. Jika Anda menggunakan smartphone, Anda juga dapat menggunakan menu laci dari browser yang Anda gunakan. Baik itu sistem operasi Windows, Mac, iOS, atau Android, Anda tetap dapat menandai situs web ini.

dampak penggunaan hp terhadap interaksi sosial masyarakat indonesia